Senin, 30 Mei 2016

SYEIKH MUHAMMAD AL-BANTANI AL-JAWI ASY-SYAFII

JASAD DAN KAIN KAFAN SYEIKH MUHAMMAD AL-BANTANI AL-JAWI ASY-SYAFII MASIH UTUH HINGGA SEKARANG, WAFAT TAHUN 1897 M
Syaikh Muhammad Nawawi al-Jawi al-Bantani (bahasa Arab: محمد نووي الجاوي البنتني, lahir di Tanara, Serang, 1230 H/1813 M - meninggal di Mekkah, 1314 H/1897 M) adalah seorang ulama Indonesia yang terkenal di mancanegara (ulama Indonesia bertaraf internasional) dan Imam Masjidil Haram. Ia bergelar al-Bantani karena ia berasal dari Banten, Indonesia. Ia adalah seorang ulama dan intelektual yang sangat produktif menulis kitab, yang meliputi bidang-bidang fiqih, tauhid, tasawuf, tafsir, dan hadis. Jumlah karyanya mencapai tidak kurang dari 115 kitab. Karena kemasyhurannya, Syekh Nawawi Al-Bantani dijuluki Sayyid Ulama Al-Hijaz (Pemimpin 'Ulama Hijaz), Al-Imam Al-Muhaqqiq wa Al-Fahhamah Al-Mudaqqiq (Imam yang Mumpuni ilmunya), A’yan Ulama Al-Qarn Al-Ram Asyar li Al-Hijrah (Tokoh 'Ulama Abad 14 H), Imam Ulama’ Al-Haramain (Imam 'Ulama Dua Kota Suci).
Banyak murid-muridnya yang di belakang hari menjadi ulama besar, misalnya:
K.H. Hasyim Asyari (Pendiri Nahdhatul Ulama),
K.H. Ahmad Dahlan (Pendiri Muhammadiyah),
Syeh K.H Mas Abdurahman (Pendiri Mathla'ul Anwar)
K.H. Khalil Bangkalan,
K.H. Asnawi Kudus,
Syekh Tubagus Ahmad Bakri as-Sampuri Sempur, Plered, Purwakarta,
K.H. Arsyad Thawil, dan lain-lainnya.
Kiai Hasan Genggong, dari Pesantren Zainul Hasan Genggong, Genggong.
JASAD DAN KAIN KAFANNYA MASIH HINGGA HARI INI
Telah menjadi kebijakan Pemerintah Arab Saudi bahwa orang yang telah dikubur selama setahun kuburannya harus digali. Tulang belulang si mayat kemudian diambil dan disatukan dengan tulang belulang mayat lainnya. Selanjutnya semua tulang itu dikuburkan di tempat lain di luar kota. Lubang kubur yang dibongkar dibiarkan tetap terbuka hingga datang jenazah berikutnya terus silih berganti. Kebijakan ini dijalankan tanpa pandang bulu. Siapapun dia, pejabat atau orang biasa, saudagar kaya atau orang miskin, sama terkena kebijakan tersebut. Inilah yang juga menimpa makam Syaikh Nawawi. Setelah kuburnya genap berusia satu tahun, datanglah petugas dari pemerintah kota untuk menggali kuburnya. Tetapi yang terjadi adalah hal yang tak lazim. Para petugas kuburan itu tak menemukan tulang belulang seperti biasanya. Yang mereka temukan adalah satu jasad yang masih utuh. Tidak kurang satu apapun, tidak lecet atau tanda-tanda pembusukan seperti lazimnya jenazah yang telah lama dikubur. Bahkan kain putih kafan penutup jasad dia tidak sobek dan tidak lapuk sedikitpun.
Terang saja kejadian ini mengejutkan para petugas. Mereka lari berhamburan mendatangi atasannya dan menceritakan apa yang telah terjadi. Setelah diteliti, sang atasan kemudian menyadari bahwa makam yang digali itu bukan makam orang sembarangan. Langkah strategis lalu diambil. Pemerintah melarang membongkar makam tersebut. Jasad dia lalu dikuburkan kembali seperti sediakala. Hingga sekarang makam dia tetap berada di Ma΄la, Mekah.

Abah Anom " Menyadarkan Kyai Sakti "

Menyadarkan Kyai Sakti
Diceritakan Bapak Etje Juardi, ada Ulama yang dikenal sakti namanya Kyai Jured.
Suatu hari Kiai tersebut memiliki rencana untuk menguji karomah Abah Anom dengan kesaktian yang dimilikinya.
Kiai tersebut datang ke Pondok Pesantren Suryalaya dengan satu bis yang membawa 70 santrinya. Semua santri disebar disekitar Pesantren Suryalaya, setelah Kiai itu masuk ke halaman Abah Anom, tidak disangka Abah Anom sudah berada didepan madrasah dan menyuruh Kiai untuk masuk ke madrasah Abah Anom bersama 70 santrinya yang telah disebar. Kiai tersebut merasa kaget akan kasyaf (penglihatan batin)nya Mursyid TQN. Abah Anom meminta Kiai tersebut dan para santrinya untuk makan dahulu yang telah Beliau sediakan di madrasah.
Di dalam madrasah Kiai memuji Abah Anom tentang pesantren Beliau yang sangat luas nan indah, tetapi dibumbui kritik secara halus tentang kekurangan pesantrenya yaitu tidak adanya burung cendrawasih, burung yang terkenal akan bulunya yang indah. Beliau hanya tersenyum dan menimpalinya dengan jawaban yang singkat : “Tentu saja Kiai”. Suatu di luar jangkauan akal setelah jawaban itu burung cendrawasih yang berbulu indah melayang-layang di dalam madrasah yang sesekali hinggap. Kejadian itu membuat terpesonanya akan karomah yang dimiliki Beliau, Kiai itu diam seribu bahasa.
Keajaiban lagi, ketika makan dengan para santrinya yang 70 pun nasi yang di sediakan dalam bakul kecil itu tidak pernah habis.
Namun, Kiai ini masih penasaran dan tidak mau kalah begitu saja, setelah makan Kiai tersebut meminta kepada Beliau untuk mengangkat kopeah/peci yang telah “diisi“, yang sebelumnya dicoba oleh para santrinya tidak terangkat sedikitpun. Subhanallah .. hanya dengan tepukan tangan Abah Anom ke lantai kopeah itu melayang-layang.
Selanjutnya Kiai tersebut mengeluarkan batu yang telah disediakan sebelumnya, dan batu itu dipukul dengan “kekuatan” tangannya sendiri sehingga terbelah menjadi dua, sedangkan belahannya diberikan kepada Abah Anom. Kiai itu meminta kepada Abah Anom untuk memukulnya sebagaimana yang telah dicontohkannya.
Abah Anom mengatakan kepada kiai itu : “Abah tidak bisa apa-apa, baiklah” selanjutnya batu itu diusap oleh tangan Abah dan batu itu menjadi air ,subhanallah…
Kiai menguji lagi karomah Abah Anom dengan kelapa yang telah dibawa santri dari daerahnya. Kiai tersebut meminta yang aneh-aneh kepada Abah Anom agar isi dalam kelapa tersebut ada ikan yang memiliki sifat dan bentuk tertentu.
Dengan tawadlunya Abah Anom menjawab: “Masya Allah, kenapa permintaan kiai ke Abah berlebihan?, Abah tidak bisa apa-apa .
Selanjutnya Abah Anom berkata : “ Baiklah kalau begitu, kita memohon kepada Allah. Mudah-mudahan Allah mengabulkan kita”. Setelah berdoa Beliau menyuruh kelapa itu untuk dibelah dua, dan dengan izin Allah didalam kelapa itu ada ikan yang sesuai dengan permintaan sang kiai. Subhanalllah…
Selanjutnya, entah darimana datangnya di tangan Abah Anom sudah ada ketepel, dan ketepel itu diarahkan atau ditembakan kelangit-langit madrasah, sungguh diluar jangkauan akal, muncul dari langit-langit burung putih yang jatuh dihadapan Kiai dan Beliau
Setelah kejadian itu, Kiai menangis dipangkuan Abah Anom Akhirnya Kiai memohon kepada Abah Anom untuk diangkat menjadi muridnya.
Kiai itu ditalqin dzikir TQN Setelah ditalqin Kiai menangis dipangkuan Abah Anom sampai tertidur. Anehnya, Bangun dari tidur sudah berada dimesjid. Subhanallah

Rabu, 25 Mei 2016

100 AKHLAK PRILAKU RASULULLAH

100 AKHLAK PRILAKU RASULULLAH SEMOGA KITA BISA MENCONTOH
Al-Imam Jakfar Shadiq RA berkata "Saya tidak ingin seseorang meninggal dunia sementara ia belum mengetahui sebagian perilaku Rasulullah Saw."
1. Ketika berjalan, beliau berjalan secara pelan-pelan dan wibawa.
2. Ketika berjalan, beliau tidak menyeret langkah kakinya.
3. Pandangan beliau selalu mengarah ke bawah.
4. Beliau senantiasa mengawali salam kepada siapa saja yang dilihatnya... tidak ada seorangpun yang mendahuluinya dalam mengucapkan salam.
5. Ketika menjabat tangan seseorang, beliau tidak pernah melepaskannya terlebih dahulu.
6. Beliau bergaul dengan masyarakat sedemikian rupa sehingga setiap orang berpikir bahwa dirinya adalah satu-satunya orang yang paling mulia di mata Rasulullah.
7. Bila memandang seseorang, beliau tidak memandang sinis bak pejabat pemerintah.
8. Beliau tidak pernah memelototi wajah seseorang.
9. Beliau senantiasa menggunakan tangan saat mengiyaratkan sesuatu dan tidak pernah mengisyaratkan dengan mata atau alis.
10. Beliau lebih banyak diam dan baru akan berbicara bila perlu.
11. Saat bercakap-cakap dengan seseorang, beliau mendengarkan dengan baik.
12. Senantiasa menghadap kepada orang yang berbicara dengannya.
13. Tidak pernah berdiri terlebih dahulu selama orang yang duduk bersamanya tidak ingin berdiri.
14. Tidak akan duduk dan berdiri dalam sebuah pertemuan melainkan denganu mengingat Allah.
15. Ketika masuk ke dalam sebuah pertemuan, beliau senantiasa duduk di tempat yang akhir dan dekat pintu, bukan di bagian depan.
16. Tidak menentukan satu tempat khusus untuk dirinya dan bahkan melarangnya.
17. Tidak pernah bersandar saat di hadapan masyarakat.
18. Kebanyakan duduknya menghadap kiblat.
19. Bila di hadapannya terjadi sesuatu yang tidak disukainya, beliauu senantiasa mengabaikannya.
20. Bila seseorang melakukan kesalahan, beliau tidak pernah menyampaikannya kepada orang lain.
21. Tidak pernah mencela seseorang yang mengalami kesalahan bicara.
22. Tidak pernah berdebat dan berselisih dengan siapapun.
23. Tidak pernah memotong pembicaraan orang lain kecuali bila orang tersebut bicara sia-sia dan batil.
24. Senantiasa mengulang-ulangan jawabanya atas sebuah pertanyaan agar jawabannya tidak membingungkan pendengarnya.
25. Bila mendengar ucapan yang tidak baik dari sesebbvjorang, beliau tidak mengatakan mengapa si fulan berkata demikian, tapi beliau mengatakan, bagaimana mungkin sebagian orang mengatakan demikian?"
26. Banyak bergaul dengan fakir miskin dan makan bersama mereka.
27. Menerima undangan para abdi dan budak.
28. Senantiasa menerima hadiah, meski hanya seteguk susu.
29. Melakukan silaturahmi lebih dari yang lain.
30. Senantiasa berbuat baik kepada keluarganya tapi tidak melebihkan mereka dari yang lain.
31. Senantiasa memuji dan mendukung pekerjaan yang baik dan menilai buruk dan melarang perbuatan yang jelek.
32. Senantiasa menyampaikan hal-hal yangu menyebabkan kebaikan agamau dan dunia masyarakat kepada mereka dan berkaliu-kali mengatakan, "Orang-orang yang hadir hendaknya menyampaikan segala yang didengarnya kepada orang-orang yang tidak hadir."
33. Senantiasau menerima uzur orang-orang yang punya uzur.
34. Tidak pernah merendahkan seseorang.
35. Tidak pernah memaki atau memanggil seseorang dengan gelar yang jelek.u
36. Tidak pernah mengutuk orang-orang sekitar dan familinya.u
37. Tidak pernah mencari-cari aibj orang lain.
38. Senantiasa menghindari kejahatan masyarakat, namun tidak pernah menghidar dari mereka dan beliau selalu bersikap baik kepada semua orang.
39. Tidak pernah mencaci masyarakat dan tidak banyak memuji mereka.
40. Senantiasa bersabar menghadapi kekurangajaran orang lain dan membalas kejelekan mereka dengan kebaikan.
41. Selalu menjenguk orang yang sakit, meski tempat tinggalnya dipinggiran Madinah yang sangat jauh.
42. Senantiasa menanyakan kabar dan keadaan para sahabatnya.
43. Senantiasa memanggil nama sahabat-sahabatnya dengan panggilan yang terbaik.
44. Sering bermusyawarah dengan para sahabatnya dan menekankan untuk melakukannya.
45. Senantiasa duduk melingkar bersama para sahabatnya, sehingga bila ada orang yang baru datang, ia tidak bisa membedakan di antara mereka yang manakah Rasulullah.
46. Akrab dan dekat dengan para sahabatnya.
47. Beliau adalah orang yang paling setia dalam menepati janji.
48. Senantiasa memberikan sesuatu kepada fakir miskin dengan tangannya sendiri dan tidak pernah mewakilkannya kepada orang lain.
49. Bila sedang dalam shalat ada orang datang, beliau memendekkan shalatnya.
50. Bila sedang shalat ada anak kecil menangis, beliau memendekkan shalatnya.
51. Orang yang paling mulia di sisi beliau adalah orang yang paling banyak berbuat baik kepada orang lain.
52. Tidak ada seorangpun yang putus asa dari Rasulullah Saw. Beliau selalu mengatakan, "Sampaikan kebutuhan orang yang tidak bisa menyampaikan kebutuhannya kepada saya!"
53. Bila ada seseorang membutuhkan sesuatu kepada beliau, Rasulullah Saw pasti memenuhinya bila mampu, namun bila tidak mampu beliau menjawabnya dengan ucapan atauh janji yang baik.
54. Tidak pernah menolak permintaan seseorang, kecuali permintaan untuk maksiat.
55. Beliau sangat menghormati orang tua dan menyayangi anak-anak.
56. Rasulullah Saw sangat menjaga perasaan orang-orang asing.
57. Beliau selalu menarik perhatian orang-orang jahat dan membuat mereka cenderung kepadanya dengan cara berbuat baik kepada mereka.
58. Beliau senantiasa tersenyum sementara pada saat yang sama beliau sangat takut kepada Allah.
59. Saat gembira, Rasulullah Saw memejamkan kedua matanya dan tidak banyak menunjukkan kegembiraannya.
60. Tertawanya kebanyakan berupa senyuman dan tidak pernah tertawa terbahak-bahak.
61. Beliau banyak bercanda namun tidak pernah mengeluarkan ucapan sia-sia atau batil karena bercanda.
62. Rasulullah Saw mengubah nama yang jelek dengan nama yang baik.
63. Kesabarannya mendahului kemarahannya.
64. Tidak sedih dan marah karena kehilangan dunia.
65. Saat marah karena Allah, tidak seoranpun yang akan mengenalnya.
66. Rasulullah Saw tidak pernah membalas dendam karena dirinya sendiri melainkan bila kebenaran terinjak-injak.
67. Tidak ada sifat yang paling dibenci oleh Rasulullah selain bohong.
68. Dalam kondisi senang atau susah tidak lain hanya menyebut nama Allah.
69. Beliau tidak pernah menyimpan Dirham maupun Dinar.
70. Dalam hal makanan dan pakaian tidak melebihi yang dimiliki oleh para pembantunya.
71. Duduk dan makan di atas tanah.
72. Tidur di atas tanah.
73. Menjahit sendiri pakaian dan sandalnya.
74. Memerah susu dan mengikat sendiri kaki ontanya.
75. Kendaraan apa saja yang siap untuknya, Rasulullah pasti mengendarainya dan tidak ada beda baginya.
76. Kemana saja pergi, beliau selalu beralaskan abanya sendiri.
77. Baju beliau lebih banyak berwarna putih.
78. Bila memakai baju baru, maka baju sebelumny pasti diberikan kepada fakir miskin.
79. Baju kebesarannya khusus dipakai untuk hari Jumat.
80. Ketika memakai baju dan sandal, beliau memulainya dari sebelah kanan.
81. Beliau menilai makruh rambut yang awut-awutan.
82. Senantiasa berbau harum dan kebanyakan pengeluarannya untuk minyak wangi.
83. Senantiasa dalam kondisi memiliki wudu dan setiap mengambil wudu pasti menyikat giginya.
84. Cahaya mata beliau adalah shalat. Beliau merasa menemukan ketenangan dan ketentraman saat shalat.
85. Beliau senantiasa berpuasa pada tanggal 13, 14 dan 15 setiap bulan.
86. Tidak pernah mencaci nikmat sama sekali.
87. Menganggap besar nikmat Allah yang sedikit.
88. Tidak pernah memuji makanan dan tidak juga mencelanya.
89. Memakan makanan apa saja yang dihidangkan kepadanya.
90. Di depan hidangan makanan beliau senantiasa makan makanan yang ada di depannya.
91. Di depan hidangan makanan, beliau yang paling duluan hadir dan paling akhir meninggalkannya.
92. Tidak akan makan sebelum lapar dan akan berhenti dari makan sebelum kenyang.
93. Tidak pernah makan dua model makanan.
94. Ketika makan tidak pernah sendawa.
95. Sebisa mungkin beliau tidak makan sendirian.
96. Mencuci kedua tangan setelah selesai makan kemudian mengusapkannya ke wajah.
97. Ketika minum, beliau meneguknya sebanyak 3 kali. Awalnya baca Bismillah dan akhirnya baca Alhamdulillah.
98. Rasulullah lebih memiliki rasa malu daripada gadis-gadis pingitan.
99. Bila ingin masuk rumah, beliau meminta izin sampai tiga kali.
100. Waktu di dalam rumah, beliau bagi menjadi tiga bagian : satu bagian untuk Allah, satu bagian untuk keluarga dan satu bagian lagi untuk dirinya sendiri. Sedangkan waktu untuk dirinya sendiri beliau bagi dengan masyarakat.
Semoga kita bisa menjadikan beliau sebagai Panutan

Keburukan meniup Terompet ditahun baru

Terompet itu ditiup oleh bibir-bibir muslimin, sebagai tanda kemenangan bagi kaum kuffar….
Habibana Munzir AL Musawa : Dihadapan kita beberapa hari yang akan datang adalah malam tahun baru, dimana seluruh penduduk bumi memeriahkan malam 1 Januari itu dengan semarak, tak kalah penduduk ibukota Negara Muslimin terbesar di muka bumi ini, ribuan muslimin muslimat ummat Muhammad SAW keluar dari rumah mereka untuk merayakan malam tahun baru, menyiapkan uang yang cukup untuk bergembira.
Padahal uang yang mereka miliki itu setiap peser nya akan ia pertanggung jawabkan dihadapan Allah, mereka memadati jalanan hingga tak pernah ibukota mengalami kemacetan di malam hari seperti kemacetan malam tahun baru, entah apa yang menggembirakan mereka hingga mereka bertahan dan bersabar mengalami kemacetan yang begitu dahsyat.
Barangkali mereka menyambut sorga?, atau mereka merebutkan pembagian rumah atau uang ratusan juta rupiah?, ternyata tidak,mereka hanya merayakan hari tahun baru orang Nasrani belaka, yang tak membawa faedah apa-apa bagi mereka, tak membawa keuntungan apa-apa di dunia dan di akhirat.
Umat Muhammad SAW berjejal memadati jalan raya membawa istrinya, keluarganya, teman temannya, dan menyiapkan terompet demi meramaikan hari nasrani ini. Duh Robbi, semoga hal ini tak membuka pintu kemarahanMu pula hingga menumpahkan musibah dan kesempitan lagi pada kami..,
Saudara-saudaraku jauhilah perayaan malam tahun baru, malam 1 Januari adalah malam paling banyak maksiat ummat Muhammad SAW di muka bumi dalam setahun penuh, malam itu boleh kita namakan : “Malam kegelapan dosa dimuka bumi”. Dimana panggung panggung kemaksiatan ditegakkan, lalu ribuan manusia berjingkrak ria dan mabuk- mabukan berjoget diatas Bumi Allah disaksikan oleh seluruh bintang dilangit, disaksikan oleh jutaan sel tubuhnya yang ikut terlibat dalam gelimang dosa, dan disaksikan oleh Maha Raja Yang Maha Melihat, Yang Maha Menghamparkan Bumi untuk bersujud kepada Nya, merayakan hari ummat yang telah memfitnah Nya mempunyai putra, barangkali arwah ayah ibu meraka menangis menjerit jerit karena disiksa di alam kubur sebab perbuatan mereka, sedang anak-anaknya berjingkrak joget diatas bumi Allah SWT dalam kemaksiatan.
Saudara-saudarku bangkitlah… saudara- saudaraku hindarkanlah dirimu, anak-anakmu, keluargamu, tetanggamu, teman-temanmu, dari merayakan malam itu, hindarkan terompet- terompet tahun baru dari anak-anakmu, terompet itu ditiup oleh bibir-bibir muslimin, sebagai tanda kemenangan bagi kaum kuffar, menandakan anak anak muslimin telah dibawah injakan kaki orang kuffar karena mereka turut memeriahkan perayaan orang-orang yang bukan agamanya, betapa gelapnya pemahaman ayah ibunya, mereka mengeluarkan uangnya demi agar anaknya turut dalam kelompok kuffar, mereka membayar demi tarbiyah (didikan) kekufuran untuk anaknya….
ASTAGFIRULLAHAL ADHIIM… ASTAGFIRULLAHAL ADHIIM…

Mari sama sama kita berdzikir di malam tahun Baru
Maka disaat Pukul 00.00 WIB, dimana menggemanya terompet kemenangan kuffar, maka kita semua pula menyebut lafadh jalaalah : Ya Allahu.. Ya Allah.. Ya Allah..”


___

Kemuliaan Nama Fatimah

Kemuliaan Nama Fathimah
Habib Munzir Al Musawa :
Banyak sekali wanita yg bernama Fathimah Azzahra, tiada lain karena cinta ayah bundanya pada Putri Rasul saw, dan Fathimah Azzahra ra adalah manusia yg paling dicintai Rasul saw dari semua manusia.
nenek saya seorang wanita Shalihah yg wafat dan dimakamkan di Pemalang, cahaya muncul dari kuburnya selama berbulan bulan setelah wafatnya, nama beliau Fathimah Azzahra, demikian pula putri saya, saya namai Fathimah zzahra.
banyak sekali para ulama yg memberi nama itu ketika dimintai memberi nama anak perempuan.

Buatlah ikatan dengan Rasulullah saw agar dijauhkan dari api neraka

Buatlah ikatan dengan Rasulullah saw agar dijauhkan dari api neraka
Suatu ketika Sayyidina Anas bin Malik Radhiyallahu 'anhu mengusap wajahnya dengan sapu tangan,lalu memberikannya kepada pembantunya agar sapu tangan itu dibersihkan
Tiba-tiba pembantu itu memasukkan sapu tangan tadi kedalam api hingga terbakar semua kotoran yang menempel.
Namun yang menghairankan tak lama kemudian pembantu itu menarik sesuatu dari api tadi.
Ternyata sapu tangan yang tadi dilemparnya tidak habis terbakar,bahkan masih tetap sempurna dan menjadi jernih kerana kotoran yang menempel padanya terbakar.
Melihat kejadian yang menakjubkan itu seseorang bertanya,"Sapu tangan apakah itu?" Anas menjawab,"Sapu tangan itu pernah bercampur dengan keringat Rasulullah صلى الله عليه و سلم saat ia mengusap wajahnya dengannya
Bukankah api tak akan menyentuh jasad Nabi صلى الله عليه و سلم? "
Sahabatku berusahalah mendekati Nabi صلى الله عليه و سلم dan jangan kau putuskan ikatan dengannya.
Sebab kelak yang berdekatan dengan Rasulullah صلى الله عليه و سلم tidak akan disentuh oleh api neraka.
[Al Habib Omar Al Hafidz]

Semua yang di idamkan di dunia ini adalah fana (tidak abadi)

Semua yang di idamkan di dunia ini adalah fana (tidak abadi)
Guru Mulia Habib Umar Bin Hafidz :
Hadirkanlah hatimu…
Aku sudah berkeliling banyak Negara dan kulihat bagaimana penduduk di bumi ini jauh lebih banyak mengorbankan segala hal demi mendapatkan hal-hal yang fana. Jika mereka tidak mendapatkan apa yang mereka inginkan, mereka risau dan sedih. Dan saat kegembiraan yang mereka temukan tersebut mereka dapatkan, maka tidak akan abadi dan langgeng.
Maka oleh sebab itu kita mengalihkan daripada apa yang kita dambakan adalah anugrah Allah, pemberian Allah, kasih sayang Allah.. yang dengan itu kita terangkat pada keluhuran-keluhuran dan terjauhkan dari segala kehinaan.
Orang-orang yang lupa pada Allah menyebarkan dan mengajarkan kegembiraan-kegembiraan dengan beragam permainan, maka sebagian besar waktu dan hartanya mereka habiskan untuk permainan, dan mereka dapati kenikmatan tersebut hanya sesaat. Sebulan, dua bulan, setahun, dua tahun, setelah itu mereka temukan bahwasannya mereka tidak menemukan puncak kenikmatannya, shingga mereka kehilangan sesuatu yang besar.
Selain itu ada juga yang menghabiskan waktu dan hartanya untuk melihat hal-hal yang dilarang Allah, yaitu aurat-aurat yang terbuka hingga waktu dan hartanya habis, sehingga mereka tidak mendapatkan apa-apa kecuali kehinaan.
Sebagian orang terpenjarakan pada pekerjaan duniawi saja hingga mereka merasa puas dengan itu semua. Dan berapa banyak dari mereka, demi itu semua mereka mengorbankan waktu dan hartanya. Lantas semua yang mereka dapati itu tidak memuaskan.
Dan sebagian lagi, rela mengorbankan apapun demi mendapatkan nama, demi mendapatkan penghormatan dari orang lain dan nama besar, lantas bila mereka berhasil mencapai, ataupun mereka gagal mencapainya, maka dia dapati dirinya bahwasannya dia tidak mencapai puncak dari kebahagiaan yang dia idam-idamkan.
Namun mereka yang hidupnya di dunia hanya mendambakan kedekatan dengan Allah, ridha Allah, rahmat Allah, bagi mereka itulah dipersiapkan rahasia kebahagiaan dan kesejahteraan di dunia dan di akhirat yang kekal.

Selasa, 24 Mei 2016

Nasehat Guru Mulia al-Habib 'Umar bin Muhammad bin Hafidz Untuk Pedoman Hidup

Nasehat Guru Mulia Untuk Pedoman Hidup
ﻣﻦ ﻛﻼﻡ ﺳﻴﺪﻱ ﺍﻟﺤﺒﻴﺐ ﻋﻤﺮ ﺣﻔﻈﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ
Dari pada ucapan Guru kami al-Habib 'Umar bin Muhammad bin Hafidz
" ﺣﺎﻓﻈﻮﺍ ﻋﻠﻰ ﻋﻴﻮﻧﻜﻢ ﻓﻲ ﻣﺎﺑﻘﻲ ﻣﻦ ﺍﻻﻋﻤﺎﺭ
1. Jagalah mata kalian di sisa umurmu
ﻭﻻﺗﺤﺘﻘﺮﻭﺍ ﺑﻬﺎ ﻣﺴﻠﻢ
2. Janganlah sekali-kali engkau
pandang rendah dari pada saudara muslimmu
ﻭﻻﺗﻌﻈﻤﻮﺍ ﺑﻬﺎ ﺍﻟﺪﻧﻴﺎ
3. Jangan engkau pandang mulia dunia ini
ﻭﻻﺗﻜﺸﻔﻮﺍ ﺑﻬﺎﺍﻟﻌﻮﺭﺍﺕ
4. Jangan engkau membuka auratmu
ﻭﻻﺗﻨﻈﺮﻭﺍ ﺑﻬﺎ ﺍﻟﻰ ﺍﻟﺼﻮﺭ ﺍﻟﻤﺤﺮﻣﺎﺕ
5.Jangan engkau membuka atau melihat gambar-gambar yang di haramkan oleh Allah
ﻭﻛﻠﻤﺎﺕ ﺗﻘﺮﺃﻭﻧﻬﺎ ﺑﻘﻠﻮﺑﻜﻢ ﺩﻭﻥ ﺗﺤﺮﻳﻚ ﺍﻟﺴﻨﺘﻜﻢ ﻗﺒﻞ ﺍﻟﻨﻮﻡ ﺗﻘﻮﻱ ﺍﻻﻳﻤﺎﻥ
( ﺍﻟﻠﻪ ﻣﻌﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻧﺎﻇﺮﻱ ﺍﻟﻠﻪ ﺣﺎﺿﺮﻱ ﺍﻟﻠﻪ ﺷﺎﻫﺪﻱ ﺍﻟﻠﻪ ﻗﺮﻳﺐ ﻣﻨﻲ "
6. Jika engkau mau tidur bacalah kalimat ini untuk menguatkan iman
( ﺍﻟﻠﻪ ﻣﻌﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻧﺎﻇﺮﻱ ﺍﻟﻠﻪ ﺣﺎﺿﺮﻱ ﺍﻟﻠﻪ ﺷﺎﻫﺪﻱ ﺍﻟﻠﻪ ﻗﺮﻳﺐ ﻣﻨﻲ ) .
( ﺍﻟﻠﻪ ﻣﻌﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻧﺎﻇﺮﻱ ﺍﻟﻠﻪ ﺣﺎﺿﺮﻱ ﺍﻟﻠﻪ ﺷﺎﻫﺪﻱ ﺍﻟﻠﻪ ﻗﺮﻳﺐ ﻣﻨﻲ ) .
" Allahu ma'i allahu nadziri allahu hadhiri allahu syahidi allahu qoribun minni "
Allah selalu bersamaku,Allah selalu memandangku, Allah selalu hadir bersamaku, Allah selalu menyaksikanku, Allah selalu dekat denganku,
Bacalah dengan hati kalian tanpa menggerakkan lisan kalian .
ﻳﺎﻟﻠﻪ ﺑﺎﻟﺘﻮﻓﻴﻖ ﺣﺘﻰ ﻧﻔﻴﻖ ﻭﻧﻠﺤﻖ ﺍﻟﻔﺮﻳﻖ
Mudah mudahan kita mendapat taufiq sehingga kita bisa di golongkan dengan orang-orang sholeh...

Al-Imam Alwi al-Ghuyur Ulama Besar yang “Dicemburui”


Ulama Besar yang “Dicemburui”
Ia adalah ulama besar dan wali. Bukan hanya “melayani” Allah, dia juga melayani siapa saja yang membutuhkan pertolongan.
Tarim, Hadramaut, boleh dibilang merupakan “gudang ulama”. Salah seorang di antaranya ialah Al-Imam Alwi bin Al-Faqih al-Muqaddam, yang mendapat julukan Al-Ghuyur, yang berarti “dicemburui”. Julukan itu diberikan kepadanya karena, ketika itu, tidak seorang pun dari keluarga Bani Alawy di zamannya yang bernama Alwi. Sehingga ketika ia dinamai Alwi – dan itu merupakan suatu kehormatan – banyak orang cemburu kepadanya. Ketika itu, jika ada yang berniat memberi nama Alwi kepada seorang anak, dan biasanya urung, memilih nama lain. Barangkali juga lantaran ilmu agamanya yang sangat tinggi, sehingga banyak orang ”cemburu”, dalam arti positif, kepadanya.
Nama lengkapnya cukup panjang: Al-Imam Alwi bin Al-Faqih al-Muqaddam Muhammad bin Ali bin Muhammad Shahib Mirbath bin Ali Khali’ Qasam bin Alwi bin Muhammad bin Alwi bin Ubaidillah bin Al-Imam al-Muhajir Ahmad bin Isa. Ia lahir dan dibesarkan di Tarim, Hadramaut, pada abad keenam Hijri. Mendapat pendidikan langsung, mengenai berbagai pengetahuan agama, dari ayahandanya, sejak kecil ia sudah hafal Al-Quran. Bahkan sejak muda ia sudah mempelajari tarekat. Itulah sebabnya, dia juga ahli zuhud, wali yang mempunyai maqam tinggi dan karamah yang luar biasa.
Ia mempunyai banyak karamah. Salah satunya, jika ia berkata mengenai sesuatu, “Kun! (Jadilah!)”, maka jadilah sesuatu seperti yang dikehendakinya, dengan seizin Allah SWT. Wajar jika banyak ulama besar dan aulia di zamannya yang menukil ucapan-ucapannya. Ia juga mampu mengenali orang-orang yang celaka dan bahagia. Ia dapat mengetahui siapa yang bernasib baik, dan siapa yang bernasib buruk, sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “Takutlah kalian kapada firasat seorang mukmin. Sesungguhnya seorang mukmin dapat melihat dengan cahaya Allah.”
Suatu hari, ayahandanya, Al-Faqih al-Muqadam, memuji dan memberikan isyarat bahwa pada suatu saat nanti anaknya akan menjadi seorang wali yang agung. Dan menurut para ulama, rahasia keilmuan ayahandanya pindah ke dalam pribadi anaknya. “Al-Imam Alwi al-Ghuyur adalah pengganti orang-orang terdahulu,” kata mereka. Maka, praktis, derajat kewalian terbesar yang dimiliki Alwi al-Ghuyur diperoleh dari orangtuanya, yang dikenal sebagai sesepuh para wali dan pemuka orang-orang bertakwa.
Ketika menunaikan ibadah haji, Alwi al-Ghuyur memperbanyak ibadah umrah, salat, dan bertawaf, baik siang maupun malam. Ia juga memperdalam ilmu agama kepada sejumlah ulama besar yang mengajar di Masjidilharam, Mekah. Setelah menunaikan ibadah haji dan umrah, ia berziarah ke makam Rasulullah SAW di Masjid Nabawi, Medinah.
Di makam datuknya itu ia bertanya, “Di manakah kedudukanku di sisimu, wahai Kakek?” Konon, Rasulullah SAW menjawab pertanyaan imam Alwi al-Ghuyur, “Di kedua belah mataku.”
Lalu Rasulullah SAW bertanya, “Dan di manakah kedudukanku di sisimu, wahai Syekh Alwi?” Maka imam Alwi al-Ghuyur pun menjawab, “Di atas kepalaku.”
Kemudian Abubakar, yang makamnya di samping Rasulullah, bertanya, “Bagaimana engkau menempatkan Rasulullah demikian? Dia menempatkanmu di kedua belah matanya, sedangkan engkau menempatkannya di atas kepalamu. Tidak ada sesuatu yang dapat menyamai kedua belah mata. Engkau harus mensyukurinya dengan bersedekah kepada fakir miskin sebanyak 100 dinar.”
Anak Saleh
Alwi al-Ghuyur tak menjawab pertanyaan Abubakar. Namun, setelah beberapa waktu bermukim di Medinah, ia pulang ke Tarim dan membagikan sedekah 100 dinar kepada sejumlah fakir miskin sebagai tanda syukur. Sejak itu banyak orang bertamu, dan dengan senang hati Alwi al-Ghuyur mendidik dan menuntun mereka ke jalan Allah. Pada saat-saat seperti itulah ia sengaja memperlambat untuk menikah, hingga suatu saat calon keturunannya berkata dari arah punggungnya, “Kami telah berada di punggungmu, cepatlah menikah. Kalau tidak, kami akan keluar dari punggungmu!”
Mendapat teguran semacam itu, ia segera menikah dengan Hababah Fatimah binti Ahmad bin Alwi bin Muhammad Shahib Mirbath. Ketika istrinya hamil, berkatalah si jabang bayi dari rahim istrinya, “Aku anak saleh. Aku hamba yang saleh.” Ia dikaruniai oleh Allah SWT dua putra, Sayid Ali dan Abdullah Ba’alwi – yang belakangan juga menjadi muridnya.
Muridnya yang di belakang hari menjadi ulama, antara lain, Sayid Abdullah Ba’alwi, Sayid Ali, Ahmad, Syekh Ali ibnu Salim, Syekh Ahmad Muhammad Bamukhtar, dan sejumlah ulama kenamaan yang lain.
Alwi al-Ghuyur juga dikenal sebagai orang yang suka bersyukur, pandai menghargai kebaikan orang, suka menyantuni orang lain, dan suka mengabulkan permohonan orang lemah. Siapa saja yang datang kepadanya dan membutuhkan pertolongan, pasti cepat mendapat pertolongan.
Dalam kitab Al-Qurar, Sayid Al-Allamah al-Imam Muhammad bin Alwi al-Khirid Ba’alawy menulis, Syekh Abdurrahman bin Ali mengabarkan kepadaku bahwa para ulama besar berkata, “Ada tiga orang keluarga Bani Alawy yang semangatnya senantiasa terpelihara. Mereka cepat memberikan pertolongan kepada orang-orang yang membutuhkan. Mereka adalah Alwi al-Ghuyur, dan anaknya, yaitu Ali, serta Syekh Umar al-Muhdhar.”
Suatu hari Alwi al-Ghuyur dicaci maki oleh seorang lelaki di depan khalayak ramai, hanya gara-gara dia tidak berkunjung ke rumah lelaki itu. Lelaki tersebut mempunyai khadam, pembantu dari kalangan jin, yang setiap saat mendemonstrasikan kebolehannya. Jika ada orang yang menolak menyaksikan kebolehan jin tersebut, dia dizalimi dengan menggunakan tangan orang lain. Ketika lelaki itu sedang mencaci maki Alwi al-Ghuyur, tiba-tiba Isa ibnu Amru, seorang lelaki dari Bani Haram, menempeleng wajahnya. “Kalau kamu mencaci maki Sayid Alwi, apakah kami harus diam?”
Setelah ditempeleng, lelaki pemelihara jin itu mengucapkan kata-kata ancaman kepada Isa ibnu Amru.
Khawatir akan ancaman lelaki tersebut, Isa ibnu Amru kemudian menemui Sayid Alwi al-Ghuyur. ”Kamu jangan takut,” kata Alwi al-Ghuyur. Tapi, Isa ibnu Amru tetap takut dan tak berani beranjak dari sisi Sayid Alwi al-Ghuyur.
Akhirnya Sayid Alwi al-Ghuyur pergi ke masjid dan menggerak-gerakkan sebuah pintunya hingga terdengar suara berderit-derit. Kemudian ia pergi ke pintu lainnya dan menggerak-gerakkanya seperti terhadap pintu pertama. ”Ini suara lelaki itu dan suara jin yang selalu ia gunakan untuk mengganggu orang. Kini jin itu telah terbunuh, dan lelaki itu sudah melarikan diri dari Tarim,” kata Syekh Alwi al-Ghuyur.
Al-Imam Alwi al-Ghuyur wafat pada hari Jumat, 12 Zulkaidah 669 Hijri. Jasadnya disemayamkan di makam Zanbal, Tarim, di sebelah timur makam ayahandanya.
Disarikan dari Syarh Al-Ainiyyah, Nadzm Sayyidina Al-Habib Al-Qutub Abdullah bin Alwi Alhaddad Ba’alawy, karya Al-Allamah Al-Habib Ahmad bin Zain Alhabsyi Ba’alawy. AST

MANAQIB AL HABIB MUHAMMAD BIN MUHSIN BIN AHMAD AL HAMID

http://ceritaparakekasihallah.blogspot.co.id
 Al Habib Muhammad bin Muhsin Al Hamid dilahirkan di kota lnat dan dibesarkan di kota Damun, Hadramaut – Yaman. Beliau belajar dan menggali ilmu agama dari sejak kecil dengan orang tuanya yaitu Al Habib Muhsin Al Hamid serta para habaib dan masyaikh di zamannya.Al Habib Muhammad bin Muhsin Al Hamid 3 Bersaudara laki laki kaka Beliu Al Habib Abubakar bin Muhsin Al Hamid Di Makassar, Adik Beliu Al Habib Ahmad Bin Muhsin Al Hamid di Singapura.Ayahnya AI Habib Muhsin Bin Ahmad Al Hamid merupakan teman dekat Al Habib Salim bin Hafidz kakek Al Habib Umar bin Hafidz.Al Habib Ali Mashur bin Hafidz berkata bahwa Al Habib Muhsin beliau orang yang sangat menonjol tasawufnya. Beliau selalu membawa kitab-kitab aurodnya dan membacanya. Al Habib Muhammad bin Muhsin Al Hamid sangat arif dalam bertaqwa kepada Allah SWT. Dilihat pada umurnya yang masih 7 tahun beliau sudah hafal Al Qur’an dan pada umur belasan tahun sudah hafal lvlinhaj.Saat menginjak umur 25 tahun beliau mendapat kepercayaan menjadi mufti serta memegang Madrasah Ahlaqul Karimah milik Al Habib Muhammad bin Ahmad Al Muhdor di Huroidhoh.Hadramaut.Al Habib Muhammad bin Muhsin Al Hamid pun sempat menikah dengan anak munsib bilfagih dan mendapat keturunan yang semuanya adalah perempuan. Kedatangan beliau ke Indonesia menjelang pemerintahan komunis yang terjadi di Yaman. Beliau diperintahkan ayahnya untuk menjemput kakaknya, yaitu Al Habib Abu Bakar Al Hamid di Makassar, Sulawesi Selatan. Namun, sesampainya di Makasar beliau dinikahkan oleh kakaknya Al Habib Abubakar bin Muhsin Al Hamid dan mendapatkan keturunan seorang anak laki-laki. Kemudian beliau berangkat ke Palembang untuk berdakwah di Palembang, Al Habib Muhammad Al Hamid sangat dekat dengan Al Habib Ali bin Alwi bin Shahab (Habib Jenggot Abang). Bahkan ketika Al Habib Muhammad bin Muhsin ingin menikah Al Habib Ali yang mengatur semuanya. Disamping berdakwah beliau juga berdagang di kota Baturaja selama beberapa tahun serta di pasar 16
ilir Palembang untuk keperluan sehari-hari seperti belanja dapur, dan lain-lain Al Habib Muhammad bin Muhsin sendiri yang belanja ke pasar. pada suatu hari beliau keluar Rumah tampa memiliki uang sedikitpun, namun kebiasan beliau apabila melihat penjual pisang hendak membelinya pada saat memasukan tangan ke saku bajunya beliau heran didalam sakunya terdapat uang ternyata orang yang bersalaman dan berpelukan dengan beliau yang memasukan uang ke saku habib secara diam diam karena mereka tau habib Muhammad tidak akan menerima pemberin dari siapapun.Al Habib Muhammad Bin Muhsin Al Hamid sangat mencintai Al Qur’an dan itu terlihat karena beliau mengajar membaca Al Qur’an setiap hari dari jam 7 sampai jam 9 di rumah beliau sampai beliau wafat.Murid-murid beliau sangat banyak dan diantaranya adalah Al Habib Alwi bin Ahmad Bahsin (Mualim Nang), Beliau adalah sosok orang yang 'alim. Sahabat-sahabat beliau diantaranya Al Habib Abdurrahman bin muhammad Assegaf, Al Habib Idrus bin Alwi Assegaf, Al Habib Abdurrahman bin Abdullah bin Shahab, Al Habib Abdurrahman bin Alwi Assegaf.Mereka 3 hari dalam seminggu sering berkumpul di rumah Al Habib Abdurrahman bin Muhammad Assegaf untuk ber-muzakaroh:Al Habib Muhammad juga merupakan Imam khatib Jumat di Masjid jami’ sungai Lumpur 11 Ulu Palembang dan Mushollah Al Munawwar serta Ketip Arab yang terakhir hingga zaman revolusi (P3NTR sekarang)Jadwal Majelis beliau Hari Selasa ba’da dhuhur dirumah beliau untuk ibu-ibu Hari Jumat ba’da ashar di musholah _AlMunawwar , Hari Minggu pagi di rumah Al Habib Ahmad bin Zein Shahab untuk keluarga Pada hari jumat sehabis khotbah di Masjid Jami* Sungai Lumpur 11 Ulu beliau berpulang ke rahmatullah tepatnya pada tanggal 22 Rabiul Akhir 1382 / 19 Juni 1968 dan dimakamkan di qubah gundul 14 Ulu, Palembang.

Karomah Syekh Abdul Qodir Jailani Ketika Jadi Gelandangan


Hasil gambar untuk foto syekh abdul qodir jaelani
Syekh Abdul Qodir Al Jaelani pernah mengalami musim paceklik di Baghdad. Saat itu ulama yang menganut madzhab Imam Ahmad ini sampai memakan sisa-sisa makanan di tempat sampah. Dalam keadaan yang sangat lapar beliau keluar untuk mencari makanan. Namun setiap sampai ke tempat sampah, selalu ada orang lain yang mendahuluinya. Jika Syekh Abdul Qodir Jaelani melihat orang-orang fakir berebut di tempat sampah, maka beliau memilih meninggalkan tempat itu. Dan hal itu terus berlaku saat menemui tempat pembuangan, dan Syekh Abdul Qodir Jaelani akhirnya tidak memperoleh makanan.
Beliau akhirnya berjalan hingga sampai di Masjid Yasin di Baghdad, karena sudah tidak mempu lagi melanjutkan perjalanan karena lapar, dan memilih duduk di dekat masjid tersebut. Disaat yang sama datanglah seorang pemuda ke masjid dengan membawa roti, dia duduk dan mulai makan. Karena rasa lapar yang menusuk, setiap pemuda itu mengambil suapan maka Syekh Abdul Qodir Jaelani ingin membuka mulut, meski beliau terus berusaha menahannya.
Akhirnya pemuda itu pun menoleh ke arah Syekh Abdul Qodir Jaelani seraya mengatakan,”Bismillah ya Syech”, dengan maksud ingin memberi suapan kepada Syekh Abdul Qodir Jailani. Syekh Abdul Qodir Jaelani menolak, namun pemuda itu terus-menerus memaksa, hingga akhirnya Syekh Abdul Qodir Jaelani memakan sedikit dari apa yang diberikan.
Setelah itu si pemuda pun bertanya,”Siapa engkau, apa pekerjaanmu, dari mana engkau?”
Syekh Abdul Qodir Jaelani pun menjawab,”Saya pencari ilmu dari negeri Jilan”.
Si pemuda pun membalas,”Saya juga dari Jilan. Apakah engkau mengenal seorang pemuda dari Jilan yang namanya Abdul Qadir cucu dari Abu Abdullah As Shuma’i yang ahli zuhud?
Syeikh Abdul Qadir pun menjawab,”Itu adalah saya”.
Mendengar jawaban itu si pemuda pun terperangah,
”Demi Allah saya sampai di Bagdad dengan sisa-sisa uang yang saya memiliki dan saya telah mencari-cari dimana keberadaanmu namun tidak ada seorang pun yang bisa memberikan petunjuk. Sampai akhirnya uang saya habis hingga 3 hari saya tidak makan. Dengan terpaksa saya menggunakan uang yang dititipkan untukmu untuk membeli roti ini. Makanlah sesungguhnya ia milikmu.”
Syekh Abdul Qadir Jailani pun bertanya, apa yang sebenarnya terjadi. Pemuda itu pun menjelaskan bahwa ibu Syekh Abdul Qodir Jaelani telah menitipkan kepadanya 9 dinar untuk disampaikan kepada Syekh Abdul Qodir Jaelani. Dan uang itu pun sudah berkurang untuk dibelikan roti. Syekh Abdul Qodir Jaelani pun merelakannya dan memberikan kepada pemuda itu sisa roti serta sebagian dinar. (Dzail Thabaqat Al Hanabilah, 1/298)
Meski menolak untuk meminta-minta, Syekh Abdul Qodir Jaelani tetap memperoleh rezeki bahkan di saat yang sama beliau malah memberikan sedekah kepada orang lain.

Riwayat dan Karamah Sultanul Aulia’ Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani

Riwayat dan Karamah Sultanul Aulia’ Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani
Hasil gambar untuk foto syekh abdul qodir jaelani

(Kisah para Aulia’ dan para Syeikh adalah sangat elok dibaca oleh khususnya kepada murid-murid yang menjalani tariqah agar menjadi petunjuk dan tauladan bagi mereka yang berada di jalan tariqah dan secara amnya kepada muslimin dan muslimat kerana dalam hadits ada menyebutkan yang bermaksud : “Mengingati para Wali menjadi sebab turunnya rahmat” )

Juga suatu peringatan kepada golongan manusia yang suka menghina atau mempersendakan para wali-wali Allah,maksud hadith Qudsi ”Allah isytiharkan perang terhadap orang yang memusuhi para wali-Nya".

Nama lengkap Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani berikut nasab dari pihak ayah adalah Abu Muhammad Abdul Qadir bin Abu Shahih Musa bin Janka Dawsat (Janki Doasti) bin Abdullah bin Yahya Az-Zahid binMuahammad bin Dawud bin Musa bin Abdullah binMusa Al-Juni bin Abdullah bin Al-Mahdi bin Hasan Al-Mutsanna bin Hasan bin Ali bin Abi Thalib dan Fatimah Az-Zahra semoga redha Allah dicurahkan kepada mereka semua. Jadi, silsilah nasab Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani bersambung kepada Nabi Muhammad Rasulullah SAW dari puteri beliau yang bernama Sayyidah Fatimah Az-Zahra RA yang bernama Sayyidina Ali bin Abi Thalib RA.

Adapun silsilah dari ibunya adalah Abdul Qadir bin fathimah binti Abdullah bin Abu Jamaluddin bin Thahir bin Abdullah bin Kamaludin Isa bin Muhammad Al-Jawad bin Ali Ar-Ridha bin Musa Al-Kadzim bin Ja’far As-Shadiq bin Muhammad Al-Baqir bin Ali Zainul Abidin bin Husain bin Ali bin Abi Thalib semoga redha Allah dicurahkan kepada mereka semua. Sepanjang masa bayinya, dia tidak pernah makan selama bulan puasa.”

Suatu ketika pada awal Ramadhan, Cuaca mendung dan orang-orang tidak dapat melihat bulan baru, Tidak tahu apakah bulan Ramadhan sesungguhnya telah dimulai atau belum, mereka datang kepada Ummul Khair Fathimah, ibunda Syeikh Abdul Qadir, dan menanyakan apakah si anak sudah makan hari itu? Kerana dia belum makan, mereka menduga bahawa puasa telah dimulai.

Abdul Qadir Al-Jailani RA menceritakan,
“ketika kecil, setiap hari aku selalu didatangi seorang malaikat dalam bentuk pemuda tampan, Dia mula berjalan bersamaku dari rumah kemadrasah dan membuat anak-anak lain didalam kelas memberiku tempat dibarisan pertama, Dia tinggal bersamaku sepanjang hari dan kemudian membawaku pulang kerumah, Dalam sehari, aku belajar lebih banyak daripada murid lain yang belajar dalam satu minggu. Aku tidak tahu siapa dia (awalnya). Suatu hari aku bertanya kepadanya, dan dia berkata, aku salah satu malaikat Allah. “Dia mengirim dan memerintahku untuk bersamamu selama engkau belajar”.

Beliau kembali menceritakan mengenai masa kanak-kanaknya, dia berkata,
“setiap kali ingin pergi bermain dengan anak-anak lain, aku mendengar satu suara berkata; Datanglah kepada-Ku sebagai gantinya, wahai orang yang diberkati! Datanglah kepadaku.”
Dalam keadaan ketakutan, aku pergi dan mencari ketenangan dibalik lengan ibuku. Sekarang, bahkan dalam ketaatan penuh dan khalwat (pengasingan) yang panjang, aku tidak dapat mendengar dengan jelas suara tersebut.”

Ketika Abdul Qadir Al-Jailani ditanya oleh seseorang, apa kuncinya yang membawa dirinya pada tingkatan spiritual yang tinggi?.
Beliau berkata, “kejujuran yang telah aku janjikan kepada ibuku”
Abdul Qadir Al-Jailani menceritakannya sebagai berikut, “suatu hari, malam ‘Aidul Adha, aku pergi ke ladang kami untuk membantu menggarap tanah, Semasa aku berjalan dibelakang lembu jantan, dia memalingkan kepalanya dan memandangku seraya berkata, “engkau tidak diciptakan untuk (pekerjaan) ini!”
Sungguh, aku sangat ketakutan dan berlari kerumah dan memanjat ke atap rumah petak bertingkat. Ketika melihat ke luar, tiba-tiba aku melihat para Jemaah haji sedang berkumpul (wuquf) di padang Arafah,di Arabia,tepat di depanku.

Lalu aku segera pergi menemui ibuku, yang waktu itu sudah menjadi janda, dan meminta kepadanya, “kirimlah aku ke jalan kebenaran berilah aku izin untuk pergi ke Baghdad untuk mendapatkan ilmu pengetahuan bersama-sama orang bijak dan orang-orang yang dekat kepada Allah Azza Wa Jalla.”
Ibu bertanya kepadaku “apa alasan permintaanmu yang tiba-tiba tersebut?”

Aku mengatakan kepadanya apa yang telah terjadi pada diriku. Beliau menangis mendengar ceritaku, lalu mengeluarkan lapan puluh keping emas . Semuanya adalah warisan ayahku. Dia menyisihkan (mengasingkan) empat puluh untuk saudara lelakiku, Empat puluh keping lainnya di jahit dibahagian ketiak mantel (baju/kot). Kemudian dia mengizinkan untuk meninggalkan dirinya. Sebelum membiarkan aku pergi, beliau menasihatiku bahwa aku harus berkata benar dan menjadi orang yang jujur apa pun yang terjadi. Ibu melepas kepergianku dengan kata-kata, “mudah-mudahan Allah SWT melindungi dan membimbingmu wahai anakku. Aku memisahkan diriku sendiri dari orang yang paling mencintaiku kerana Allah. Aku tahu bahwa aku tidak akan dapat melihatmu sampai hari pengadilan Terakhir tiba.”

Taubatnya seorang kepala perompak ditangan SAQJ:

Aku bergabung dengan sebuah kafilah yang pergi ke Baghdad. Ketika kami telah meninggalkan Kota Hamadan, sekelompok perompak jalanan, enam puluh penunggang kuda yang gagah menyerang kami. Mereka mengambil segala sesuatu yang dibawa kafilah tersebut, salah seorang diantara mereka datang kepadaku dan bertanya, “Hai anak muda, harta apa yang engkau miliki?” aku menceritakan kepadanya bahwa aku memiliki empat puluh keping emas. Dia bertanya, dibertanya dimana kau simpan? Aku mengatakan, “dibawah lenganku”.
Dia tertawa dan meninggalkanku sendiri (keseorangan). Penjahat lainnya datang dan menanyakan hal yang sama dan aku pun mengatakan hal yang sebenarnya, dia juga meninggalkanku sendirian (keseorangan), aku fikir mereka pasti hendak mengadukan hal tersebut kepada pemimpinnya, dimana mereka sedang membahagikan hasil rampasan, pemimpin mereka bertanya tentang barang berharga milikku. Aku mengatakan kepadanya bahwa aku memiliki empat puluh keping emas yang dijahit dimantelku (baju/kot) di bawah ketiak.

Dia (pemimpin perompak) lalu mengambil mantelku (baju/kot) merobek (mengoyak) dibahagian lengan, dan menemukan emas tersebut. Kemudian dia bertanya kepadaku dalam ketakjuban “wangmu (hartamu) telah aman, apa yang memaksamu untuk menceritakan kepada kami bahwa engkau memilikinya dan memberitahukan tempat engkau menyembunyikannya?”
Aku menjawab, “aku harus mengatakan yang benar dalam apa keadaan sekalipun, sebagaimana yang telah aku janjikan kepada ibuku”.

Ketika kepala (ketua) perompak mendengar hal itu, ia menitiskan air mata dan berkata, “aku telah mengingkari janjiku kepada siapa yang telah menciptakanku,aku mencuri dan membunuh. Apa yang akan terjadi padaku?.
Dan perompak lain (anak-anak buahnya) memandangnya sambil berkata, “engkau telah menjadi pemimpin kami selama bertahun-tahun dalam perbuatan dosa ini, sekarang juga engkau tetap menjadi pemimpin kami dalam penyesalan”.

Keenam puluh orang itu memegang tanganku dan menyatakan penyesalannya serta keinginannya untuk mengubah jalan mereka, mereka merupakan orang pertama yang memegang tanganku dan mendapatkan keampunan untuk dosa-dosa mereka”.

Ketika Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani tiba di Baghdad, beliau berusia lapan belas tahum. Tatkala dia mencapai pintu gerbang kota, Nabi Khaidir A.S muncul dan menghalanginya untuk memasuki kota, Nabi Khaidir berkata kepadanya bahwasanya hal itu ia lakukan atas perintah Allah SWT agar ia tidak memasuki kota Baghdad hingga tujuh tahun akan datang.

Al-Khaidir membawanya ke sebuah runtuhan di gurun pasir dan berkata, “Diamlah engkau disini dan jangan meninggalkan tempat ini.”
Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani tetap tinggal di sana selama tiga tahun. Setiap tahun Al-Khaidir datang kepadanya dan berkata kepadanya dimana dirinya harus tinggal.

Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani RA bercerita tentang masa tiga tahun yang dilaluinya.

SAQJ sewaktu didalam proses Mujahadah dan Riyadhah:

“selama aku tinggal di gurun, di luar kota Baghdad, semua keindahan dunia telah datang menggodaku. Allah SWT Wa Adzuma Sya’nuh telah memberikanku kemenangan atasnya. Nafsuku mengunjungiku setiap hari dalam wujud dan bentukku sendiri dan meminta untuk menjadi temannya. Ketika aku akan menolaknya, ia hendak menyerangku, Allah SWT memberiku kemenangan dalam perlawananku dan pada waktunya aku dapat menjadikannya tawananku dan menahannya bersamaku selama tahun-tahun itu serta memaksanya untuk tinggal di runtuhan padang pasir.

Satu tahun penuh aku telah memakan rumput-rumputan (dedaunan) dan akar-akarnya yang kutemukan dan aku tidak meminum air apa pun, tahun yang lain aku meminum air tetapi tidak makan apa pun, tahun selanjutnya aku makan, tidak minum ataupun tidur. Sepanjang waktu itu, aku hidup dalam runtuhan dari istana raja-raja Kuno Parsi di Kurkh (kharkhi). Aku berjalan dengan kaki telanjang (tanpa alas kaki) diatas duri padang pasir dan tidak merasakan suatu apa pun.

Setiap kali aku melihat sebuah batu atau bukit yang terjal (curam) atau juram aku memanjatnya, aku tidak memberikan istirahat satu minit pun atau menyenangkan nafsuku kepada keinginan-keinginan rendah badaniku (Jasmani). Pada akhir dari masa tujuh tahun itu, aku mendengar satu suara pada suatu malam, “Hai Abdul Qadir,engkau sekarang diizinkan memasuki Kota Baghdad!”
Aku tiba di Baghdad dan melewatkan beberapa hari di sana. Segera aku tidak dapat berada dalam keadaan yang hasutan,kejahatan,tipu daya telah menjadi kebiasaan kota. Lalu untuk menyelamatkan diriku sendiri dari kejahatan kota yang mengalami kemerosotan akhlak dan menyelamatkan keimananku, aku meninggalkannya, hanya kitab suci Al-Quran yang kubawa bersamaku.

Ketika tiba dipintu gerbang dalam perjalanan untuk berkhalwat (menyendiri) di padang pasir , aku mendengar satu suara, “kemana engkau hendak pergi?” kata suara itu, “kembalilah,engkau harus melayani orang-orang.”
“Apa yang dapat kupedulikan tentang orang lain?” aku menyanggah (menyangkal/menolak), “aku ingin menyelamatkan keimananku., “kembalilah dan jangan pernah merasa bimbang terhadap keimananmu, “suara itu melanjutkan (meneruskan) “tidak ada sesuatu pun yang akan membahayakanmu”.

Aku sungguh tidak dapat melihat orang yang berkata tersebut (itu), kemudian sesuatu terjadi kepadaku. Aku terputus dari keadaan lahiriyyah lalu tenggelam dalam keadaan tafakur, sampai hari berikutnya aku memusatkan fikiran pada sebuah harapan dan berdoa kepada Allah Azza Wa Jalla agar Dia membukakan selubung untukku sehingga aku tahu apa yang harus aku lakukan.

Hari berikutnya, ketika tengah berkeliling (bersiar-siar) di sebuah permukiman (penempatan) bernama Mudzaffariyyah, seorang lelaki yang sebelumnya tidak pernah kulihat membuka pintu rumahnya dan mempersilakan untuk aku masuk, “mari Abdul Qadir!”.
Ketika aku sampai dipintunya, dia berkata “katakan kepadaku, apa yang engkau harapkan dari Allah? Doa apa yang telah engkau panjatkan kelmarin?”
Saat itu aku ketakutan, namun diliputi penuh ketakjuban, aku tidak dapat menemukan kata-kata untuk menjawabnya, lelaki itu memandang ke wajahku dan menghempaskan pintu dengan kasar sehingga membuatkan debu yang berkumpul disekelilingku menutupi seluruh tubuhku, aku berjalan pergi sambil bertanyakan apa yang telah kuminta dari Allah SWT sehari sebelumnya.

Kemudian aku teringat, lalu aku segera balik kembali untuk mengatakan kepada lelaki tersebut tetapi aku tidak dapat menemukannya baik rumah ataupun dirinya. Aku sangat bimbang ketika menyedari bahwa dia adalah seorang yang dekat kepada Allah Ta’ala, sungguh akhirnya aku mengetahui beliau adalah Syeikh Hammad Ad-Dabbas yang telah menjadi guruku”.

Pada suatu malam yang dingin dan hujan gerimis, satu tangan yang tidak terlihat jelas membawa Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani ke tempat bermalam para sufi (zawiyah) milik Syeikh Abdul Hammad bin Muslim Ad-Dabbas. Syeikh yang mengetahui berkat Ilham Ilahiyah tentang kedatangan Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani menutup pintu-pintu tempat menginap Shufiyah (zawiyah) dan memadamkan lampu.

Ketika beliau duduk diambang pintu yang terkunci, beliau tertidur, beliau berihtilam (mimpi basah) dimalam hari, lalu dia mandi di sungai dan mengambil wudhuk, dia tertidur lagi dalam hal yang sama terjadi sampai tujuh kali pada malam itu, maka beliau mandi dan mengambil air wudhuk dalam sedingin ais.

Pada harinya, pintu gerbang telah terbuka dan Abdul Qadir memasuki tempat penginapan sufi (zawiyah), Syeikh Hammad Ad-Dabbas berdiri menyambutnya sambil menitiskan air mata gembira, dia memeluknya dan berkata “Wahai putraku Abdul Qadir!”, keberuntungan/keuntungan adalah milik kami hari ini, tetapi esok hal itu akan menjadi milikmu. Jangan pernah (jangan sekali-kali) meninggalkan Tareqat (jalan) ini.”

Syeikh Hammad Ad-Dabbas menjadi guru pertama Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani dalam ilmu pengetahuan tentang kesufian dengan memegang tangannya dia mengucapkan sumpah (bai’at) dan mengikuti jalan kaum sufi.

Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani RA menceritakan, “Aku banyak belajar dengan guru di Baghdad tetapi setiap kali aku tidak dapat memahami sesuatu atau menemukan secara kebetulan suatu rahsia yang ingin aku ketahui Syeikh Hammad Ad-Dabbas menerangkan kepadaku, kadang-kadang aku meninggalkannya untuk mencari pengetahuan dari Syeikh (guru) yang lain tentang tauhid, hadis,fiqh dan ilmu-ilmu lainnya.

Setiap kali aku kembali, beliau berkata kepadaku, “Dari mana saja engkau?” kita telah memiliki demikian banyak makanan yang sangat bagus untuk tubuh ,fikiran dan jiwa kita, sementara engkau telah pergi dan kami tidak dapat menahan sesuatu untukmu!”
Pada waktu lain,beliau berkata, “demi Allah, kemana engkau pergi? Adakah seseorang disekitar sini yang mengetahui lebih banyak daripadamu?

Para darwisnya (para Sufi) akan mengusikku secara terus menerus dan berkata, “engkau adalah seorang ahli hukum (ahli fiqih), seorang ahli sastera, seorang ahli pengetahuan dan seorang Ulama (alim Syariat), urusan apakah yang engkau miliki diantara kita? Mengapa engkau tidak keluar dari sini?”

Syeikh (Hammad Ad-Dabbas) memarahi mereka dan berkata “betapa memalukan kalian ini! Aku bersumpah bahwa tidak ada seorang pun seperti dia diantara kalian, tidak ada seorang pun diantara kalian yang akan naik di atas jari kakinya, jika kalian berfikir aku kasar terhadapnya dan engkau meniruku, aku melakukannya untuk membawanya kepada kesempurnaan dan mengujinya, aku melihat dia dalam dunia spiritual yang keras seperti batu, besar seperti gunung.”

Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani merupakan contoh tauladan terbesar dari kenyataan bahwa dalam Islam mencari ilmu pengetahuan adalah kewajiban suci untuk semua orang lelaki dan perempuan dari ayunan (buaian) hingga liang kubur. Dia menjadi orang bijak terbesar dizamannya, dia menghafal Al-Quran Al-Karim dan mempelajari penafsirannya (tafsir) dari Ali Abul Wafa Al-Qail,Abu Khaththab Mahfuzh dan Abul Hasan Muhammad Al-Qadhi.

Menurut beberapa sumber,Abdul Qadir Al-Jailani belajar dengan Qadhi Abu Sa’id Al-Mubarak bin Muharrami, ulama terbesar pada zamannya di Baghdad. Meskipun telah mempelajari ilmu-ilmu pengetahuan tentang jalan mistik dari Syeikh Hammad Ad-Dabbas dan memasuki jalan tasawuf melalui tangannya, namun Syeikh Abdul Qadir Al-Qadir Al-Jailani telah diberi Khirqah (jubah kesufian) sebagai simbol dari jubah Rasulullah SAW oleh Qadhi Abu sa’id.

Garis silsilah ijazah spiritual dari Qadhi Abu Sa’id Al-Mubarak bin Ali Al-Muharrami melalui Syeikh Abu Hasan Ali bin Muhammad Al-Qurasyi,dari Abul Faraj Ath-Thursusi dari At-Tamimi dari Syeikh Abu Bakar Asy-Syibli dari Abul Qasim Al-Junaid dari Sari As-Saqathi dari Ma’ruf Al-Khurkhi dari Dawud Ath-Tha’iyah dari Habib Al-Jamiy dari Hasan Al-Bashri dari Imam Ali bin Abi Thalib r.a. Imam Ali menerima Khirqah (jubah kesufian) dari tangan mulia Nabi Muhammad SAW kekasih Allah,Tuhan semesta alam dan beliau menerimanya dari malaikat utama Jibrail a.s yang menerimanya dari kebenaran Tuhan Allah Azza Wa Jalla.

Seseorang bertanya kepada Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani , Apakah yang dia terima dari Allah Ta’ala?
Beliau menjawab tingkah laku dan pengetahuan yang baik.

Qadhi Abu Sa’id Al-Muharammi berkata, “sesungguhnya Abdul Qadir Al-Jailani menerima Khirqah dari tanganku, tetapi aku juga menerima Khirqah dari tangannya.”
Qadhi Abu Sa’id Al-Muharrami mengajar di sebuah madrasah miliknya sendiri di Babul Azj di Baghdad,kemudian dia memberikan madrasah tersebut kepada Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani yang mulai mengajar disana.

Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani r.a telah berusia lima puluh tahun lebih pada wakti itu. Kata-kata dan ucapannya mempersonakan dan menakjubkan sehingga menggugah (membangkitkan) hati orang-orang yang mendengarnya. Para murid dan jemaahnya semakin berkembang pesat dalam jumlah yang banyak sehingga tidak ada tempat, baik di dalam ataupun di sekitar madrasah tersebut untuk menampung para pengikutnya.

Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani r.a berkata mengenai permulaan mengajarnya, “pada suatu pagi aku melihat Rasulullah SAW, beliau bertanya kepadaku, mengapa engkau tidak berbicara? Aku berkata, aku adalah orang Persia/parsi (beliau lahir di Parsi), bagaimana aku dapat berbicara dengan Bahasa arab yang indah dari Baghdad?
“buka mulutmu,” beliau berkata, dan kulakukan perintah beliau. Nabi Muhammad SAW lantas meniup nafasnya ke mulutku tujuh kali lalu berkata, “pergilah,tunjukilah umat manusia dan ajaklah mereka kepada jalan Tuhanmu dengan bijak dan kata-kata indah.”
Aku menjalankan solat zuhur,dan aku melihat ramai orang sedang menungguku berbicara. Ketika melihat mereka aku menjadi gembira,namun lidahku seakan-akan terkunci.

Kemudian aku melihat Imam Ali bin Abi Thalib yang diberkati. Dia mendatangiku dan memintaku untuk membuka mulutku, kemudian meniupkan nafasnya sendiri ke dalam mulutku sebanyak enam kali. Aku bertanya, “mengapa anda tidak melakukannya sebanyak tujuh kali seperti yang dilakukan Rasulullah SAW?
Sayyidina Ali r.a berkata, “kerana rasa hormatku kepada beliau Rasulullah SAW”. Kemudian Sayyidina Ali r.a pun menghilang.
Dari mulutku yang terbuka, keluarlah kata-kata, “sesungguhnya fikiran adalah juru-selam,menyelam jauh ke dalam lautan hati untuk menemukan mutiara kebijaksanaan (hikmah), ketika dia membawanya ke pantai kemakhlukannya, dia tumpah dalam bentuk kata-kata dari bibirnya dan dengan itu dia membeli ketaatan tak ternilai di pasar-pasar ibadah Allah SWT.”

Kemudian aku berkata, “dalam suatu malam, seperti salah satu dari malamku, jika seseorang diantaramu hendak membunuh keinginan-keinginan rendahnya,kematian akan terasa begitu manis sehingga engkau tidak akan dapat merasakan sesuatu yang lain di dunia ini.”
Sejak saat itu, walau dalam apa keadaan sekalipun bangun atau tidur ,aku tetap mempertahankan tugasku mengajar. Banyak sekali pengetahuan tentang keimanan dan agama dalam diriku, jika tidak berbicara dan menuangkannya keluar, aku akan merasakan bahwa hal itu akan meneggelamkan diriku. Ketika pertama kali mengajar, aku hanya mempunyai dua atau tiga orang murid sahaja, ketika mereka mendengarku, jumlah mereka bertambah menjadi tujuh puluh ribu orang.”

Madrasahnya, mahupun lingkungan/kawasan disekitarnya tidak dapat menampung para pengikutnya, oleh sebab itu, dicarilah tempat yang lebih luas. Orang kaya dan orang miskin di Baghdad turut membantu dalam penambahan bangunan-bangunan yang baru. Mereka yang kaya membantu dengan dana(wang), manakala yang miskin membantu dengan tenaga (kerja) mereka, termasuklah kaum perempuan yang turut membantu bekerja.

Kelak Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani,semoga Allah menyucikan jiwanya. Beliau merupakah seorang Imam,ahli dalam masalah-masalah keagamaan,tauhid dan fiqh dan pemimpin dari mazhab Syafi’I dan Hambali dalam Islam. Beliau adalah seorang yang sangat bijaksana dan berpengetahuan luas,seluruh manusia mendapat manfaat darinya. Doanya segera dikabulkan ,baik ketika berdoa untuk kebaikkan dan berdoa untuk hukuman. Dia adalah seorang yang banyak melakukan banyak keajaiban (karamah), manusia sempurna, yang selalu sedar serta ingat kepada Allah Azza Wa Jalla, merenung (muraqabah) ,berfikir,menerima dan memberi pelajaran.

Dia mempunyai hati yang lembut,sifat yang mulia dan wajah yang selalu tersenyum,dia orang yang peka dan memiliki sikap yang sangat baik,berakhlak dalam tabiat serta dermawan dalam memberi materi (wang) dan nasihat serta pengetahuan. Dia mencintai orang-orang,tetapi secara khususnya terhadap orang-orang yang beriman dan mengabdikan serta beribadah kepada Dzat Yang Maha Esa, menolong kepada siapa yang beriman.

Dia tampan selalu berpakaian rapi, pembicaraannya (kata-katanya) tidak berlebihan dan sia-sia. Apabila berbicara, meskipun dia berbicara dengan cepat tetapi setiap kata dan suku katanya yang keluar terdengar jelas. Beliau berbicara dengan penuh keindahan dan dia berbicara kebenaran. Bicara tentang kebenaran tanpa ragu-ragu kerana dia tidak peduli dirinya apakah dia akan dipuji,dikritik atau dicaci.

Ketika Khalifah Al-Muqtafi mengangkat Yahya bin Sa’id sebagai kadi (ketua hakim), Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani menuduhnya dihadapan orang ramai, dengan mengatakan “anda telah mengangkat seorang tiran(orang yang zalim) yang paling buruk sebagai hakim atas orang-orang yang beriman. Biarlah kita lihat bagaimana anda akan menjawab untuk diri anda sendiri kelak ketika anda dihadapkan kepada Hakim Maha Agung, Allah Azza Wa Jalla Tuhan alam semesta.”

Mendengar hal ini, Khalifah tergoncang dan menitiskan air mata, lalu ia segera memecat sang hakim.
Penduduk Kota Baghdad mengalami kemajuan dalam hal akhlak dan rohani dan tingkah laku. Melalui pengaruhnya, kebanyakkan warga kota bertaubat dan menyatakan penyesalan, mengikuti akhlak yang baik dan perintah-perintah Islam. Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani dicintai dan dihormati oleh setiap orang, dan pengaruhnya tersebar kemana-mana. Orang-orang berbudi mencintainya, sedangkan para tiran (orang yang zalim) dan orang jahat takut kepadanya. Banyak orang termasuk para raja,menteri dan orang-orang bijak datang kepadanya untuk menanyakan persoalan-persoalan dan mencari penyelesaiannya, bahkan banyak orang Yahudi dan Nasrani menerima Islam melaluinya.

Dalam pengajaran dan pelayanannya (khidmatnya) kepada umat manusia, dia menggunakan sifat-sifat yang diwarisi oleh Yang Maha Tinggi.
Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani r.a berkata “seorang Syeikh spiritual (Sufi) bukan seorang guru yang sebenarnya,kecuali kalau dirinya memiliki/mempunyai dua belas sifat. Dua diantara sifat-sifat tersebut adalah sifat-sifat Allah Yang Maha Tinggi,iaitu menyembunyikan kesalahan manusia dan ciptaan yang lain,tidak hanya dari orang-orang lain tetapi bahkan dari diri mereka sendiri,dan memiliki perasaan terharu (kasihan) dan kemahuan memaafkan untuk dosa yang terburuk sekalipun.

Dua sifat diwarisi oleh Nabi Muhammad SAW iaitu cinta dan lemah lembut. Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a yang pertama dari keempat khalifah, seorang Syeikh (guru) sejati,mewarisi kebenaran,kejujuran,dan keikhlasan hati, juga ketaatan dan kemurahan hati (kedermawanan). Dari Sayyidina Umar bin Khaththab r.a, iaitu keadilan dan menekankan kebenaran serta mencegah kesalahan. Dari Sayyidina Utsman bin Affan r.a iaitu, kerendahan hati dan bangun serta berdoa ketika manusia lainnya dalam keadaan tertidur dan dari Sayyidina Ali bin Abi Thalib r.a, iaitu pengetahuan dan keteguhan hati serta keberanian (kependekaran).”

Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani r.a sangat sayang kepada puluhan ribu pengikutnya sebagaimana seorang ayah sayang kepada anaknya. Dia mengetahui nama dan memperhatikan masalah-masalah duniawi juga keadaan spiritual mereka, dia membantu dan menyelamatkan mereka dari bencana kemalangan, bahkan jika mereka berada di tempat jauh sekalipun. Dia adalah seorang ayah bersama anak-anaknya dan memperlakukan mereka dengan penuh kelembutan dan keharuan (belas kasihan). Kepada orang yang lebih tua darinya, dia seolah-olah menjadi lebih tua daripada mereka dan memperlakukan mereka dengan hormat.

Dia menjalinkan persahabatan dengan kalangan orang miskin dan lemah, serta tidak pernah mencari teman diantara orang-orang terkenal dan berkuasa, orang-orang seperti itu memperlakukannya seolah-olah raja dari segala raja.

Salah seorang dari anak lelaki pembantunya menceritakan bahwa ayahnya, Muhammad bin Al-Khaidir melayani Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani selama tiga belas tahun, dirinya tidak pernah melihat seekor lalat hinggap pada dirinya dan tidak pula dia pernah melihat membuang hingus (di khalayak ramai). Meskipun Tuan Syeikh memperlakukan kaum lemah dan miskin dengan rasa hormat yang besar, pembantunya tidak pernah melihatnya berdiri ketika para sultan (penguasa) datang mengnjunginya dan tidak pula dia mengunjungi mereka atau dia tidak memakan makanan mereka kecuali sekali, ketika seorang raja datang berkunjung kepadanya, dia meninggalkan ruang jamuan dan datang kembali setelah raja dan pesta jamuannya selesai, sehingga mereka akan menyambutnya dengan berdiri.

Ketika dia menulis surat kepada khalifah, dia mengatakan bahwa Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani memerintahkan dia untuk melakukan ini atau itu dan bahwa hal itu merupakan kewajiban bagi khalifah untuk mentaatinya kerana dia adalah pemimpin mereka. Apabila khalifah menerima surat seperti itu,dia akan mencium surat itu sebelum dia membacanya dan berkata “Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani benar,sesungguhnya dia mengatakan kebenaran!”.
Abu Hasan, salah seorang hakim agung pada masa itu menceritakan, “Aku mendengar Khalifah Al-Muqtafi berkata kepada menterinya, Ibnu Hubaira, “syeikh Abdul Qadir Al-Jailani mentertawakanku dan hal itu amat jelas bagi orang-orang di sekitarnya bahwa yang dia maksudkan adalah aku. Dilaporkan kepadaku bahwa dia menunjukkan sebuah pohon kurma dikebunnya dan berkata, “engkau lebih baik bekerja, jangan bepergian (berjalan) terlalu jauh atau aku akan memenggal kepalamu!”.

Sekarang kamu, wahai Ibnu Hubaira, pergi dan berbicaralah kepadanya seorang diri dan katakan, “anda jangan mengejek dan mengancam kahlifah, anda harus tahu bahwa kedudukan khalifah adalah suci dan harus dihormati”, sang menteri Ibnu Hubaira pergi kepada Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani dan melihatnya sedang berkumpul dengan kerumunan orang ramai. Dalam perbicaraannya pada satu pokok, tiba-tiba dia menyatakan, “sesungguhnya aku akan memenggal kepalanya juga”.

Sang menteri merasa bahwa yang Syeikh maksudkan adalah dia dan merasa takut serta ngeri, dia pun melarikan diri dan mengatakan apa yang terjadi kepada khalifah. Sang khalifah menitiskan air mata dan berkata, “sungguh,Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani adalah orang yang hebat”, lalu dia pergi menemui Syeikh untuk dirinya sendiri, Syeikh telah memberinya banyak nasihat dan khalifah menangis dan terus menangis.

Meskipun sangat belas kasihan dan memiliki peribadi dan sikap yang sangat baik,lemah lembut dan mencintai,menepati janji,adil dan keras dalam pengadilannya, Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani r.a tidak pernah memperlihatkan kemarahan yang ditujukan kepada dirinya, tetapi sesuatu tindakkan kesalahan dilakukan terhadap keimanan dan agama, dia akan marah besar dan memberi hukuman yang berat.

Syeikh Abu Najib As-Suhrawardi menceritakan, “pada tahun 523 H, aku bersama Syeikh Hammad, guru Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani yang juga hadir, ketika itu Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani membuat pertanyaan keras, mendengar itu, Syeikh Hammad berkata kepadanya, “wahai Abdul Qadir,engkau berbicara terlalu angkuh! Aku khuatir Allah tidak redha kepadamu”.
Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani mletekkan tangannya di atas dada Syeikh Hammad lalu berkata, “lihat telapak tanganku dengan mata hati” dan berkata lagi, “dan katakan kepadaku apa yang tertulis diatasnya?”

Ketika Syeikh Hammad tidak dapat mengatakannya, Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani mengangkat tangan dari dada Syeikh tersebut dan memperlihatkan tangan tersebut kepadanya, diatasnya termaktub (tertulis) tulisan bercahaya, yakni “Dia menerima tujuh puluh janji dari Allah SWT, bahwa dia tidak akan pernah dikecewakan”.

Syeikh Hammad melihatnya, dia berkata, “tidak akan pernah ada yang menjadi suatu keberatan pada orang yang diberkati dengan janji Ilahiyah seperti itu, tidak ada seorang pun pernah dapat berkeberatan kepadanya, Allah Ta’ala memberkati siapa sahaja yang sesungguhnya Dia kehendaki diantara hamba-hambaNya.

Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani r.a biasa berkata, “tidak ada seorang pun diantara pengikutku (muridku) akan mati sebelum mereka taubat penuh penyesalan. Mereka semua akan mati sebagai hamba-hamba Allah yang beriman, masing-masing diantara pengikutku yang akan menyelamatkan tujuh orang saudaranya yang berdosa dari api neraka. Seandainya jauh di barat,alat kelamin salah seorang dari pengikutku kerana kurang berhati-hati tersingkap secara tiba-tiba, kami meskipun berada jauh di timur akan menutupinya sebelum seseorang dapat melihat (sebagai suatu kiasan).

Aku telah diberi sebuah kitab, iaitu sebuah kitab yang panjangnya sejauh mata dapat melihatnya, berisi semua nama orang yang akan mengikutiku hingga akhir zaman,dengan berkat Allah Ta’ala, kami akan menyelamatkan semua diantara mereka, diberkati orang-orang yang melihatku, aku rindu kepada orang-orang yang tidak akan melihatku.

Semua orang yang mengikatkan diri mereka sendiri kepada Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani senantiasa damai dan bergembira. Seseorang bertanya kepada Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani, “kamu tahu kedudukan para pengikut anda yang soleh dan apa yang menanti mereka di akhirat? Akan tetapi bagaiman tentang mereka yang buruk?,” beliau menjawab “orang-orang yang soleh sayang kepadaku dan aku menyayanginya demi menyelamatkan mereka yang buruk.”

Seorang wanita muda menjadi pengikut Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani yang tinggal di sri-lanka, pada suatu hari dia diserang di sebuah tempat yang sepi oleh seorang lelaki yang hendak memperkosanya, dalam keadaan tidak berdaya, dia berteriak (menjerit) ,“selamatkan aku, wahai Syeikhku Abdul Qadir AL-Jailani!”
Saat itu Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani r.a sedang mengambil wudhuk di Baghdad, orang-orang melihat Syeikh tiba-tiba berhenti kemudian dengan marah, dia mengambil terompahnya dan melemparkannya ke atas, mereka tidak melihat terompah tersebut jatuh, kerana terompah tersebut jatuh diatas kepala orang yang sedang menyerang gadis muda itu di sri-lanka dan membunuhnya. Disebutkan bahwa terompah tersebut tetap berada disana (sri-lanka), disimpan sebagai barang peninggalan.

Syeikh Ath-Thustari menceritakan bahwa suatu hari para pengikut Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani di Baghdad mencarinya ke mana-mana, tiba-tiba seseorang berkata kepada mereka bahwa dirinya telah melihatnya (Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani) sedang berjalan menuju ke sungai Tigris. Lalu, para pengikutnya berlarian menuju ke sana hendak menyusulnya, ketika sampai di sungai tersebut, mereka melihat Syeikhnya itu berada ditengah sungai sedang berjalan di atas air menuju ke arah mereka, semua ikan menjulurkan kepalanya ke atas permukaan air dan memberi salam.
Hal itu terjadi pada waktu solat zuhur, mereka melihat di atas mereka selembar sejadah yang luas membentang di atas kepala mereka, menutupi seluruh langit, sejadah tersebut berwarna hijau dan dipermukaannya bersulamkan ayat-ayat dari emas dan perak.

Ertinya: Ingatlah sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada kekhuatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati.
(surah yunus: 62)

Ertinya: Para malaikat itu berkata, “apakah kamu merasa hairan tentang ketetapan Allah? (itu adalah) Rahmat Allah dan keberkatan-Nya dicurahkan atas kamu, hai ahlul bait! Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah.”
(surah Hud:73)

Sejadah tersebut terapung seperti sejadah terbangnya Nabi Sulaiman a.s, dan turun ke bumi, orang-orang merasa takjub,diam dan dengan tenang mereka berjalan menuju kepadanya. Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani berpakaian indah melangkah diatas sejadah tersebut dan memimpin mereka melakukan solat diatasnya, ketika dia mengangkat tangannya dan mengucapkan “Allahu Akbar”, seluruh seolah-olah menggemakan suara yang sama, ketika dia berdoa, para malaikat dari tujuh petala langit dalam paduan suara mengulang doanya. Ketika dia mengucapkan, “segala puji syukur hanya bagi Allah semata”, sebuah cahaya hijau keluar dari mulutnya, menyelimuti langit. Pada akhir solat (setelah salam), Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani r.a membuka kedua tangannya dan berkata, “Ya Allah, Ya Tuhanku, demi leluhurku (keturunan) Nabi Muhammad SAW, kekasih-Mu, dan demi orang-orang diantara ciptaan-Mu yang takut dan mencintai-Mu. Jangan ambil sesuatu dari para pengikutku kepada-Mu sampai mereka dimaafkan dari dosa-dosanya dan sampai keimanan mereka sempurna.”

Pada saat itu, setiap orang mendengar dengungan senandung dari para malaikat dan mengatakan, “Amin”, mereka juga mengikuti para malaikat dengan mengucapkan “Amin”. Kemudian mereka mendengar satu suara (hatif) dari dalam diri mereka kata-kata “bergembiralah!” Aku telah menerima doa kalian.”

Rasulullah SAW bersabda,”seorang guru (Syeikh) yang sempurna adalah bagaikan seorang Nabi bagi kaumnya”
Sesungguhnya Hadhrat Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani adalah salah seorang diantara para Syeikh yang sempurna tersebut yang telah membukakan orang-orang kepada pintu gerbang kebahagiaan di dunia ini dan pintu gerbang syurga di akhirat.

Setelah Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani r.a menguasai nafsunya dan menjadi seorang yang sempurna dan hanya dengan di-ilhami perintah Rasulullah SAW dia menjadi seorang Syeikh dan membangun/ menjalin hubungan dengan orang-orang. Dirinya sentiasa mengikut teladan dari leluhurnya (keturunannya) Nabi Muhammad Rasulullah SAW.

Ketika pengaruh ajaran Sayyid Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani r.a tersebar ke seluruh pelusuk dunia, banyak diantara murid-muridnya mendapat kedudukan penting dan banyak pejabat (pegawai pemerintah) yang menjadi muridnya sesuai kemampuan mereka, kualiti dunia dalam batin dan tingkatan spiritual, dia memerintahkan banyak diantara murid-muridnya untuk bertindak sebagai wakil-wakilnya.

Diantaranya ada yang dijadikan sebagai guru spiritual dan yang lainnya sebagai hakim (qhadi), bahkan diantara muridnya dia tetapkan sebagai gabenor dan para pemegang kekuasaan dunia.
Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani r.a telah memberikan seluruh dirinya kepada Allah Azza Wa Jalla. Malam-malamnya berlalu dengan sedikit atau bahkan tanpa tidur, dalam doa dan perenungan(muraqabah) menyendiri. Dia menghabiskan hari-harinya sebagai seorang pengikut sejati Nabi Muhammad SAW dalam pelayanan (berkhidmat) kemanusiaan tiga kali dalam seminggu, dia selalu menyampaikan “pengajian umum” kepada puluhan ribu manusia. Setiap hari diwaktu pagi dan petang dia memberi pengajaran tafsir Al-Quran,hadis Nabi SAW, ilmu Tauhid,ilmu Fiqh dan Tasawuf. Setelah solat zuhur, dia memberikan nasihat dan waktu konsultasi kepada orang-orang, sama ada orang itu pengemis atau raja, siapa saja yang datang akan dilayaninya.

Sebelum solat asar, hujan ataupun cerah, dia pergi ke jalanan untuk membagikan (memberikan) makanan (roti) kepada orang-orang miskin. Dalam seluruh hari-harinya dibulan Ramadhan, Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani hanya makan sekali sehari, setelah solat maghrib,beliau tidak pernah makan sendirian. Khadam (pembantu)nya akan berdiri dipintu menayakan orang-orang yang lewat (melalui) jika mereka lapar agar mereka dapat ikut makan.
Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani r.a wafat pada hari sabtu tanggal 8 Rabi’uts Tsani tahun 561H/1166M, pada usia 91 tahun. Makamnya yang berada di Madrasah Babud Darajah di Kota Baghdad Iraq, yang telah menjadi tempat penting dari kunjungan para penziarah kaum sufi dan semua muslim.

Ketika menghidap penyakit yang menghantarkan kewafatannya itu, salah seorang anak lelakinya iaitu Abdul Aziz melihat bahwa dia menderita sakit yang luar biasa, meregang dan menggulingkan tubuh ditempat tidurnya.
“jangan mencemaskanku “Syeikh berkata kepada putranya, “aku berbalik dan berbalik lagi dalam pengetahuan Allah Azza Wa Jalla.”
Ketika anak lelakinya yang lain, yakni Abdul Jabbar bertanya kepadanya tentang rasa sakitnya, dia berkata, “semua tubuhku terasa sakit kecuali hatiku, tidak ada rasa sakit disini kerana hati ini bersama Allah!”

Anak lelakinya yang lain, iaitu Abdul Wahhab berkata kepadanya, “berilah aku beberapa nasihat tentang apa yang harus dilakukan setelah engkau meninggalkan dunia ini.”
Dia berkata, “takutlah kepada Allah dan tiada sesuatu pun yang lain, berharaplah dari Allah dan percayakan seluruh kebutuhanmu (keinginan/keperluan) kepada-Nya, tidak mengharap dan menginginkan apa pun kecuali Dia, menyandarkan diri kepada Allah dan tidak kepada sesuatu yang lain,bersatu dengan-Nya,bersatu dengan-Nya, bersatu dengan-Nya.”

Sebelum meninggal dunia, Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani melihat sekeliling dan berkata kepada orang-orang yang hadir, “telah datang dihadapanku selain kalian, Makhluk lain yang kalian tidak melihatnya telah datang kepadaku. Persiapkan ruangan dan belaku sopan santunlah kepada mereka! (yakni menghormati kehadiran para malaikat yang tidak dapat dilihat) Aku adalah biji tanpa kulit, kalian melihatku bersama kalian, sementara aku dengan seseorang yang lain, sebaiknya kalian meninggalkanku sekarang.”

Kemudian dia berkata, “wahai malaikat pencabut nyawa, aku tidak takut kepadamu,tidak juga kepada sesuatu pun yang lain. Kecuali kepada-Nya Azza Wa Jalla yang telah menemaniku dan bermurah hati kepadaku!”
Pada saat terakhir, dia mengangkat tangan dan berkata, “tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasul-Nya. Kemuliaan hanya bagi Allah Yang Maha Agung, Yang Hidup Abadi, kemuliaan hanya milikNya,Yang Maha Kuasa, Yang Menguasai hamba-hamba-Nya dengan kematian.”

Kemudian dia mengeluarkan seruan yang keras dan berkata, Allah,Allah,Allah! Dan rohnya yang mulia serta diberkati meninggalkan jasadnya.
Semoga Redha Allah disampaikan untuknya.

Maka telah wafat kekasih Allah dengan penuh keindahan maknawi.
Tamat…..
http://www.resepkuekeringku.com/2014/11/resep-donat-empuk-ala-dunkin-donut.html http://www.resepkuekeringku.com/2015/03/resep-kue-cubit-coklat-enak-dan-sederhana.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/10/resep-donat-kentang-empuk-lembut-dan-enak.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/07/resep-es-krim-goreng-coklat-kriuk-mudah-dan-sederhana-dengan-saus-strawberry.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/06/resep-kue-es-krim-goreng-enak-dan-mudah.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/09/resep-bolu-karamel-panggang-sarang-semut-lembut.html