Tampilkan postingan dengan label SYEKH ABDUL QADIR JAILANI RA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SYEKH ABDUL QADIR JAILANI RA. Tampilkan semua postingan

Selasa, 24 Mei 2016

Karomah Syekh Abdul Qodir Jailani Ketika Jadi Gelandangan


Hasil gambar untuk foto syekh abdul qodir jaelani
Syekh Abdul Qodir Al Jaelani pernah mengalami musim paceklik di Baghdad. Saat itu ulama yang menganut madzhab Imam Ahmad ini sampai memakan sisa-sisa makanan di tempat sampah. Dalam keadaan yang sangat lapar beliau keluar untuk mencari makanan. Namun setiap sampai ke tempat sampah, selalu ada orang lain yang mendahuluinya. Jika Syekh Abdul Qodir Jaelani melihat orang-orang fakir berebut di tempat sampah, maka beliau memilih meninggalkan tempat itu. Dan hal itu terus berlaku saat menemui tempat pembuangan, dan Syekh Abdul Qodir Jaelani akhirnya tidak memperoleh makanan.
Beliau akhirnya berjalan hingga sampai di Masjid Yasin di Baghdad, karena sudah tidak mempu lagi melanjutkan perjalanan karena lapar, dan memilih duduk di dekat masjid tersebut. Disaat yang sama datanglah seorang pemuda ke masjid dengan membawa roti, dia duduk dan mulai makan. Karena rasa lapar yang menusuk, setiap pemuda itu mengambil suapan maka Syekh Abdul Qodir Jaelani ingin membuka mulut, meski beliau terus berusaha menahannya.
Akhirnya pemuda itu pun menoleh ke arah Syekh Abdul Qodir Jaelani seraya mengatakan,”Bismillah ya Syech”, dengan maksud ingin memberi suapan kepada Syekh Abdul Qodir Jailani. Syekh Abdul Qodir Jaelani menolak, namun pemuda itu terus-menerus memaksa, hingga akhirnya Syekh Abdul Qodir Jaelani memakan sedikit dari apa yang diberikan.
Setelah itu si pemuda pun bertanya,”Siapa engkau, apa pekerjaanmu, dari mana engkau?”
Syekh Abdul Qodir Jaelani pun menjawab,”Saya pencari ilmu dari negeri Jilan”.
Si pemuda pun membalas,”Saya juga dari Jilan. Apakah engkau mengenal seorang pemuda dari Jilan yang namanya Abdul Qadir cucu dari Abu Abdullah As Shuma’i yang ahli zuhud?
Syeikh Abdul Qadir pun menjawab,”Itu adalah saya”.
Mendengar jawaban itu si pemuda pun terperangah,
”Demi Allah saya sampai di Bagdad dengan sisa-sisa uang yang saya memiliki dan saya telah mencari-cari dimana keberadaanmu namun tidak ada seorang pun yang bisa memberikan petunjuk. Sampai akhirnya uang saya habis hingga 3 hari saya tidak makan. Dengan terpaksa saya menggunakan uang yang dititipkan untukmu untuk membeli roti ini. Makanlah sesungguhnya ia milikmu.”
Syekh Abdul Qadir Jailani pun bertanya, apa yang sebenarnya terjadi. Pemuda itu pun menjelaskan bahwa ibu Syekh Abdul Qodir Jaelani telah menitipkan kepadanya 9 dinar untuk disampaikan kepada Syekh Abdul Qodir Jaelani. Dan uang itu pun sudah berkurang untuk dibelikan roti. Syekh Abdul Qodir Jaelani pun merelakannya dan memberikan kepada pemuda itu sisa roti serta sebagian dinar. (Dzail Thabaqat Al Hanabilah, 1/298)
Meski menolak untuk meminta-minta, Syekh Abdul Qodir Jaelani tetap memperoleh rezeki bahkan di saat yang sama beliau malah memberikan sedekah kepada orang lain.

Riwayat dan Karamah Sultanul Aulia’ Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani

Riwayat dan Karamah Sultanul Aulia’ Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani
Hasil gambar untuk foto syekh abdul qodir jaelani

(Kisah para Aulia’ dan para Syeikh adalah sangat elok dibaca oleh khususnya kepada murid-murid yang menjalani tariqah agar menjadi petunjuk dan tauladan bagi mereka yang berada di jalan tariqah dan secara amnya kepada muslimin dan muslimat kerana dalam hadits ada menyebutkan yang bermaksud : “Mengingati para Wali menjadi sebab turunnya rahmat” )

Juga suatu peringatan kepada golongan manusia yang suka menghina atau mempersendakan para wali-wali Allah,maksud hadith Qudsi ”Allah isytiharkan perang terhadap orang yang memusuhi para wali-Nya".

Nama lengkap Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani berikut nasab dari pihak ayah adalah Abu Muhammad Abdul Qadir bin Abu Shahih Musa bin Janka Dawsat (Janki Doasti) bin Abdullah bin Yahya Az-Zahid binMuahammad bin Dawud bin Musa bin Abdullah binMusa Al-Juni bin Abdullah bin Al-Mahdi bin Hasan Al-Mutsanna bin Hasan bin Ali bin Abi Thalib dan Fatimah Az-Zahra semoga redha Allah dicurahkan kepada mereka semua. Jadi, silsilah nasab Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani bersambung kepada Nabi Muhammad Rasulullah SAW dari puteri beliau yang bernama Sayyidah Fatimah Az-Zahra RA yang bernama Sayyidina Ali bin Abi Thalib RA.

Adapun silsilah dari ibunya adalah Abdul Qadir bin fathimah binti Abdullah bin Abu Jamaluddin bin Thahir bin Abdullah bin Kamaludin Isa bin Muhammad Al-Jawad bin Ali Ar-Ridha bin Musa Al-Kadzim bin Ja’far As-Shadiq bin Muhammad Al-Baqir bin Ali Zainul Abidin bin Husain bin Ali bin Abi Thalib semoga redha Allah dicurahkan kepada mereka semua. Sepanjang masa bayinya, dia tidak pernah makan selama bulan puasa.”

Suatu ketika pada awal Ramadhan, Cuaca mendung dan orang-orang tidak dapat melihat bulan baru, Tidak tahu apakah bulan Ramadhan sesungguhnya telah dimulai atau belum, mereka datang kepada Ummul Khair Fathimah, ibunda Syeikh Abdul Qadir, dan menanyakan apakah si anak sudah makan hari itu? Kerana dia belum makan, mereka menduga bahawa puasa telah dimulai.

Abdul Qadir Al-Jailani RA menceritakan,
“ketika kecil, setiap hari aku selalu didatangi seorang malaikat dalam bentuk pemuda tampan, Dia mula berjalan bersamaku dari rumah kemadrasah dan membuat anak-anak lain didalam kelas memberiku tempat dibarisan pertama, Dia tinggal bersamaku sepanjang hari dan kemudian membawaku pulang kerumah, Dalam sehari, aku belajar lebih banyak daripada murid lain yang belajar dalam satu minggu. Aku tidak tahu siapa dia (awalnya). Suatu hari aku bertanya kepadanya, dan dia berkata, aku salah satu malaikat Allah. “Dia mengirim dan memerintahku untuk bersamamu selama engkau belajar”.

Beliau kembali menceritakan mengenai masa kanak-kanaknya, dia berkata,
“setiap kali ingin pergi bermain dengan anak-anak lain, aku mendengar satu suara berkata; Datanglah kepada-Ku sebagai gantinya, wahai orang yang diberkati! Datanglah kepadaku.”
Dalam keadaan ketakutan, aku pergi dan mencari ketenangan dibalik lengan ibuku. Sekarang, bahkan dalam ketaatan penuh dan khalwat (pengasingan) yang panjang, aku tidak dapat mendengar dengan jelas suara tersebut.”

Ketika Abdul Qadir Al-Jailani ditanya oleh seseorang, apa kuncinya yang membawa dirinya pada tingkatan spiritual yang tinggi?.
Beliau berkata, “kejujuran yang telah aku janjikan kepada ibuku”
Abdul Qadir Al-Jailani menceritakannya sebagai berikut, “suatu hari, malam ‘Aidul Adha, aku pergi ke ladang kami untuk membantu menggarap tanah, Semasa aku berjalan dibelakang lembu jantan, dia memalingkan kepalanya dan memandangku seraya berkata, “engkau tidak diciptakan untuk (pekerjaan) ini!”
Sungguh, aku sangat ketakutan dan berlari kerumah dan memanjat ke atap rumah petak bertingkat. Ketika melihat ke luar, tiba-tiba aku melihat para Jemaah haji sedang berkumpul (wuquf) di padang Arafah,di Arabia,tepat di depanku.

Lalu aku segera pergi menemui ibuku, yang waktu itu sudah menjadi janda, dan meminta kepadanya, “kirimlah aku ke jalan kebenaran berilah aku izin untuk pergi ke Baghdad untuk mendapatkan ilmu pengetahuan bersama-sama orang bijak dan orang-orang yang dekat kepada Allah Azza Wa Jalla.”
Ibu bertanya kepadaku “apa alasan permintaanmu yang tiba-tiba tersebut?”

Aku mengatakan kepadanya apa yang telah terjadi pada diriku. Beliau menangis mendengar ceritaku, lalu mengeluarkan lapan puluh keping emas . Semuanya adalah warisan ayahku. Dia menyisihkan (mengasingkan) empat puluh untuk saudara lelakiku, Empat puluh keping lainnya di jahit dibahagian ketiak mantel (baju/kot). Kemudian dia mengizinkan untuk meninggalkan dirinya. Sebelum membiarkan aku pergi, beliau menasihatiku bahwa aku harus berkata benar dan menjadi orang yang jujur apa pun yang terjadi. Ibu melepas kepergianku dengan kata-kata, “mudah-mudahan Allah SWT melindungi dan membimbingmu wahai anakku. Aku memisahkan diriku sendiri dari orang yang paling mencintaiku kerana Allah. Aku tahu bahwa aku tidak akan dapat melihatmu sampai hari pengadilan Terakhir tiba.”

Taubatnya seorang kepala perompak ditangan SAQJ:

Aku bergabung dengan sebuah kafilah yang pergi ke Baghdad. Ketika kami telah meninggalkan Kota Hamadan, sekelompok perompak jalanan, enam puluh penunggang kuda yang gagah menyerang kami. Mereka mengambil segala sesuatu yang dibawa kafilah tersebut, salah seorang diantara mereka datang kepadaku dan bertanya, “Hai anak muda, harta apa yang engkau miliki?” aku menceritakan kepadanya bahwa aku memiliki empat puluh keping emas. Dia bertanya, dibertanya dimana kau simpan? Aku mengatakan, “dibawah lenganku”.
Dia tertawa dan meninggalkanku sendiri (keseorangan). Penjahat lainnya datang dan menanyakan hal yang sama dan aku pun mengatakan hal yang sebenarnya, dia juga meninggalkanku sendirian (keseorangan), aku fikir mereka pasti hendak mengadukan hal tersebut kepada pemimpinnya, dimana mereka sedang membahagikan hasil rampasan, pemimpin mereka bertanya tentang barang berharga milikku. Aku mengatakan kepadanya bahwa aku memiliki empat puluh keping emas yang dijahit dimantelku (baju/kot) di bawah ketiak.

Dia (pemimpin perompak) lalu mengambil mantelku (baju/kot) merobek (mengoyak) dibahagian lengan, dan menemukan emas tersebut. Kemudian dia bertanya kepadaku dalam ketakjuban “wangmu (hartamu) telah aman, apa yang memaksamu untuk menceritakan kepada kami bahwa engkau memilikinya dan memberitahukan tempat engkau menyembunyikannya?”
Aku menjawab, “aku harus mengatakan yang benar dalam apa keadaan sekalipun, sebagaimana yang telah aku janjikan kepada ibuku”.

Ketika kepala (ketua) perompak mendengar hal itu, ia menitiskan air mata dan berkata, “aku telah mengingkari janjiku kepada siapa yang telah menciptakanku,aku mencuri dan membunuh. Apa yang akan terjadi padaku?.
Dan perompak lain (anak-anak buahnya) memandangnya sambil berkata, “engkau telah menjadi pemimpin kami selama bertahun-tahun dalam perbuatan dosa ini, sekarang juga engkau tetap menjadi pemimpin kami dalam penyesalan”.

Keenam puluh orang itu memegang tanganku dan menyatakan penyesalannya serta keinginannya untuk mengubah jalan mereka, mereka merupakan orang pertama yang memegang tanganku dan mendapatkan keampunan untuk dosa-dosa mereka”.

Ketika Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani tiba di Baghdad, beliau berusia lapan belas tahum. Tatkala dia mencapai pintu gerbang kota, Nabi Khaidir A.S muncul dan menghalanginya untuk memasuki kota, Nabi Khaidir berkata kepadanya bahwasanya hal itu ia lakukan atas perintah Allah SWT agar ia tidak memasuki kota Baghdad hingga tujuh tahun akan datang.

Al-Khaidir membawanya ke sebuah runtuhan di gurun pasir dan berkata, “Diamlah engkau disini dan jangan meninggalkan tempat ini.”
Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani tetap tinggal di sana selama tiga tahun. Setiap tahun Al-Khaidir datang kepadanya dan berkata kepadanya dimana dirinya harus tinggal.

Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani RA bercerita tentang masa tiga tahun yang dilaluinya.

SAQJ sewaktu didalam proses Mujahadah dan Riyadhah:

“selama aku tinggal di gurun, di luar kota Baghdad, semua keindahan dunia telah datang menggodaku. Allah SWT Wa Adzuma Sya’nuh telah memberikanku kemenangan atasnya. Nafsuku mengunjungiku setiap hari dalam wujud dan bentukku sendiri dan meminta untuk menjadi temannya. Ketika aku akan menolaknya, ia hendak menyerangku, Allah SWT memberiku kemenangan dalam perlawananku dan pada waktunya aku dapat menjadikannya tawananku dan menahannya bersamaku selama tahun-tahun itu serta memaksanya untuk tinggal di runtuhan padang pasir.

Satu tahun penuh aku telah memakan rumput-rumputan (dedaunan) dan akar-akarnya yang kutemukan dan aku tidak meminum air apa pun, tahun yang lain aku meminum air tetapi tidak makan apa pun, tahun selanjutnya aku makan, tidak minum ataupun tidur. Sepanjang waktu itu, aku hidup dalam runtuhan dari istana raja-raja Kuno Parsi di Kurkh (kharkhi). Aku berjalan dengan kaki telanjang (tanpa alas kaki) diatas duri padang pasir dan tidak merasakan suatu apa pun.

Setiap kali aku melihat sebuah batu atau bukit yang terjal (curam) atau juram aku memanjatnya, aku tidak memberikan istirahat satu minit pun atau menyenangkan nafsuku kepada keinginan-keinginan rendah badaniku (Jasmani). Pada akhir dari masa tujuh tahun itu, aku mendengar satu suara pada suatu malam, “Hai Abdul Qadir,engkau sekarang diizinkan memasuki Kota Baghdad!”
Aku tiba di Baghdad dan melewatkan beberapa hari di sana. Segera aku tidak dapat berada dalam keadaan yang hasutan,kejahatan,tipu daya telah menjadi kebiasaan kota. Lalu untuk menyelamatkan diriku sendiri dari kejahatan kota yang mengalami kemerosotan akhlak dan menyelamatkan keimananku, aku meninggalkannya, hanya kitab suci Al-Quran yang kubawa bersamaku.

Ketika tiba dipintu gerbang dalam perjalanan untuk berkhalwat (menyendiri) di padang pasir , aku mendengar satu suara, “kemana engkau hendak pergi?” kata suara itu, “kembalilah,engkau harus melayani orang-orang.”
“Apa yang dapat kupedulikan tentang orang lain?” aku menyanggah (menyangkal/menolak), “aku ingin menyelamatkan keimananku., “kembalilah dan jangan pernah merasa bimbang terhadap keimananmu, “suara itu melanjutkan (meneruskan) “tidak ada sesuatu pun yang akan membahayakanmu”.

Aku sungguh tidak dapat melihat orang yang berkata tersebut (itu), kemudian sesuatu terjadi kepadaku. Aku terputus dari keadaan lahiriyyah lalu tenggelam dalam keadaan tafakur, sampai hari berikutnya aku memusatkan fikiran pada sebuah harapan dan berdoa kepada Allah Azza Wa Jalla agar Dia membukakan selubung untukku sehingga aku tahu apa yang harus aku lakukan.

Hari berikutnya, ketika tengah berkeliling (bersiar-siar) di sebuah permukiman (penempatan) bernama Mudzaffariyyah, seorang lelaki yang sebelumnya tidak pernah kulihat membuka pintu rumahnya dan mempersilakan untuk aku masuk, “mari Abdul Qadir!”.
Ketika aku sampai dipintunya, dia berkata “katakan kepadaku, apa yang engkau harapkan dari Allah? Doa apa yang telah engkau panjatkan kelmarin?”
Saat itu aku ketakutan, namun diliputi penuh ketakjuban, aku tidak dapat menemukan kata-kata untuk menjawabnya, lelaki itu memandang ke wajahku dan menghempaskan pintu dengan kasar sehingga membuatkan debu yang berkumpul disekelilingku menutupi seluruh tubuhku, aku berjalan pergi sambil bertanyakan apa yang telah kuminta dari Allah SWT sehari sebelumnya.

Kemudian aku teringat, lalu aku segera balik kembali untuk mengatakan kepada lelaki tersebut tetapi aku tidak dapat menemukannya baik rumah ataupun dirinya. Aku sangat bimbang ketika menyedari bahwa dia adalah seorang yang dekat kepada Allah Ta’ala, sungguh akhirnya aku mengetahui beliau adalah Syeikh Hammad Ad-Dabbas yang telah menjadi guruku”.

Pada suatu malam yang dingin dan hujan gerimis, satu tangan yang tidak terlihat jelas membawa Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani ke tempat bermalam para sufi (zawiyah) milik Syeikh Abdul Hammad bin Muslim Ad-Dabbas. Syeikh yang mengetahui berkat Ilham Ilahiyah tentang kedatangan Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani menutup pintu-pintu tempat menginap Shufiyah (zawiyah) dan memadamkan lampu.

Ketika beliau duduk diambang pintu yang terkunci, beliau tertidur, beliau berihtilam (mimpi basah) dimalam hari, lalu dia mandi di sungai dan mengambil wudhuk, dia tertidur lagi dalam hal yang sama terjadi sampai tujuh kali pada malam itu, maka beliau mandi dan mengambil air wudhuk dalam sedingin ais.

Pada harinya, pintu gerbang telah terbuka dan Abdul Qadir memasuki tempat penginapan sufi (zawiyah), Syeikh Hammad Ad-Dabbas berdiri menyambutnya sambil menitiskan air mata gembira, dia memeluknya dan berkata “Wahai putraku Abdul Qadir!”, keberuntungan/keuntungan adalah milik kami hari ini, tetapi esok hal itu akan menjadi milikmu. Jangan pernah (jangan sekali-kali) meninggalkan Tareqat (jalan) ini.”

Syeikh Hammad Ad-Dabbas menjadi guru pertama Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani dalam ilmu pengetahuan tentang kesufian dengan memegang tangannya dia mengucapkan sumpah (bai’at) dan mengikuti jalan kaum sufi.

Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani RA menceritakan, “Aku banyak belajar dengan guru di Baghdad tetapi setiap kali aku tidak dapat memahami sesuatu atau menemukan secara kebetulan suatu rahsia yang ingin aku ketahui Syeikh Hammad Ad-Dabbas menerangkan kepadaku, kadang-kadang aku meninggalkannya untuk mencari pengetahuan dari Syeikh (guru) yang lain tentang tauhid, hadis,fiqh dan ilmu-ilmu lainnya.

Setiap kali aku kembali, beliau berkata kepadaku, “Dari mana saja engkau?” kita telah memiliki demikian banyak makanan yang sangat bagus untuk tubuh ,fikiran dan jiwa kita, sementara engkau telah pergi dan kami tidak dapat menahan sesuatu untukmu!”
Pada waktu lain,beliau berkata, “demi Allah, kemana engkau pergi? Adakah seseorang disekitar sini yang mengetahui lebih banyak daripadamu?

Para darwisnya (para Sufi) akan mengusikku secara terus menerus dan berkata, “engkau adalah seorang ahli hukum (ahli fiqih), seorang ahli sastera, seorang ahli pengetahuan dan seorang Ulama (alim Syariat), urusan apakah yang engkau miliki diantara kita? Mengapa engkau tidak keluar dari sini?”

Syeikh (Hammad Ad-Dabbas) memarahi mereka dan berkata “betapa memalukan kalian ini! Aku bersumpah bahwa tidak ada seorang pun seperti dia diantara kalian, tidak ada seorang pun diantara kalian yang akan naik di atas jari kakinya, jika kalian berfikir aku kasar terhadapnya dan engkau meniruku, aku melakukannya untuk membawanya kepada kesempurnaan dan mengujinya, aku melihat dia dalam dunia spiritual yang keras seperti batu, besar seperti gunung.”

Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani merupakan contoh tauladan terbesar dari kenyataan bahwa dalam Islam mencari ilmu pengetahuan adalah kewajiban suci untuk semua orang lelaki dan perempuan dari ayunan (buaian) hingga liang kubur. Dia menjadi orang bijak terbesar dizamannya, dia menghafal Al-Quran Al-Karim dan mempelajari penafsirannya (tafsir) dari Ali Abul Wafa Al-Qail,Abu Khaththab Mahfuzh dan Abul Hasan Muhammad Al-Qadhi.

Menurut beberapa sumber,Abdul Qadir Al-Jailani belajar dengan Qadhi Abu Sa’id Al-Mubarak bin Muharrami, ulama terbesar pada zamannya di Baghdad. Meskipun telah mempelajari ilmu-ilmu pengetahuan tentang jalan mistik dari Syeikh Hammad Ad-Dabbas dan memasuki jalan tasawuf melalui tangannya, namun Syeikh Abdul Qadir Al-Qadir Al-Jailani telah diberi Khirqah (jubah kesufian) sebagai simbol dari jubah Rasulullah SAW oleh Qadhi Abu sa’id.

Garis silsilah ijazah spiritual dari Qadhi Abu Sa’id Al-Mubarak bin Ali Al-Muharrami melalui Syeikh Abu Hasan Ali bin Muhammad Al-Qurasyi,dari Abul Faraj Ath-Thursusi dari At-Tamimi dari Syeikh Abu Bakar Asy-Syibli dari Abul Qasim Al-Junaid dari Sari As-Saqathi dari Ma’ruf Al-Khurkhi dari Dawud Ath-Tha’iyah dari Habib Al-Jamiy dari Hasan Al-Bashri dari Imam Ali bin Abi Thalib r.a. Imam Ali menerima Khirqah (jubah kesufian) dari tangan mulia Nabi Muhammad SAW kekasih Allah,Tuhan semesta alam dan beliau menerimanya dari malaikat utama Jibrail a.s yang menerimanya dari kebenaran Tuhan Allah Azza Wa Jalla.

Seseorang bertanya kepada Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani , Apakah yang dia terima dari Allah Ta’ala?
Beliau menjawab tingkah laku dan pengetahuan yang baik.

Qadhi Abu Sa’id Al-Muharammi berkata, “sesungguhnya Abdul Qadir Al-Jailani menerima Khirqah dari tanganku, tetapi aku juga menerima Khirqah dari tangannya.”
Qadhi Abu Sa’id Al-Muharrami mengajar di sebuah madrasah miliknya sendiri di Babul Azj di Baghdad,kemudian dia memberikan madrasah tersebut kepada Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani yang mulai mengajar disana.

Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani r.a telah berusia lima puluh tahun lebih pada wakti itu. Kata-kata dan ucapannya mempersonakan dan menakjubkan sehingga menggugah (membangkitkan) hati orang-orang yang mendengarnya. Para murid dan jemaahnya semakin berkembang pesat dalam jumlah yang banyak sehingga tidak ada tempat, baik di dalam ataupun di sekitar madrasah tersebut untuk menampung para pengikutnya.

Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani r.a berkata mengenai permulaan mengajarnya, “pada suatu pagi aku melihat Rasulullah SAW, beliau bertanya kepadaku, mengapa engkau tidak berbicara? Aku berkata, aku adalah orang Persia/parsi (beliau lahir di Parsi), bagaimana aku dapat berbicara dengan Bahasa arab yang indah dari Baghdad?
“buka mulutmu,” beliau berkata, dan kulakukan perintah beliau. Nabi Muhammad SAW lantas meniup nafasnya ke mulutku tujuh kali lalu berkata, “pergilah,tunjukilah umat manusia dan ajaklah mereka kepada jalan Tuhanmu dengan bijak dan kata-kata indah.”
Aku menjalankan solat zuhur,dan aku melihat ramai orang sedang menungguku berbicara. Ketika melihat mereka aku menjadi gembira,namun lidahku seakan-akan terkunci.

Kemudian aku melihat Imam Ali bin Abi Thalib yang diberkati. Dia mendatangiku dan memintaku untuk membuka mulutku, kemudian meniupkan nafasnya sendiri ke dalam mulutku sebanyak enam kali. Aku bertanya, “mengapa anda tidak melakukannya sebanyak tujuh kali seperti yang dilakukan Rasulullah SAW?
Sayyidina Ali r.a berkata, “kerana rasa hormatku kepada beliau Rasulullah SAW”. Kemudian Sayyidina Ali r.a pun menghilang.
Dari mulutku yang terbuka, keluarlah kata-kata, “sesungguhnya fikiran adalah juru-selam,menyelam jauh ke dalam lautan hati untuk menemukan mutiara kebijaksanaan (hikmah), ketika dia membawanya ke pantai kemakhlukannya, dia tumpah dalam bentuk kata-kata dari bibirnya dan dengan itu dia membeli ketaatan tak ternilai di pasar-pasar ibadah Allah SWT.”

Kemudian aku berkata, “dalam suatu malam, seperti salah satu dari malamku, jika seseorang diantaramu hendak membunuh keinginan-keinginan rendahnya,kematian akan terasa begitu manis sehingga engkau tidak akan dapat merasakan sesuatu yang lain di dunia ini.”
Sejak saat itu, walau dalam apa keadaan sekalipun bangun atau tidur ,aku tetap mempertahankan tugasku mengajar. Banyak sekali pengetahuan tentang keimanan dan agama dalam diriku, jika tidak berbicara dan menuangkannya keluar, aku akan merasakan bahwa hal itu akan meneggelamkan diriku. Ketika pertama kali mengajar, aku hanya mempunyai dua atau tiga orang murid sahaja, ketika mereka mendengarku, jumlah mereka bertambah menjadi tujuh puluh ribu orang.”

Madrasahnya, mahupun lingkungan/kawasan disekitarnya tidak dapat menampung para pengikutnya, oleh sebab itu, dicarilah tempat yang lebih luas. Orang kaya dan orang miskin di Baghdad turut membantu dalam penambahan bangunan-bangunan yang baru. Mereka yang kaya membantu dengan dana(wang), manakala yang miskin membantu dengan tenaga (kerja) mereka, termasuklah kaum perempuan yang turut membantu bekerja.

Kelak Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani,semoga Allah menyucikan jiwanya. Beliau merupakah seorang Imam,ahli dalam masalah-masalah keagamaan,tauhid dan fiqh dan pemimpin dari mazhab Syafi’I dan Hambali dalam Islam. Beliau adalah seorang yang sangat bijaksana dan berpengetahuan luas,seluruh manusia mendapat manfaat darinya. Doanya segera dikabulkan ,baik ketika berdoa untuk kebaikkan dan berdoa untuk hukuman. Dia adalah seorang yang banyak melakukan banyak keajaiban (karamah), manusia sempurna, yang selalu sedar serta ingat kepada Allah Azza Wa Jalla, merenung (muraqabah) ,berfikir,menerima dan memberi pelajaran.

Dia mempunyai hati yang lembut,sifat yang mulia dan wajah yang selalu tersenyum,dia orang yang peka dan memiliki sikap yang sangat baik,berakhlak dalam tabiat serta dermawan dalam memberi materi (wang) dan nasihat serta pengetahuan. Dia mencintai orang-orang,tetapi secara khususnya terhadap orang-orang yang beriman dan mengabdikan serta beribadah kepada Dzat Yang Maha Esa, menolong kepada siapa yang beriman.

Dia tampan selalu berpakaian rapi, pembicaraannya (kata-katanya) tidak berlebihan dan sia-sia. Apabila berbicara, meskipun dia berbicara dengan cepat tetapi setiap kata dan suku katanya yang keluar terdengar jelas. Beliau berbicara dengan penuh keindahan dan dia berbicara kebenaran. Bicara tentang kebenaran tanpa ragu-ragu kerana dia tidak peduli dirinya apakah dia akan dipuji,dikritik atau dicaci.

Ketika Khalifah Al-Muqtafi mengangkat Yahya bin Sa’id sebagai kadi (ketua hakim), Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani menuduhnya dihadapan orang ramai, dengan mengatakan “anda telah mengangkat seorang tiran(orang yang zalim) yang paling buruk sebagai hakim atas orang-orang yang beriman. Biarlah kita lihat bagaimana anda akan menjawab untuk diri anda sendiri kelak ketika anda dihadapkan kepada Hakim Maha Agung, Allah Azza Wa Jalla Tuhan alam semesta.”

Mendengar hal ini, Khalifah tergoncang dan menitiskan air mata, lalu ia segera memecat sang hakim.
Penduduk Kota Baghdad mengalami kemajuan dalam hal akhlak dan rohani dan tingkah laku. Melalui pengaruhnya, kebanyakkan warga kota bertaubat dan menyatakan penyesalan, mengikuti akhlak yang baik dan perintah-perintah Islam. Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani dicintai dan dihormati oleh setiap orang, dan pengaruhnya tersebar kemana-mana. Orang-orang berbudi mencintainya, sedangkan para tiran (orang yang zalim) dan orang jahat takut kepadanya. Banyak orang termasuk para raja,menteri dan orang-orang bijak datang kepadanya untuk menanyakan persoalan-persoalan dan mencari penyelesaiannya, bahkan banyak orang Yahudi dan Nasrani menerima Islam melaluinya.

Dalam pengajaran dan pelayanannya (khidmatnya) kepada umat manusia, dia menggunakan sifat-sifat yang diwarisi oleh Yang Maha Tinggi.
Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani r.a berkata “seorang Syeikh spiritual (Sufi) bukan seorang guru yang sebenarnya,kecuali kalau dirinya memiliki/mempunyai dua belas sifat. Dua diantara sifat-sifat tersebut adalah sifat-sifat Allah Yang Maha Tinggi,iaitu menyembunyikan kesalahan manusia dan ciptaan yang lain,tidak hanya dari orang-orang lain tetapi bahkan dari diri mereka sendiri,dan memiliki perasaan terharu (kasihan) dan kemahuan memaafkan untuk dosa yang terburuk sekalipun.

Dua sifat diwarisi oleh Nabi Muhammad SAW iaitu cinta dan lemah lembut. Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a yang pertama dari keempat khalifah, seorang Syeikh (guru) sejati,mewarisi kebenaran,kejujuran,dan keikhlasan hati, juga ketaatan dan kemurahan hati (kedermawanan). Dari Sayyidina Umar bin Khaththab r.a, iaitu keadilan dan menekankan kebenaran serta mencegah kesalahan. Dari Sayyidina Utsman bin Affan r.a iaitu, kerendahan hati dan bangun serta berdoa ketika manusia lainnya dalam keadaan tertidur dan dari Sayyidina Ali bin Abi Thalib r.a, iaitu pengetahuan dan keteguhan hati serta keberanian (kependekaran).”

Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani r.a sangat sayang kepada puluhan ribu pengikutnya sebagaimana seorang ayah sayang kepada anaknya. Dia mengetahui nama dan memperhatikan masalah-masalah duniawi juga keadaan spiritual mereka, dia membantu dan menyelamatkan mereka dari bencana kemalangan, bahkan jika mereka berada di tempat jauh sekalipun. Dia adalah seorang ayah bersama anak-anaknya dan memperlakukan mereka dengan penuh kelembutan dan keharuan (belas kasihan). Kepada orang yang lebih tua darinya, dia seolah-olah menjadi lebih tua daripada mereka dan memperlakukan mereka dengan hormat.

Dia menjalinkan persahabatan dengan kalangan orang miskin dan lemah, serta tidak pernah mencari teman diantara orang-orang terkenal dan berkuasa, orang-orang seperti itu memperlakukannya seolah-olah raja dari segala raja.

Salah seorang dari anak lelaki pembantunya menceritakan bahwa ayahnya, Muhammad bin Al-Khaidir melayani Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani selama tiga belas tahun, dirinya tidak pernah melihat seekor lalat hinggap pada dirinya dan tidak pula dia pernah melihat membuang hingus (di khalayak ramai). Meskipun Tuan Syeikh memperlakukan kaum lemah dan miskin dengan rasa hormat yang besar, pembantunya tidak pernah melihatnya berdiri ketika para sultan (penguasa) datang mengnjunginya dan tidak pula dia mengunjungi mereka atau dia tidak memakan makanan mereka kecuali sekali, ketika seorang raja datang berkunjung kepadanya, dia meninggalkan ruang jamuan dan datang kembali setelah raja dan pesta jamuannya selesai, sehingga mereka akan menyambutnya dengan berdiri.

Ketika dia menulis surat kepada khalifah, dia mengatakan bahwa Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani memerintahkan dia untuk melakukan ini atau itu dan bahwa hal itu merupakan kewajiban bagi khalifah untuk mentaatinya kerana dia adalah pemimpin mereka. Apabila khalifah menerima surat seperti itu,dia akan mencium surat itu sebelum dia membacanya dan berkata “Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani benar,sesungguhnya dia mengatakan kebenaran!”.
Abu Hasan, salah seorang hakim agung pada masa itu menceritakan, “Aku mendengar Khalifah Al-Muqtafi berkata kepada menterinya, Ibnu Hubaira, “syeikh Abdul Qadir Al-Jailani mentertawakanku dan hal itu amat jelas bagi orang-orang di sekitarnya bahwa yang dia maksudkan adalah aku. Dilaporkan kepadaku bahwa dia menunjukkan sebuah pohon kurma dikebunnya dan berkata, “engkau lebih baik bekerja, jangan bepergian (berjalan) terlalu jauh atau aku akan memenggal kepalamu!”.

Sekarang kamu, wahai Ibnu Hubaira, pergi dan berbicaralah kepadanya seorang diri dan katakan, “anda jangan mengejek dan mengancam kahlifah, anda harus tahu bahwa kedudukan khalifah adalah suci dan harus dihormati”, sang menteri Ibnu Hubaira pergi kepada Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani dan melihatnya sedang berkumpul dengan kerumunan orang ramai. Dalam perbicaraannya pada satu pokok, tiba-tiba dia menyatakan, “sesungguhnya aku akan memenggal kepalanya juga”.

Sang menteri merasa bahwa yang Syeikh maksudkan adalah dia dan merasa takut serta ngeri, dia pun melarikan diri dan mengatakan apa yang terjadi kepada khalifah. Sang khalifah menitiskan air mata dan berkata, “sungguh,Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani adalah orang yang hebat”, lalu dia pergi menemui Syeikh untuk dirinya sendiri, Syeikh telah memberinya banyak nasihat dan khalifah menangis dan terus menangis.

Meskipun sangat belas kasihan dan memiliki peribadi dan sikap yang sangat baik,lemah lembut dan mencintai,menepati janji,adil dan keras dalam pengadilannya, Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani r.a tidak pernah memperlihatkan kemarahan yang ditujukan kepada dirinya, tetapi sesuatu tindakkan kesalahan dilakukan terhadap keimanan dan agama, dia akan marah besar dan memberi hukuman yang berat.

Syeikh Abu Najib As-Suhrawardi menceritakan, “pada tahun 523 H, aku bersama Syeikh Hammad, guru Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani yang juga hadir, ketika itu Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani membuat pertanyaan keras, mendengar itu, Syeikh Hammad berkata kepadanya, “wahai Abdul Qadir,engkau berbicara terlalu angkuh! Aku khuatir Allah tidak redha kepadamu”.
Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani mletekkan tangannya di atas dada Syeikh Hammad lalu berkata, “lihat telapak tanganku dengan mata hati” dan berkata lagi, “dan katakan kepadaku apa yang tertulis diatasnya?”

Ketika Syeikh Hammad tidak dapat mengatakannya, Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani mengangkat tangan dari dada Syeikh tersebut dan memperlihatkan tangan tersebut kepadanya, diatasnya termaktub (tertulis) tulisan bercahaya, yakni “Dia menerima tujuh puluh janji dari Allah SWT, bahwa dia tidak akan pernah dikecewakan”.

Syeikh Hammad melihatnya, dia berkata, “tidak akan pernah ada yang menjadi suatu keberatan pada orang yang diberkati dengan janji Ilahiyah seperti itu, tidak ada seorang pun pernah dapat berkeberatan kepadanya, Allah Ta’ala memberkati siapa sahaja yang sesungguhnya Dia kehendaki diantara hamba-hambaNya.

Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani r.a biasa berkata, “tidak ada seorang pun diantara pengikutku (muridku) akan mati sebelum mereka taubat penuh penyesalan. Mereka semua akan mati sebagai hamba-hamba Allah yang beriman, masing-masing diantara pengikutku yang akan menyelamatkan tujuh orang saudaranya yang berdosa dari api neraka. Seandainya jauh di barat,alat kelamin salah seorang dari pengikutku kerana kurang berhati-hati tersingkap secara tiba-tiba, kami meskipun berada jauh di timur akan menutupinya sebelum seseorang dapat melihat (sebagai suatu kiasan).

Aku telah diberi sebuah kitab, iaitu sebuah kitab yang panjangnya sejauh mata dapat melihatnya, berisi semua nama orang yang akan mengikutiku hingga akhir zaman,dengan berkat Allah Ta’ala, kami akan menyelamatkan semua diantara mereka, diberkati orang-orang yang melihatku, aku rindu kepada orang-orang yang tidak akan melihatku.

Semua orang yang mengikatkan diri mereka sendiri kepada Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani senantiasa damai dan bergembira. Seseorang bertanya kepada Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani, “kamu tahu kedudukan para pengikut anda yang soleh dan apa yang menanti mereka di akhirat? Akan tetapi bagaiman tentang mereka yang buruk?,” beliau menjawab “orang-orang yang soleh sayang kepadaku dan aku menyayanginya demi menyelamatkan mereka yang buruk.”

Seorang wanita muda menjadi pengikut Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani yang tinggal di sri-lanka, pada suatu hari dia diserang di sebuah tempat yang sepi oleh seorang lelaki yang hendak memperkosanya, dalam keadaan tidak berdaya, dia berteriak (menjerit) ,“selamatkan aku, wahai Syeikhku Abdul Qadir AL-Jailani!”
Saat itu Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani r.a sedang mengambil wudhuk di Baghdad, orang-orang melihat Syeikh tiba-tiba berhenti kemudian dengan marah, dia mengambil terompahnya dan melemparkannya ke atas, mereka tidak melihat terompah tersebut jatuh, kerana terompah tersebut jatuh diatas kepala orang yang sedang menyerang gadis muda itu di sri-lanka dan membunuhnya. Disebutkan bahwa terompah tersebut tetap berada disana (sri-lanka), disimpan sebagai barang peninggalan.

Syeikh Ath-Thustari menceritakan bahwa suatu hari para pengikut Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani di Baghdad mencarinya ke mana-mana, tiba-tiba seseorang berkata kepada mereka bahwa dirinya telah melihatnya (Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani) sedang berjalan menuju ke sungai Tigris. Lalu, para pengikutnya berlarian menuju ke sana hendak menyusulnya, ketika sampai di sungai tersebut, mereka melihat Syeikhnya itu berada ditengah sungai sedang berjalan di atas air menuju ke arah mereka, semua ikan menjulurkan kepalanya ke atas permukaan air dan memberi salam.
Hal itu terjadi pada waktu solat zuhur, mereka melihat di atas mereka selembar sejadah yang luas membentang di atas kepala mereka, menutupi seluruh langit, sejadah tersebut berwarna hijau dan dipermukaannya bersulamkan ayat-ayat dari emas dan perak.

Ertinya: Ingatlah sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada kekhuatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati.
(surah yunus: 62)

Ertinya: Para malaikat itu berkata, “apakah kamu merasa hairan tentang ketetapan Allah? (itu adalah) Rahmat Allah dan keberkatan-Nya dicurahkan atas kamu, hai ahlul bait! Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah.”
(surah Hud:73)

Sejadah tersebut terapung seperti sejadah terbangnya Nabi Sulaiman a.s, dan turun ke bumi, orang-orang merasa takjub,diam dan dengan tenang mereka berjalan menuju kepadanya. Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani berpakaian indah melangkah diatas sejadah tersebut dan memimpin mereka melakukan solat diatasnya, ketika dia mengangkat tangannya dan mengucapkan “Allahu Akbar”, seluruh seolah-olah menggemakan suara yang sama, ketika dia berdoa, para malaikat dari tujuh petala langit dalam paduan suara mengulang doanya. Ketika dia mengucapkan, “segala puji syukur hanya bagi Allah semata”, sebuah cahaya hijau keluar dari mulutnya, menyelimuti langit. Pada akhir solat (setelah salam), Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani r.a membuka kedua tangannya dan berkata, “Ya Allah, Ya Tuhanku, demi leluhurku (keturunan) Nabi Muhammad SAW, kekasih-Mu, dan demi orang-orang diantara ciptaan-Mu yang takut dan mencintai-Mu. Jangan ambil sesuatu dari para pengikutku kepada-Mu sampai mereka dimaafkan dari dosa-dosanya dan sampai keimanan mereka sempurna.”

Pada saat itu, setiap orang mendengar dengungan senandung dari para malaikat dan mengatakan, “Amin”, mereka juga mengikuti para malaikat dengan mengucapkan “Amin”. Kemudian mereka mendengar satu suara (hatif) dari dalam diri mereka kata-kata “bergembiralah!” Aku telah menerima doa kalian.”

Rasulullah SAW bersabda,”seorang guru (Syeikh) yang sempurna adalah bagaikan seorang Nabi bagi kaumnya”
Sesungguhnya Hadhrat Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani adalah salah seorang diantara para Syeikh yang sempurna tersebut yang telah membukakan orang-orang kepada pintu gerbang kebahagiaan di dunia ini dan pintu gerbang syurga di akhirat.

Setelah Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani r.a menguasai nafsunya dan menjadi seorang yang sempurna dan hanya dengan di-ilhami perintah Rasulullah SAW dia menjadi seorang Syeikh dan membangun/ menjalin hubungan dengan orang-orang. Dirinya sentiasa mengikut teladan dari leluhurnya (keturunannya) Nabi Muhammad Rasulullah SAW.

Ketika pengaruh ajaran Sayyid Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani r.a tersebar ke seluruh pelusuk dunia, banyak diantara murid-muridnya mendapat kedudukan penting dan banyak pejabat (pegawai pemerintah) yang menjadi muridnya sesuai kemampuan mereka, kualiti dunia dalam batin dan tingkatan spiritual, dia memerintahkan banyak diantara murid-muridnya untuk bertindak sebagai wakil-wakilnya.

Diantaranya ada yang dijadikan sebagai guru spiritual dan yang lainnya sebagai hakim (qhadi), bahkan diantara muridnya dia tetapkan sebagai gabenor dan para pemegang kekuasaan dunia.
Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani r.a telah memberikan seluruh dirinya kepada Allah Azza Wa Jalla. Malam-malamnya berlalu dengan sedikit atau bahkan tanpa tidur, dalam doa dan perenungan(muraqabah) menyendiri. Dia menghabiskan hari-harinya sebagai seorang pengikut sejati Nabi Muhammad SAW dalam pelayanan (berkhidmat) kemanusiaan tiga kali dalam seminggu, dia selalu menyampaikan “pengajian umum” kepada puluhan ribu manusia. Setiap hari diwaktu pagi dan petang dia memberi pengajaran tafsir Al-Quran,hadis Nabi SAW, ilmu Tauhid,ilmu Fiqh dan Tasawuf. Setelah solat zuhur, dia memberikan nasihat dan waktu konsultasi kepada orang-orang, sama ada orang itu pengemis atau raja, siapa saja yang datang akan dilayaninya.

Sebelum solat asar, hujan ataupun cerah, dia pergi ke jalanan untuk membagikan (memberikan) makanan (roti) kepada orang-orang miskin. Dalam seluruh hari-harinya dibulan Ramadhan, Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani hanya makan sekali sehari, setelah solat maghrib,beliau tidak pernah makan sendirian. Khadam (pembantu)nya akan berdiri dipintu menayakan orang-orang yang lewat (melalui) jika mereka lapar agar mereka dapat ikut makan.
Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani r.a wafat pada hari sabtu tanggal 8 Rabi’uts Tsani tahun 561H/1166M, pada usia 91 tahun. Makamnya yang berada di Madrasah Babud Darajah di Kota Baghdad Iraq, yang telah menjadi tempat penting dari kunjungan para penziarah kaum sufi dan semua muslim.

Ketika menghidap penyakit yang menghantarkan kewafatannya itu, salah seorang anak lelakinya iaitu Abdul Aziz melihat bahwa dia menderita sakit yang luar biasa, meregang dan menggulingkan tubuh ditempat tidurnya.
“jangan mencemaskanku “Syeikh berkata kepada putranya, “aku berbalik dan berbalik lagi dalam pengetahuan Allah Azza Wa Jalla.”
Ketika anak lelakinya yang lain, yakni Abdul Jabbar bertanya kepadanya tentang rasa sakitnya, dia berkata, “semua tubuhku terasa sakit kecuali hatiku, tidak ada rasa sakit disini kerana hati ini bersama Allah!”

Anak lelakinya yang lain, iaitu Abdul Wahhab berkata kepadanya, “berilah aku beberapa nasihat tentang apa yang harus dilakukan setelah engkau meninggalkan dunia ini.”
Dia berkata, “takutlah kepada Allah dan tiada sesuatu pun yang lain, berharaplah dari Allah dan percayakan seluruh kebutuhanmu (keinginan/keperluan) kepada-Nya, tidak mengharap dan menginginkan apa pun kecuali Dia, menyandarkan diri kepada Allah dan tidak kepada sesuatu yang lain,bersatu dengan-Nya,bersatu dengan-Nya, bersatu dengan-Nya.”

Sebelum meninggal dunia, Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani melihat sekeliling dan berkata kepada orang-orang yang hadir, “telah datang dihadapanku selain kalian, Makhluk lain yang kalian tidak melihatnya telah datang kepadaku. Persiapkan ruangan dan belaku sopan santunlah kepada mereka! (yakni menghormati kehadiran para malaikat yang tidak dapat dilihat) Aku adalah biji tanpa kulit, kalian melihatku bersama kalian, sementara aku dengan seseorang yang lain, sebaiknya kalian meninggalkanku sekarang.”

Kemudian dia berkata, “wahai malaikat pencabut nyawa, aku tidak takut kepadamu,tidak juga kepada sesuatu pun yang lain. Kecuali kepada-Nya Azza Wa Jalla yang telah menemaniku dan bermurah hati kepadaku!”
Pada saat terakhir, dia mengangkat tangan dan berkata, “tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasul-Nya. Kemuliaan hanya bagi Allah Yang Maha Agung, Yang Hidup Abadi, kemuliaan hanya milikNya,Yang Maha Kuasa, Yang Menguasai hamba-hamba-Nya dengan kematian.”

Kemudian dia mengeluarkan seruan yang keras dan berkata, Allah,Allah,Allah! Dan rohnya yang mulia serta diberkati meninggalkan jasadnya.
Semoga Redha Allah disampaikan untuknya.

Maka telah wafat kekasih Allah dengan penuh keindahan maknawi.
Tamat…..

Senin, 23 Mei 2016

Syekh Abdul Qadir Jaelani Kuasa atas Raja Jin

Syekh Abdul Qadir Jaelani 

Kuasa atas Raja Jin
Syekh Abu Futub Muhammad bin Abul ‘Ash Yusuf bin Isma’il bin Ahmad ‘Ali Qarsyi at-Tamimi al-Bakari al-Baghdadi meriwayatkan, bahwa suatu ketika Syekh Abu Sa’id ‘Abdullah bin Ahmad bin Muhammad al-Baghdadi al-Azja’i datang kepada Syekh ‘Abdul Qadir al-Jailani dan mengatakan bahwa putrinya yang berusia 16th, Fatimah yang sangat cantik, kemarin naik ke tingkat rumah, tapi tiba-tiba dia lenyap dari sana. Ketika Syekh ‘Abdul Qadir al-Jailani mendengar hal ini, beliau menghiburnya dan mengatakan kepadanya agar tidak perlu khawatir.
Sang Wali Agung kemudian memerintahkan dia untuk pergi ke sebuah hutan pada malam hari. Syekh ‘Abdul Qadir al-Jailani menyatakan bahwa di dalam hutan dia akan melihat banyak gundukan pasir. Dia harus duduk di gundukan pasir keenam yang dilewatinya, dan harus membuat sebuah gambar lingkaran di sekeliling dirinya sambil berkata, “Bismillah,” dan kemudian berkata, “Abdul Qadir.”
Syekh ‘Abdul Qadir al-Jailani berkata, “Menjelang sepertiga malam terakhir kau akan melihat pasukan jin berlalu. Mereka tampak sangat mengerikan dan ganas, tetapi engkau tak perlu takut, engkau harus tetap duduk dan menunggu. Tepat pada saat cahaya matahari pertama tampak, raja jin yang paling berkuasa akan lewat, dan dia akan menghampirimu lalu menanyakan permasalahanmu. Jelaskanlah permasalahanmu kepadanya, dan katakan bahwa aku yang mengutusmu. Beritahukan kepada raja jin itu tentang putrimu yang hilang.”
Syekh Muhammad al-Baghdadi berkata, “Aku mengerjakan apa yang Syekh ‘Abdul Qadir al-Jailani perintahkan. Aku duduk di gundukan pasir tersebut dan menunggu. Setelah beberapa waktu, aku melihat pasukan jin dalam rupa-rupa yang mengerikan melintas. Mereka sangat marah kepadaku karena aku duduk di tengah-tengah jalannya, namun mereka tetap berlalu tanpa mengucap sepatah katapun, karena mereka tidak berani memasuki lingkaran tersebut. Pada waktu fajar, sang raja jin melintas, lalu menanyakan permasalahanku. Ketika aku mengatakan bahwa yang mengutusku adalah Syekh ‘Abdul Qadir al-Jailani, maka dia segera turun dari kudanya dan berdiri dengan penuh hormat mendengarkan perkataanku, lalu dia mengutus para jin untuk mencari jin yang telah menculik putriku. Akhirnya, putrikupun kembali, dan jin yang telah menculik putriku itu dihukum oleh sang raja jin.”

Syekh Abdul Qadir Jaelani

Syekh Abdul Qadir Jaelani 

Beliau adalah tuan kita, teladan dari semua wali terbaik, papan arah menuju arah yang benar, beliau adalah poros ketuhanan (Qutub Rabbani), nama lengkap beliau adalah Abu Shalih Sayyidi ‘Abdul Qadir bin Musa bin ‘Abbdullah bin Yahya az-Zahid bin Muhammad bin Dawud bin Musa al-Jun bin ‘Abdullah al-Mahdhi bin al-Hasan al-Musatanna bin al-Hasan bin Ali bin Abi Thalib. Beliau yang terkenal dengan nama ‘Abdul Qadir al-Jailani. Beliau lahir pada tahun 470 H, dan wafat pada tahun 561 H. dimakamkan di Baghdad.
Ibu beliau adalah Ummul Khair (dalam bahasa arab berarti ibu kebaikan), ia pernah berkisah: “Ketika aku melahirkan ‘Abdul Qadir al-Jailani, dia tidak mau menyusu ke puntingku selama siang hari bulan Ramadhan. Bulan baru Ramadhan suatu kali tertutup awan sehingga orang-orang datang kepadaku dan bertanya tentang ‘Abdul Qadir al-Jailani, maka aku katakan kepada mereka, bahwa ‘dia tidak menyusu pada puntiingku hari ini.’ Hal itu kemudian menjadi isyarat yang jelas bahwa hari itu adalah awal Ramadhan.”
Kabar tersebut lalu menyebar luas, bahwa seorang bocah (‘Abdul Qadir al-Jailani) lahir dengan membawa berbagai kemuliaan (keajaiban), dan bahwa ia adalah bayi yang tidak mau menyusu di siang hari Ramadhan. Dan dikabarkan pula, bahwa sang Ibunda mengandungnya ketika berusia 16th. Dikatakan bahwa, tidak mungkin ada gadis 16th bisa hamil kecuali dia perempuan Quraisy, dan tidak ada gadis 16th yang bisa punya anak kecuali dia pasti orang Arab.
Ketika ‘Abdul Qadir al-Jailani lahir, sang bayi disambut oleh tangan-tangan keanugerahan yang agung, dan sang bayi diliputi oleh cahaya petunjuk di belakangnya maupun di depannya.
Ketika ‘Abdul Qadir al-Jailani berusia 5th, sang ibu mengirimkannya ke sebuah madrasah lokal di Jilan. Beliau menuntut ilmu di madrasah tersebut hingga berumur 10th. Selama belajar di madrasah tersebut, beberapa peristiwa menakjubkan terjadi. Setiap kali ‘Abdul Qadir al-Jailani akan memasuki madrasah, beliau melihat sosok-sosok bercahaya  yang berjalan di depanya sambil berkata, “Beri jalan untuk Wali Allah!” Dan ketika beliau pernah ditanya kapan beliau mengetahui bahwa dirinya menerima walayah(pangkat kewalian), beliau menjawab, “Ketika aku berusia sepuluh tahun, kulihat para malaikat berjalan mengiringiku dalam perjalanan menuju madrasah, dan mereka selalu berkata, “Beri jalan untuk Wali Allah.” Kejadian itu terus menerus berulang sampai aku paham bahwa aku dianugerahi walayah.”

Berpisah dengan Sang Bunda
Adalah Syekh Muhammad bin Qa’id al-Awani yang berkata, bahwa al-Jailani muda meminta izin kepada sang Bunda untuk pergi ke Baghdad menimba ilmu, beliau berkata “Bunda, berilah aku kesempatan untuk menuju Allah Swt. Izinkan aku pergi ke Baghdad, di mana aku akan berusaha memperoleh ilmu pengetahuan dan di sana aku akan bertemu dengan orang-orang shalih.” Sang Bunda menangis mendengar beliau akan pergi, kemudian masuk ke dalam kamar dan mengambil uang sebanyak delapan puluh dinar. Uang itu adalah warisan dari ayahanda beliau. Kemudian sang Bunda memasukkan uang tersebut ke dalam saku beliau empat puluh dinar, dan sisanya dimasukkan ke saku baju mantel beliau. Sang Bunda meminta beliau berjanji untuk selalu berlaku jujur dalam keadaan apapun. Ketika sang Bunda mengantar beliau sampai di depan pintu rumah, sang Bunda mengucapkan selamat tinggal dan berkata, “Anakku, pergilah, karena aku telah melepaskan engkau demi mencari Allah. Aku tahu, mungkin aku tidak akan bertemu lagi dengan wajahmu hingga hari kebangkitan kelak.” Maka pergilah beliau menuju Baghdad.
Sejarah hidup beliau terus berlanjut sampai akhirnya beliau menetap di Baghdad, dan waktu itu umur beliau 18th. Pada masa itu, khalifah yang berkuasa di Baghdad adalah al-Mustazhir. Ketika beliau akan memasuki kota Baghdad, beliau dihadang oleh al-Khidir sembari berkata kepadanya, “Aku tidak akan pernah mengizinkan kamu masuk ke kota Baghdad sampai tujuh tahun ke depan.” Beliau akhirnya tinggal di pinggiran sungai tigris selama tujuh tahun dengan hanya memakan dedaunan dari jenis yang boleh dimakan sampai suatu kali leher beliau berubah warna menjadi hijau.
Pada suatu malam beliau mendengar suara yang mengatakan, “Wahai ‘Abdul Qadir al-Jailani, sekarang masuklah ke Baghdad.” Setelah mendengar suara itu, beliau segera memasuki Baghdad. Malam itu cuaca sangat dingin dan hujan, maka ‘Abdul Qadir al-Jailani mendekati zawiyah (pondokan sufi) Syekh Hammad bin Muslim ad-Dabbas. Akan tetapi, Syekh Hammad berkata kepada muridnya, “Kuncilah pintu zawiyah, tetapi buatlah cahaya lampu tetap menyinari ke arah luar zawiyah.”
‘Abdul Qadir al-Jailani hanya duduk di samping pintu, lalu Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan kantuk kepadanya hingga beliau tertidur. Saat terbangun, beliau dalam keadaan hadats besar (mimpi basah), maka dengan segera beliau mandi besar. Kemudian Allah ta’ala menurunkan kantuk lagi kepada beliau, dan beliau pun tertidur lagi. Saat bangun, beliau hadats besar lagi, lalu beliau segera mandi besar lagi. Demikian itu terjadi berulang-ulang hingga 17 kali. Akhirnya, ketika fajar menyingsing, pintu zawiyah terbuka dan ‘Abdul Qadir al-Jailani melangkah masuk.
Syekh Hammad ad-Dabbas segera melangkah maju menyambut beliau, lalu memeluk erat beliau, dan memberi beliau rangkulan yang hangat. Airmata menetes di pipi Syekh al-Dabbas sembari ia berkata, “Oh anakku, ‘Abdul Qadir al-Jailani, hari ini adalah tanggungjawab kami di sini (zawiyah ini), jika nanti kamu telah memegangnya, maka bimbinglah si tua yang rambutnya telah memutih ini.”

Para Guru Syekh ‘Abdul Qadir al-Jailani
‘Abdul Qadir al-Jailani memperoleh latihan spiritual di Baghdad dari dua sufi terbesar di zaman itu,  Syekh Sayyid Abu al-Khair Hammad bin Muslim ad-Dabbas dan Syekh Qadhi Abu Sa’id Mubarak al-Makhzumi. Meskipun beliau memperoleh banyak berkah dari kedua guru tersebut, namun beliau belum memberi baiat alias menduduki posisi mursyid.
Kemudian beliau menjadi murid Syekh Qadhi Abu Sa’id Mubarak al-Makhzumi sekaligus bergabung dalam halaqah dan tarekatnya. Syekh Qadhi Abu Sa’id al-Makhzumi menunjukkan rasa cintanya yang sangat besar terhadap murid istimewanya ini, dan memberkahinya dengan mutu-manikam spiritualis dan tasawuf. Suatu kali ‘Abdul Qadir al-Jailani dan para murid yang lain sedang duduk bersama dengan Syekh, kemudian Syekh meminta ‘Abdul Qadir al-Jailani untuk pergi mengambil sesuatu. Setelah ia pergi, Syekh al-Makhzumi  berkata kepada murid-muridnya yang lain, “Suatu hari nanti, kaki pemuda itu akan menginjak tengkuk semua Auliya’ (para wali Allah).”
Setelah beberapa waktu tinggal di Baghdad, ‘Abdul Qadir al-Jailani mengikuti pendidikan di Jami’ah Nizhamiyah yang tersohor sebagai pusat pendidikan dan ilmu keruhanian di dunia Islam. ‘Abdul Qadir al-Jailani menuntut ilmu dengan penuh keikhlasan dan kesungguhan. Di antara guru-guru beliau yang memberikan ilmu Qira’at, Tafsir, Hadits, Fiqih, Syari’at, dan Tarekat adalah: Abul Wafa’ ‘Ali bin ‘Aqil, Abu Zakaria Yahya bin ‘Ali at-Tabrizi, Abu Sa’id bin ‘Abdul Karim, Abul Ana’im Muhammad bin ‘Ali bin Muhammad, Abu Sa’id bin Mubarak al-Makhzumi, dan Abul Khair Hammad bin Muslim ad-Dabbas.
Dalam bidang adab salah satu guru beliau yang merupakan seorang ‘Alim besar pada masa itu ialah al-‘Allamah Zakariya at-Tabrizi. Dan dalam bidang Fiqih dan ushul Fiqih guru-guru beliau adalah: Syekh Abul Wafa’ bin ‘Aqil al-Hanbali, Abul Hasan Muhammad bin Qadhi Abul Ula, Syekh Abul Khatab Mahfuzh al-Hanbali, dan Qadhi Abu Sa’id al-Mubarak bin Ali al-Makhzumi al-Hanbali. Dalam bidang Hadits, beliau menerima ilmu dari para ulama sebagai berikut: Sayyid Abul Barakat Thalhah al-Aquli, Abul Ana’im Muhammad bin ‘Ali bin Maimun al-Farsi, Abu ‘Uthman Isma’il bin Muhammad al-Ishbihani, Abu Ghalib Muhammad bin Hasan al-Baqillani, Abu Muhammad Ja’far bin Ahmad bin al-Husaini, Sayyid Muhammad Mukhtar al-Hasyimi, Sayyid abu Manshur ‘Abdur Rahman al-Qaz’az, dan Abul Qasim ‘Ali bin Ahmad Ban’an al-Karghi. Setelah menempuh pendidikan dengan tekun, ‘Abdul Qadir al-Jailani lulus dari Jami’ah Nizhamiyah. Pada masa itu tidak ada satupun ‘Alim di muka bumi yang lebih faqih dan saleh dibandingkan dengan ‘Abdul Qadir al-Jailani.

Belajar kepada al-Khidir
Abu as-Sa’ud al-Huraimi mengisahkan, aku suatu kali mendengar tuan kami Syekh ‘Abdul Qadir al-Jailani berkata: “Aku tinggal di kawasan padang gersang Irak selama 25th, sebagai pengembara terasing. Aku tidak tau apa dan siapa saja makhluk yang mengikutiku, dan mereka juga tidak ingin tau aku. Yang selalu mengunjungiku adalah manusia-manusia dari alam gaib (rijal al-Ghaib), sebangsa jin. Aku biasa mengajari mereka tentang jalan menuju Allah Swt. (tarekat).”
Aku juga dipertemukan dengan al-Khidhir a.s. ketika aku memasuki kota Irak untuk kali pertamanya, meskipun waktu itu aku tidak tau siapa dia sebenarnya, dan dia pernah berkata kepadaku bahwa aku tidak boleh menentangnya. Ketika kami mencapai sebuah kawasan, dia berkata kepadaku, “Duduklah dan tinggallah di sini,” maka aku duduk dan tinggal di tempat itu sebagaimana dia memerintahkanku. Selama kurun waktu tiga tahun penuh, dia akan datang kepadaku setiap tahunnya, dan dia berkata kepadaku, “Tetaplah tinggal di situ sampai aku kembali.” Segala pesona dunia serta daya tariknya selalu datang kepadaku dalam berbagai bentuk dan tipu muslihat. Setan-setan juga mendatangiku dalam berbagai wujud serta mengoda dengan keahliannya. Tidak sedikit dari setan-setan itu yang terlibat perkelahian denganku, tetapi Allah subhanahu wa ta’ala selalu menguatkanku dalam menghadapi mereka.
Aku tinggal selama waktu yang lama di kawasan-kawasan gersang kota-kota Irak. Aku memaksa jiwa rendahku untuk melakukan tugas-tugas berat melalui metode disiplin spiritual. Kemudian aku menghabiskan waktu selama satu tahun dengan hanya makan dari sisa-sisa sampah tanpa minum air sedikitpun, kemudian selama satu tahun berikutnya sambil minum air. Kemudian selama satu tahun penuh dengan hanya minum air, tetapi tanpa menyantap apapun, dan di tahun berikutnya aku  tidak minum, tidak juga makan, dan tidak tidur sama sekali. Aku juga bermukim selama beberapa tahun di kawasan gersang nan tandus di sebuah daerah pinggiran kuno kota Baghdad, di mana satu-satunya sumber makananku adalah dedaunan lontar. Pada setiap awal tahun, seseorang akan datang kepadaku dengan mengenakan jubah yang terbuat dari wol.
Aku sudah memasuki seribu lebih kondisi wujud yang berbeda-beda, dengan tujuan untuk membebaskan diri dari dunia milik kalian ini, dan keadaan yang menimpaku itu hanya dapat dipandang sebagai bentuk ketololan, kegilaan, dan ketidakwarasan. Aku biasa berjalan tanpa alas kaki, melewati onak duri, kerikil tajam, dan tempat-tempat berbahaya sejenisnya. Tidak pernah sekalipun jiwa rendahku menang atas diriku, tidak juga ada satupun kemilau dunia yang mampu mengodaku”.

Ujian dari al-Khidir
Beliau, al-Khidhir, datang kepadaku untuk memberikan suatu ujian, sebagaimana ia telah menguji para wali-wali Allah yang lain sebelumku. Dia menyingkap kepadaku rahasia dari wujudnya dengan cara menampakkan wawasan menuju materi-materi yang aku dapatkan bersamanya, kemudian aku berkata kepadanya, “Wahai Khidhir, jika benar engkau pernah berkata pada Musa a.s. (kamu tidak akan pernah dapat bersabar bersamaku), maka sekarang aku akan katakan kepadamu, “Wahai Khidhir, bahwa kamu tidak akan pernah bersabar bersamaku, kamu seorang Israili, sementara aku adalah seorang Muhammadi, inilah kita, kamu dan aku, dan ini adalah bola polonya, celanaku masih terikat kuat dan pedangku belum disarungkan.”

Anugerah Jubah Sufi
Beliau juga berkata, “Selama sebelas tahun aku membetahkan diriku tinggal direruntuhan benteng yang saat ini disebut menara Persia. Tempat itu menjadi pemukiman panjangku. Di tempat itu aku membuat perjanjian dengan Allah Swt. bahwa aku tidak akan pernah makan sampai akhirnya ada yang menyediakan makanan buatku, dan aku tidak akan pernah minum sampai ada yang memberiku sarana untuk memuaskan dahagaku. Kemudian aku tinggal di situ selama empat puluh hari tanpa makan dan minum. Pada hari keempat puluh, datang seorang laki-laki membawa sepotong roti dan beberapa makanan, dia meletakannya di depanku dan segera beranjak pergi meninggalkanku sendiri. Nafsuku kemudian cepat-cepat memaksakan keinginan untuk menyambar makanan tersebut, maka aku katakana, “Demi Allah, makanan ini tidak sejalan dengan perjanjian yang aku ikrarkan kepada Allah,” kemudian di dalam batinku aku mendengar suara yang keras dan berteriak, “Lapar!” tapi aku tetap menolak untuk menurutinya.
Kebetulan pada saat itu Syekh Abu Sa’id al-Makarimi melintas di depanku dan mendengar suara teriakan itu, lalu ia mendekatiku dan bertanya kepadaku, “Apa arti teriakan tadi, wahai ‘Abdul Qadir al-Jailani?” Aku menjawab, “Tadi itu hanyalah bisikan jiwa rendahku, seperti halnya ruh, ia akan reda dengan sendirinya.” Kemudian ia berkata kepadaku, “Datanglah ke gerbang Al-Azaj.” Lalu ia pergi meninggalkanku, dan aku berkata kepada diriku sendiri, “Aku tidak akan pernah meninggalkan tempat ini, kecuali Tuhan sendiri yang memerintahkanku.”
Kemudian al-Khidhir a.s. datang kepadaku dan berkata, “Bangunlah dan pergilah ke Abu Sa’id al-Makarimi.” Maka akupun bergegas pergi, dan di sana aku menjumpainya sedang berdiri di depan rumahnya tengah menanti kedatanganku. “Wahai ‘Abdul Qadir al-Jailani,” katanya kepadaku, “Apakah belum cukup bagiku ketika aku katakana, “Datanglah kepadaku,” kemudian ia menganugerahkan jubah sufi dengan tangannya sendiri, dan semenjak saat itu, aku dengan tekun membaktikan diriku kepadanya, dan menjadi muridnya yang rajin. Semoga Allah meridhoinya.

Melayang saat Berdakwah
Al-Khatab, pembantu Syekh ‘Abdul Qadir al-Jailani, berkata: suatu hari ketika Syekh sedang memberikan ceramah, beliau tiba-tiba naik beberapa langkah ke angkasa dan beliau berkata, “Wahai Israil, berhentilah dan dengarkan kata-kata Sang Muhammad!” Kemudian beliau kembali ke tempat duduknya semula. Ketika beliau diminta untuk menjelaskan kejadian tersebut, beliau menjawab, “Abu al-Abbas al-Khidhir berada di atas sana. Tadi ia sedang melintasi majelis kita ini, maka aku memintanya berhenti dan berkata kepadanya apa saja yang aku dakwahkan kepada kalian semua.”

Diludahi Nabi Saw. Tujuh Kali, Ali Enam Kali
            Ini diriwayatkan oleh Syekh Abu Muhammad al-Juba’I, bahwasannya beliau Syekh Abdul Qadir al-Jailani berkata, “Aku suatu kali berjumpa dengan Rasulullah Saw. dalam penampakan ruhani sebelum waktu zuhur, dan beliau Saw. berkata kepadaku, “Wahai anakku terkasih, kenapa engkau tidak berbicara (berdakwah) kepada manusia?” Maka aku menjawab, “Wahai bapakku terkasih, aku adalah seorang ‘Ajam (bukan orang Arab), lalu bagaimana aku bisa berkata-kata dengan fasih di tengah-tengah orang Baghdad yang jelas mereka pandai berbahasa Arab.” Kemudian beliau Saw. Berkata, “Sekarang, bukalah mulutmu!” Maka aku membuka mulutku lebar-lebar, dan beliau meludahiku sebanyak tujuh kali. Kemudian beliau Saw. berkata kepadaku, “Kamu harus berdakwah kepada manusia sekarang, ajaklah mereka menuju jalan Allah dengan hikmah dan nasihat yang baik.” Aku kemudian menunaikan shalat zuhur, dan kemudian aku duduk setelah itu hendak berceramah, namun aku masih kehilangan kata-kataku. Kemudian aku melihat penampakan Sayidina ‘Ali kwh., dan beliau berkata, “Bukalah mulutmu!” Aku lalu membuka mulutku, dan beliau meludahiku sebanyak enam kali, lalu aku bertanya kepada beliau, “Kenapa engkau tidak meludahiku sebanyak tujuh kali seperti halnya Rasulullah Saw. Melakukannya?” Beliau menjawab, “Sebagai adab penghormatanku kepada Rasulullah.” Setelah mengucapkan kata-kata itu, beliau pergi.

Menghilang ke Balik Matahari
            Pengasuh Syekh ‘Abdul Qadir al-Jailani menceritakan, bahwa sewaktu beliau masih kecil seringkali ketika dia menggendong sang Syekh, mendadak beliau sudah tidak ada lagi di tangannya. Dia mengatakan, bahwa kemudian dia melihat Syekh ‘Abdul Qadir al-Jailani terbang ke langit dan bersembunyi di balik cahaya matahari.
Ketika Syekh ‘Abdul Qadir al-Jailani sudah dewasa, sang pengasuhnya mengunjunginya dan bertanya, apakah beliau masih sering melakukan hal yang dulu sewaktu kecil beliau lakukan. Kemudian Syekh ‘Abdul Qadir al-Jailani menjawab, “Itu dulu ketika aku masih kecil, dan pada waktu itu aku masih lemah, maka aku bersembunyi di balik matahari, namun kini daya dan kekuatanku telah sedemikian besar, sehingga bila 1000 matahari dating, pasti mereka semua akan bersembunyi di balik diriku.”

Bertarung Melawan Setan, Iblis, dan Hawa Nafsu
Kisah ini diriwayatkan oleh Syekh ‘Utsman as-Sirafani, baliau berkata, Aku suatu kali mendengar tuan kita, Syekh ‘Abdul Qadir al-Jailani berkata:
“Aku pernah bermukim sendirian di sebuah kawasan gersang. Setiap hari dan setiap malam setan-setan sering datang kepadaku berbaris-baris dalam wujud manusia jadi-jadian yang membawa berbagai macam senjata serta memikul berbagai benda yang berbunyi sangat keras. Mereka terlibat perkelahian denganku dan melempariku dengan bola api. Saat menghadapi keadaan seperti itu, aku mendapati di dalam hatiku suatu rasa tentram yang sulit terucapkan dengan kata-kata, aku mendengar suara dalam hatiku yang berkata, “Berdirilah dan serang mereka wahai ‘Abdul Qadir al-Jailani, karena Kami selalu siap menambah kekuatanmu, dan Kami akan datang dengan pasukan yang tidak mungkin terkalahkan oleh mereka.” Dan saat aku melemparkan satu serangan kepada para setan itu, mereka sontak berlari tunggang langgang  dan pergi menghilang.
Setelah itu, ada sesosok setan datang dari tengah-tengah para setan yang berlari menjauh dariku. Setan itu menghampiriku dan berkata kepadaku, “Pergilah dari sini atau aku akan melakukan begini dan begitu kepadamu.” Dia memperingatkanku akan akibat apa saja jika aku tidak pergi dari wilayah itu, maka kemudian aku menamparnya dengan tanganku dan diapun melarikan diri dariku, lalu aku berucap, “Tidak ada daya dan kekuatan kecuali bersama Allah yang Maha Tinggi lagi Maha Agung.” Setan itu diterkam oleh api dan aku melihatnya terbakar hangus.
Pada waktu yang lain, aku didatangi oleh sosok yang penampilanya benar-benar menakutkan, dan bau badannya sangat menjijikkan, baunya sangat bacin dan memuakkan, dia berkata kepadaku, “Aku adalah iblis. Aku datang kepadamu dengan maksud untuk menjadi budakmu, karena kamu telah berhasil menggagalkan segala upayaku dan mengalahkan pengikutku.” Aku berkata kepadanya, “Pergilah! karena aku tidak percaya sama sekali kepadamu.” Tapi pada saat itu sebuah tangan turun dari sisi iblis dan memukul tengkorak kepalanya dengan kekuatan yang sangat besar hingga membuat iblis itu terjungkal keras melesat ke dalam tanah, dan dia pun menghilang entah ke mana.
Iblis itu datang kembali kepadaku untuk kedua kalinya dengan membawa anak panah api di tangannya dan hendak menyerangku, tetapi dengan cepat seseorang yang memakai jubah penutup kepala lari menuju diriku dengan menaiki kuda berwarna kelabu dan dengan tangkas melemparkan pedang kepadaku. Melihat itu, iblis secepat kilat langsung lari terbirit-birit dari hadapanku.
Dan ketika aku bertemu dengannya lagi untuk yang ketiga kalinya, iblis itu sedang duduk dengan jarak yang agak jauh dariku, berlinangan air mata, sekujur tubuhnya dipenuhi oleh debu, dan ia berkata, “Aku sungguh telah putus asa menghadapi orang sepertimu, wahai ‘Abdul Qadir al-Jailani.” Aku lalu berkata kepadanya, “Enyahlah kau dari sini, sang terkutuk! karena aku tidak akan pernah berhenti membentengi diriku sendiri (dengan perlindungan Allah) untuk melawanmu. Dan dia berkata, “Apa yang telah kau ucapkan itu lebih menyakitkan bagiku ketimbang jepitan besi neraka.”

Menembus Jarak
Diriwayatkan dari Syekh Umar, beliau berkata: aku suatu kali mendengar tuan kami Syekh ‘Abdul Qadir al-Jailani bercerita:
keadaan ruhani (ahwal) pernah datang kepadaku tanpa terduga sama sekali. Pada awal masa-masa aku melakukan pengembaraan dan berada di padang tandus di wilayah Baghdad, aku berlari melewati jarak kira-kira satu jam perjalanan, dan aku benar-benar tidak sadar bahwa aku sedang berlari, saat aku kembali dalam kesadaranku yang normal, aku mendapati diriku sampai di kawasan Syastar, di mana jarak tersebut dengan Baghdad kira-kira sekitar dua belas hari perjalanan. Ketika sampai di sana, aku berdiri dan melihat-lihat sekeliling, lalu seorang wanita datang kepadaku sambil berkata, “Apakah yang kamu alami itu membuatmu terkejut dan heran, padahal kamu tidak lain adalah ‘Abdul Qadir al-Jailani?!”

Melihat al-Lauh al-Mahfudz
Tertulis dalam riwayat, bahwa Syekh Abul Hafash menyatakan, “Syekh ‘Abdul Qadir al-Jailani biasa melayang di udara dan berkata ‘Matahari tidak pernah terbit tanpa mengucapkan salam kepadaku. Demi kemuliaan dan murka Allah, aku melihat semua manusia yang baik maupun yang jahat, mataku tertuju pada al-Lauh al-Mahfudz. Berkali-kali aku menyelam ke samudera ilmu dan kebijaksanaan yang dianugrahkan oleh Allah, dan akulah kebaikan murni Allah kepada manusia dan utusan khusus kakekku, Rasulullah Saw., dan akulah khalifah beliau di bumi.”

Minggu, 14 Juni 2015

Kisah Syeh Abdul Qodir Jaelani


Foto  Syeh Abdul Qodir Jaelani
Syeh Abdul Qodir Jaelani (bernama lengkap Muhy al-Din Abu Muhammad Abdul Qodir ibn Abi Shalih Zango Dost al-Jaelani) lahir di Jailan atau Kailan tahun 470 H/1077 M, sehingga diakhir nama beliau ditambahkan kata Al Jailani atau Al Kailani atau juga Al Jiliydan.

(Biografi beliau dimuat dalam Kitab Adz Dzail ‘Ala Thabaqil Hanabilah I/301-390, nomor 134, karya Imam Ibnu Rajab Al Hambali. Buku ini belum diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia). Beliau wafat pada hari Sabtu malam, setelah maghrib, pada tanggal 9 Rabi’ul Akhir di daerah Babul Azajwafat di Baghdad pada 561 H/1166 M.

Dalam usia 8 tahun ia sudah meninggalkan Jilan menuju Baghdad pada tahun 488 H/1095 M. Karena tidak diterima belajar di Madrasah Nizhamiyah Baghdad, yang waktu itu dipimpin Ahmad al-Ghazali, yang menggantikan saudaranya Abu Hamid al-Ghazali.

Masa muda

Beliau meninggalkan tanah kelahiran, dan merantau ke Baghdad pada saat beliau masih muda. Di Baghdad belajar kepada beberapa orang ulama’ seperti Ibnu Aqil, Abul Khatthat, Abul Husein Al Farra’ dan juga Abu Sa’ad Al Muharrimi. Beliau belajar sehingga mampu menguasai ilmu-ilmu ushul dan juga perbedaan-perbedaan pendapat para ulama’. Suatu ketika Abu Sa’ad Al Mukharrimi membangun sekolah kecil-kecilan di daerah yang bernama Babul Azaj. Pengelolaan sekolah ini diserahkan sepenuhnya kepada Syeh Abdul Qadir Al Jailani. Beliau mengelola sekolah ini dengan sungguh-sungguh. Bermukim disana sambil memberikan nasehat kepada orang-orang yang ada tersebut. Banyak sudah orang yang bertaubat setelah mendengar nasehat beliau. Banyak orang yang bersimpati kepada beliau, lalu datang ke sekolah beliau, sehingga sekolah itu tidak muat menampungnya.

Murid-murid

Murid-murid beliau banyak yang menjadi ulama’ terkenal. Seperti Al Hafidz Abdul Ghani yang menyusun kitab Umdatul Ahkam Fi Kalami Khairil Anam. Juga Syeh Qudamah penyusun kitab fiqh terkenal Al Mughni.

Perkataan ulama tentang beliau : Syeh Ibnu Qudamah rahimahullah ketika ditanya tentang Syeh Abdul Qadir, beliau menjawab, ” kami sempat berjumpa dengan beliau di akhir masa kehidupannya. Beliau menempatkan kami di sekolahnya. Beliau sangat perhatian terhadap kami. Kadang beliau mengutus putra beliau yang bernama Yahya untuk menyalakan lampu buat kami. Beliau senantiasa menjadi imam dalam sholat fardhu.”

Syeikh Ibnu Qudamah sempat tinggal bersama beliau selama satu bulan sembilan hari. Kesempatan ini digunakan untuk belajar kepada Syeh Abdul Qadir Al Jailani sampai beliau meninggal dunia. (Siyar A’lamin NubalaXX/442). Beliau adalah seorang ‘alim. Beraqidah Ahlu Sunnah, mengikuti jalan Salafush Shalih. Dikenal banyak memiliki karamah-karamah. Tetapi banyak (pula) orang yang membuat-buat kedustaan atas nama beliau. Kedustaan itu baik berupa kisah-kisah, perkataan-perkataan, ajaran-ajaran, “Toriqoh” yang berbeda dengan jalan Rasulullah, para sahabatnya, dan lainnya. Diantaranya dapat diketahui dari perkataan Imam Ibnu Rajab, ”

Syeh Abdul Qadir Al Jailani adalah seorang yang diagungkan pada masanya. Diagungkan oleh banyak para syeikh, baik ‘ulama dan para ahli zuhud. Beliau banyak memiliki keutamaan dan karamah. Tetapi ada seorang yang bernama Al Muqri’ Abul Hasan Asy Syathnufi Al Mishri (Nama lengkapnya adalah Ali Ibnu Yusuf bin Jarir Al Lakh-mi Asy Syath-Nufi. Lahir di Kairo tahun 640 H, meninggal tahun 713 H. Dia dituduh berdusta dan tidak bertemu dengan Syeh Abdul Qadir Al Jailani) mengumpulkan kisah-kisah dan keutamaan-keutamaan Syeh Abdul Qadir Al Jailani dalam tiga jilid kitab. Dia telah menulis perkara-perkara yang aneh dan besar (kebohongannya ). Cukuplah seorang itu berdusta, jika dia menceritakan yang dia dengar. Aku telah melihat sebagian kitab ini, tetapi hatiku tidak tentram untuk berpegang dengannya, sehingga aku tidak meriwayatkan apa yang ada di dalamnya. Kecuali kisah-kisah yang telah masyhur dan terkenal dari selain kitab ini. Karena kitab ini banyak berisi riwayat dari orang-orang yang tidak dikenal. Juga terdapat perkara-perkara yang jauh ( dari agama dan akal ), kesesatan-kesesatan, dakwaan-dakwaan dan perkataan yang batil tidak berbatas. (Seperti kisah Syeh Abdul Qadir menghidupkan ayam yang telah mati, dan sebagainya.) semua itu tidak pantas dinisbatkan kepada Syeh Abdul Qadir Al Jailani rahimahulloh.

Kemudian aku dapatkan bahwa Al Kamal Ja’far Al Adfwi (Nama lengkapnya ialah Ja’far bin Tsa’lab bin Ja’far bin Ali bin Muthahhar bin Naufal Al Adfawi. Seoarang ‘ulama bermadzhab Syafi’i. Dilahirkan pada pertengahan bulan Sya’ban tahun 685 H. Wafat tahun 748 H di Kairo. Biografi beliau dimuat oleh Al Hafidz di dalam kitab Ad Durarul Kaminah, biografi nomor 1452.) telah menyebutkan, bahwa Asy Syath-nufi sendiri tertuduh berdusta atas kisah-kisah yang diriwayatkannya dalam kitab ini.”(Dinukil dari kitab At Tashawwuf Fii Mizanil Bahtsi Wat Tahqiq, hal. 509, karya Syeh Abdul Qadir bin Habibullah As Sindi, Penerbit Darul Manar, Cet. II, 8 Dzulqa’dah 1415 H / 8 April 1995 M.).

Imam Ibnu Rajab juga berkata, ” Syeh Abdul Qadir Al Jailani rahimahulloh memiliki pemahaman yang bagus dalam masalah tauhid, sifat-sifat Alloh, takdir, dan ilmu-ilmu ma’rifat yang sesuai dengan sunnah. Beliau memiliki kitab Al Ghunyah Li Thalibi Thariqil Haq, kitab yang terkenal. Beliau juga mempunyai kitab Futuhul Ghaib. Murid-muridnya mengumpulkan perkara-perkara yang berkaitan dengan nasehat dari majelis-majelis beliau. Dalam masalah-masalah sifat, takdir dan lainnya, ia berpegang dengan sunnah. Beliau membantah dengan keras terhadap orang-orang yang menyelisihi sunnah.”

Syeh Abdul Qadir Al Jailani menyatakan dalam kitabnya, Al Ghunyah, ” Dia (Alloh ) di arah atas, berada diatas ‘arsyNya, meliputi seluruh kerajaanNya. IlmuNya meliputi segala sesuatu.” Kemudian beliau menyebutkan ayat-ayat dan hadist-hadist, lalu berkata ” Sepantasnya menetapkan sifat istiwa’ ( Alloh berada diatas ‘arsyNya ) tanpa takwil ( menyimpangkan kepada makna lain ). Dan hal itu merupakan istiwa’ dzat Alloh diatas arsy.” (At Tashawwuf Fii Mizanil Bahtsi Wat Tahqiq, hal. 515). Ali bin Idris pernah bertanya kepada Syeh Abdul Qadir Al Jailani, ” Wahai tuanku, apakah Allah memiliki wali (kekasih ) yang tidak berada di atas aqidah ( Imam ) Ahmad bin Hambal?” Maka beliau menjawab, ” Tidak pernah ada dan tidak akan ada.”( At Tashawwuf Fii Mizanil Bahtsi Wat Tahqiq, hal. 516).

Perkataan Syeh Abdul Qadir Al Jailani tersebut juga dinukilkan oleh Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam kitab Al Istiqamah I/86. Semua itu menunjukkan kelurusan aqidahnya dan penghormatan beliau terhadap manhaj Salaf.

Sam’ani berkata, ” Syeh Abdul Qadir Al Jailani adalah penduduk kota Jailan. Beliau seorang Imam bermadzhab Hambali. Menjadi guru besar madzhab ini pada masa hidup beliau.” Imam Adz Dzahabi menyebutkan biografi Syeh Abdul Qadir Al Jailani dalam Siyar A’lamin Nubala, dan menukilkan perkataan Syeh sebagai berikut,”Lebih dari lima ratus orang masuk Islam lewat tanganku, dan lebih dari seratus ribu orang telah bertaubat.”

Imam Adz Dzahabi menukilkan perkataan-perkataan dan perbuatan-perbuatan Syeh Abdul Qadir yang aneh-aneh sehingga memberikan kesan seakan-akan beliau mengetahui hal-hal yang ghaib. Kemudian mengakhiri perkataan, ”Intinya Syeh Abdul Qadir memiliki kedudukan yang agung. Tetapi terdapat kritikan-kritikan terhadap sebagian perkataannya dan Allah menjanjikan (ampunan atas kesalahan-kesalahan orang beriman ). Namun sebagian perkataannya merupakan kedustaan atas nama beliau.”( Siyar XX/451 ). Imam Adz Dzahabi juga berkata, ” Tidak ada seorangpun para kibar masyasyeikh yang riwayat hidup dan karamahnya lebih banyak kisah hikayat, selain Syeh Abdul Qadir Al Jailani, dan banyak diantara riwayat-riwayat itu yang tidak benar bahkan ada yang mustahil terjadi“.

Syeh Rabi’ bin Hadi Al Madkhali berkata dalam kitabnya, Al Haddul Fashil,hal.136, ” Aku telah mendapatkan aqidah beliau ( Syeh Abdul Qadir Al Jailani ) didalam kitabnya yang bernama Al Ghunyah. (Lihat kitab Al-Ghunyah I/83-94) Maka aku mengetahui bahwa dia sebagai seorang Salafi. Beliau menetapkan nama-nama dan sifat-sifat Allah dan aqidah-aqidah lainnya di atas manhaj Salaf. Beliau juga membantah kelompok-kelompok Syi’ah, Rafidhah,Jahmiyyah, Jabariyyah, Salimiyah, dan kelompok lainnya dengan manhaj Salaf.” (At Tashawwuf Fii Mizanil Bahtsi Wat Tahqiq, hal. 509, karya Syeh Abdul Qadir bin Habibullah As Sindi, Penerbit Darul Manar, Cet. II, 8 Dzulqa’dah 1415 H / 8 April 1995 M.)

Inilah tentang beliau secara ringkas. Seorang ‘alim Salafi, Sunni, tetapi banyak orang yang menyanjung dan membuat kedustaan atas nama beliau. Sedangkan beliau berlepas diri dari semua kebohongan itu. Wallahu a’lam bishshawwab.

Kesimpulannya beliau adalah seorang ‘ulama besar. Apabila sekarang ini banyak kaum muslimin menyanjung-nyanjungnya dan mencintainya, maka itu adalah suatu kewajaran. Bahkan suatu keharusan. Akan tetapi kalau meninggi-ninggikan derajat beliau di atas Rasululloh shollallohu’alaihi wasalam, maka hal ini merupakan kekeliruan yang fatal. Karena Rasululloh shollallohu ‘alaihi wasalam adalah rasul yang paling mulia diantara para nabi dan rasul. Derajatnya tidak akan terkalahkan disisi Alloh oleh manusia manapun.

Adapun sebagian kaum muslimin yang menjadikan Syeh Abdul Qadir Al Jailani sebagai wasilah ( perantara ) dalam do’a mereka, berkeyakinan bahwa do’a seseorang tidak akan dikabulkan oleh Alloh, kecuali dengan perantaranya. Ini juga merupakan kesesatan. Menjadikan orang yang meninggal sebagai perantara, maka tidak ada syari’atnya dan ini diharamkan. Apalagi kalau ada orang yang berdo’a kepada beliau. Ini adalah sebuah kesyirikan besar. Sebab do’a merupakan salah satu bentuk ibadah yang tidak diberikan kepada selain Alloh. Alloh melarang mahluknya berdo’a kepada selain Alloh. “Dan sesungguhnya mesjid-mesjid itu adalah kepunyaan Alloh. Maka janganlah kamu menyembah seseorang pun di dalamnya disamping (menyembah ) Alloh. ( QS. Al-Jin : 18 )”

Jadi sudah menjadi keharusan bagi setiap muslim untuk memperlakukan para ‘ulama dengan sebaik mungkin, namun tetap dalam batas-batas yang telah ditetapkan syari’ah. Akhirnya mudah-mudahan Alloh senantiasa memberikan petunjuk kepada kita sehingga tidak tersesat dalam kehidupan yang penuh dengan fitnah ini.

Pada tahun 521 H/1127 M, dia mengajar dan berfatwa dalam semua madzhab pada masyarakat sampai dikenal masyarakat luas. Selama 25 tahun Abdul Qadir Jaelani menghabiskan waktunya sebagai pengembara sufi di Padang Pasir Iraq dan akhirnya dikenal oleh dunia sebagai tokoh sufi besar dunia Islam. Selain itu dia memimpin madrasah dan ribath di Baghdad yang didirikan sejak 521 H sampai wafatnya di tahun 561 H. Madrasah itu tetap bertahan dengan dipimpin anaknya Abdul Wahab (552-593 H/1151-1196 M), diteruskan anaknya Abdul Salam (611 H/1214 M). Juga dipimpin anak kedua Abdul Qadir Jaelani, Abdul Razaq (528-603 H/1134-1206 M), sampai hancurnya Baghdad pada tahun 656 H/1258 M.

Syeh Abdul Qadir Jaelani juga dikenal sebagai pendiri sekaligus penyebar salah satu tarekat terbesar didunia bernama Tarekat Qodiriyah. Awal Kemasyhuran Al-Jaba’I berkata bahwa Syeh Abdul Qadir Al-Jailani juga berkata kepadanya, “tidur dan bangunku sudah diatur. Pada suatu saat, dalam dadaku timbul keinginan yang kuat untuk berbicara. Begitu kuatnya sampai aku merasa tercekik jika tidak berbicara. Dan ketika berbicara, aku tidak dapat menghentikannya. Pada saat itu ada dua atau tiga orang yang mendengarkan perkataanku. Kemudian mereka mengabarkan apa yang aku ucapkan kepada orang-orang, dan merekapun berduyun-duyun mendatangiku di masjid Bab Al-Halbah. Karena tidak memungkinkan lagi, aku dipindahkan ke tengah kota dan dikelilingi dengan lampu. Orang-orang tetap datang di malam hari dan memakai lilin dan obor dan memenuhi tempat tersebut. Kemudian aku dibawa keluar kota dan ditempatkan di sebuah mushalla. Namun orang-orang tetap datang kepadaku, dengan mengendarai kuda, unta bahkan keledai dan menempati tempat disekelilingku. Saat itu hadir sekitar 70 orang para wali RadhiAllohu anhum.

Kemudian Syeh Abdul Qadir melanjutkan, “Aku melihat Rasululloh SAW sebelum dzuhur, beliau berkata kepadaku, ’anakku, mengapa engkau tidak berbicara ?’. ’Ayahku, bagaimana aku yang non arab ini berbicara di depan orang-orang fasih dari Baghdad?’. Beliau berkata, ’buka mulutmu’, lalu beliau meniup 7 kali ke dalam mulutku kemudian berkata, ”bicaralah dan ajak mereka ke jalan Allah dengan hikmah dan peringatan yang baik”. Setelah itu aku shalat dzuhur dan duduk dan mendapati jumlah yang sangat luar biasa banyaknya sehingga membuatku gemetar. Kemudian aku melihat Ali r.a. datang dan berkata, ’buka mulutmu’. Beliau lalau meniup 6 kali kedalam mulutku dan ketika aku bertanya kepadanya mengapa beliau tidak meniup 7 kali seperti yang dilakukan Rasululloh SAW, beliau menjawab bahwa beliau melakukan itu karena rasa hormat beliau kepada RasuluLloh SAW. Kemudian aku berkata, ’Pikiran, sang penyelam, mencari mutiara ma’rifah dengan menyelami laut hati, mencampakkannya ke pantai dada , dilelang oleh lidah sang calo, kemudian dibeli dengan permata ketaatan dalam rumah yang diizinkan Alloh untuk diangkat’”. Beliau kemudian menyindir :

dan untuk wanita seperti Laila seorang pria dapat membunuh dirinya, dan menjadikan maut dan siksaan sebagai sesuatu yang manis

Dalam beberapa manuskrip Syeh Abdul Qadir Al-Jailani berkata, ”Sebuah suara berkata kepadaku saat aku berada di pengasingan diri, ‘kembali ke Baghdad dan ceramahilah orang-orang’. Akupun masuk Baghdad dan menemukan para penduduknya dalam kondisi yang tidak aku sukai dan karena itulah aku tidak jadi mengikuti mereka’. ‘sesungguhnya’ kata suara tersebut ,’mereka akan mendapatkan manfaat dari keberadaan dirimu’.

‘Apa hubungan mereka dengan keselamatan agamaku / keyakinanku’ tanyaku.

‘Kembali (ke Baghdad) dan engkau akan mendapatkan keselamatan agamamu’ jawab suara itu.

Akupun membuat 70 perjanjian dengan Alloh. Diantaranya adalah tidak ada seorangpun yang menentangku dan tidak ada seorang muridku yang meninggal kecuali dalam keadaan bertaubat. Setelah itu, aku kembali ke Baghdad dan mulai berceramah. Suatu ketika saat aku berceramah , aku melihat sebuah cahaya terang benderang mendatangi aku. ‘Apa ini dan ada apa?’tanyaku. ‘Rasululloh SAW akan datang menemuimu untuk memberikan selamat’ jawab sebuah suara. Sinar tersebut makin membesar dan aku mulai masuk dalam kondisi spiritual yang membuatku setengah sadar. Lalu aku melihat RasuLulloh SAW di depan mimbar, mengambang di udara dan memanggilku, ’wahai Abdul Qadir’. Begitu gembiranya aku dengan kedatangan RasuluLloh SAW , aku melangkah naik ke udara menghampirinya. Beliau meniup ke dalam mulutku 7 kali. Kemudian Ali datang dan meniup ke dalam mulutku 3 kali. ’mengapa engkau tidak melakukan seperti yang dilakukan RasuluLloh SAW?’ tanyaku kepadanya. ‘sebagai rasa hormatku kepada Rasululloh SAW‘ jawab beliau.

RasuluLloh SAW kemudian memakaikan jubah kehormatan kepadaku. ‘apa ini ?’ tanyaku. ‘ini’ jawab Rasululloh, ’adalah jubah kewalianmu dan dikhususkan kepada orang-orang yang mendapat derajad Qutb dalam jenjang kewalian’. Setelah itu , akupun tercerahkan dan mulai berceramah.

Saat Khidir as. Datang hendak mengujiku dengan ujian yang diberikan kepada para wali sebelumku, Alloh membukakan rahasianya dan apa yang akan di katakannya kepadaku. Aku berkata kepadanya, ”Wahai Khidir, apabila engkau berkata kepadaku ’Engkau tidak akan sabar kepadaku’, maka aku akan berkata kepadamu ‘Engkau tidak akan sabar kepadaku’. Wahai Khidir, Engkau termasuk golongan Israel sedangkan aku termasuk golongan Muhammad, maka inilah aku dan engkau. Aku dan engkau seperti sebuah bola dan lapangan, yang ini Muhammad dan yang ini Ar-Rahman, ini kuda berpelana, busur terentang dan pedang terhunus.” Al-Khattab pelayan Syeh Abdul QAdir meriwayatkan bahwa suatu hari ketika beliau sedang berceramah tiba-tiba beliau berjalan naik ke udara dan berkata, “Hai orang Israel, dengarkan apa yang dikatakan oleh kaum Muhammad” lalu kembali ke tempatnya. Saat ditanya mengenai hal tersebut beliau menjawab, ”Tadi Abu Abbas Al-Khidir as lewat, maka akupun berbicara kepadanya seperti yang kalian dengar tadi dan ia berhenti”.

Guru dan teladan kita Syeh Abdul Qadir Al-Jilli berkata,” seorang Syeh tidak dapat dikatakan mencapai puncak spiritual kecuali apabila 12 karakter berikut ini telah mendarah daging dalam dirinya yaitu :
Dua karakter dari Alloh yaitu dia menjadi seorang yang Sattar (menutup aib) dan Ghaffar (Maha pemaaf).
Dua karakter dari RasuluLloh SAW yaitu penyayang dan lembut
Dua karakter dari Abu Bakar yaitu jujur dan dapat dipercaya.
Dua karakter dari Umar yaitu amar ma’ruf nahi munkar
Dua karakter dari Utsman yaitu dermawan dan bangun (tahajjud) pada waktu orang lain sedang tidur.
Dua karakter dari Ali yaitu alim (cerdas/intelek) dan pemberani.

Masih berkenaan dengan pembicaraan di atas dalam bait syair yang dinisbatkan kepada beliau dikatakan :

Bila lima perkara tidak terdapat dalam diri seorang syeh maka ia adalah Dajjal yang mengajak kepada kesesatan. Dia harus sangat mengetahui hukum-hukum syariat dzahir, mencari ilmu hakikah dari sumbernya, hormat dan ramah kepada tamu, lemah lembut kepada si miskin, mengawasi para muridnya sedang ia selalu merasa diawasi oleh Alloh

Syeh Abdul Qadir juga menyatakan bahwa Syaikh Al-Junaid mengajarkan standar Al-Qur’an dan Sunnah kepada kita untuk menilai seorang Syeh. Apabila ia tidak hapal Al-Qur’an, tidak menulis dan menghapal Hadits, maka dia tidak pantas untuk diikuti.

Yang harus dimiliki seorang Syeh ketika mendidik seseorang adalah dia menerima si murid untuk Alloh, bukan untuk dirinya atau alasan lainnya. selalu menasihati muridnya, mengawasi muridnya dengan pandangan kasih. Lemah lembut kepada muridnya saat sang murid tidak mampu menyelesaikan Riyadhah. Dia juga harus mendidik si murid bagaikan anak sendiri dan orang tua penuh dengan kasih dan kelemah lembutan dalam mendidik anakknya. Oleh karena itu dia selalu memberikan yang paling mudah kepada si murid dan tidak membebaninya dengan sesuatu yang tidak mampu dilakukannya. Dan setelah sang muurid bersumpah untuk bertobat dan selalu taat kepada Alloh baru sang syeh memberikan yang lebih berat kepadanya.

Sesungguhnya bai’at bersumber dari hadits RasuluLloh SAW ketika beliau mengambil bai’at para sahabatnya.

Kemudian dia harus mentalqin si murid dengan zikir lengkap dengan silsilahnya. Sesungguhnya Ali ra. Bertanya kepada RasuluLloh SAW, ‘Yaa Rasululloh, jalan manakah yang terdekat untuk sampai kepada Alloh, paling mudah bagi hambanya dan paling afdhal di sisi Nya. RasuluLloh berkata,’Ali, hendaknya jangan putus berzikir (mengingat) kepada Alloh dalam khalwat (kontemplasinya)’. Kemudian Ali ra. Kembali berkata , ‘Hanya demikiankah fadhilah zikir, sedangkan semua orang berzikir’. RasuluLloh berkata,’Tidak hanya itu wahai Ali, kiamat tidak akan terjadi di muka bumi ini selama masih ada orang yang mengucapkan “Alloh” “Alloh”. ‘Bagaimana aku berzikir?’. Tanya Ali. RasuluLloh bersabda, ’dengarkan apa yang aku ucapkan. Aku akan mengucapkannya sebanyak tiga kali dan aku akan mendengarkan engkau mengulanginya sebanyak tiga kali pula’. Lalu Rasululloh berkata, “Laa ilaaha illalloh” sebanyak tiga kali dengan mata terpejam dan suara keras. Ucapan tersebut di ulang oleh Ali dengan cara yang sama RasuluLloh lakukan. Inilah asal talqin kalimat Laa ilaaha Illalloh. Semoga Alloh memberikan taufiknya kepada kita dengan kalimat tersebut”.

Syeh Abdul Qadir berkata, ”Kalimat tauhid akan sulit hadir pada seorang individu yang belum di talqin dengan zikir bersilsilah kepada RasulluLloh oleh Mursyidnya saat menghadapi sakaratil maut”.

Karena itulah Syeh Abdul Qadir selalu mengulang-ulang syair yang berbunyi : Wahai yang enak diulang dan diucapkan (kalimat tauhid) jangan engkau lupakan aku saat perpisahan (maut).
http://www.resepkuekeringku.com/2014/11/resep-donat-empuk-ala-dunkin-donut.html http://www.resepkuekeringku.com/2015/03/resep-kue-cubit-coklat-enak-dan-sederhana.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/10/resep-donat-kentang-empuk-lembut-dan-enak.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/07/resep-es-krim-goreng-coklat-kriuk-mudah-dan-sederhana-dengan-saus-strawberry.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/06/resep-kue-es-krim-goreng-enak-dan-mudah.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/09/resep-bolu-karamel-panggang-sarang-semut-lembut.html