Tampilkan postingan dengan label KUMPULAN MANAQIB PARA SYEKH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KUMPULAN MANAQIB PARA SYEKH. Tampilkan semua postingan

Selasa, 24 Mei 2016

Al-Imam Alwi al-Ghuyur Ulama Besar yang “Dicemburui”


Ulama Besar yang “Dicemburui”
Ia adalah ulama besar dan wali. Bukan hanya “melayani” Allah, dia juga melayani siapa saja yang membutuhkan pertolongan.
Tarim, Hadramaut, boleh dibilang merupakan “gudang ulama”. Salah seorang di antaranya ialah Al-Imam Alwi bin Al-Faqih al-Muqaddam, yang mendapat julukan Al-Ghuyur, yang berarti “dicemburui”. Julukan itu diberikan kepadanya karena, ketika itu, tidak seorang pun dari keluarga Bani Alawy di zamannya yang bernama Alwi. Sehingga ketika ia dinamai Alwi – dan itu merupakan suatu kehormatan – banyak orang cemburu kepadanya. Ketika itu, jika ada yang berniat memberi nama Alwi kepada seorang anak, dan biasanya urung, memilih nama lain. Barangkali juga lantaran ilmu agamanya yang sangat tinggi, sehingga banyak orang ”cemburu”, dalam arti positif, kepadanya.
Nama lengkapnya cukup panjang: Al-Imam Alwi bin Al-Faqih al-Muqaddam Muhammad bin Ali bin Muhammad Shahib Mirbath bin Ali Khali’ Qasam bin Alwi bin Muhammad bin Alwi bin Ubaidillah bin Al-Imam al-Muhajir Ahmad bin Isa. Ia lahir dan dibesarkan di Tarim, Hadramaut, pada abad keenam Hijri. Mendapat pendidikan langsung, mengenai berbagai pengetahuan agama, dari ayahandanya, sejak kecil ia sudah hafal Al-Quran. Bahkan sejak muda ia sudah mempelajari tarekat. Itulah sebabnya, dia juga ahli zuhud, wali yang mempunyai maqam tinggi dan karamah yang luar biasa.
Ia mempunyai banyak karamah. Salah satunya, jika ia berkata mengenai sesuatu, “Kun! (Jadilah!)”, maka jadilah sesuatu seperti yang dikehendakinya, dengan seizin Allah SWT. Wajar jika banyak ulama besar dan aulia di zamannya yang menukil ucapan-ucapannya. Ia juga mampu mengenali orang-orang yang celaka dan bahagia. Ia dapat mengetahui siapa yang bernasib baik, dan siapa yang bernasib buruk, sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “Takutlah kalian kapada firasat seorang mukmin. Sesungguhnya seorang mukmin dapat melihat dengan cahaya Allah.”
Suatu hari, ayahandanya, Al-Faqih al-Muqadam, memuji dan memberikan isyarat bahwa pada suatu saat nanti anaknya akan menjadi seorang wali yang agung. Dan menurut para ulama, rahasia keilmuan ayahandanya pindah ke dalam pribadi anaknya. “Al-Imam Alwi al-Ghuyur adalah pengganti orang-orang terdahulu,” kata mereka. Maka, praktis, derajat kewalian terbesar yang dimiliki Alwi al-Ghuyur diperoleh dari orangtuanya, yang dikenal sebagai sesepuh para wali dan pemuka orang-orang bertakwa.
Ketika menunaikan ibadah haji, Alwi al-Ghuyur memperbanyak ibadah umrah, salat, dan bertawaf, baik siang maupun malam. Ia juga memperdalam ilmu agama kepada sejumlah ulama besar yang mengajar di Masjidilharam, Mekah. Setelah menunaikan ibadah haji dan umrah, ia berziarah ke makam Rasulullah SAW di Masjid Nabawi, Medinah.
Di makam datuknya itu ia bertanya, “Di manakah kedudukanku di sisimu, wahai Kakek?” Konon, Rasulullah SAW menjawab pertanyaan imam Alwi al-Ghuyur, “Di kedua belah mataku.”
Lalu Rasulullah SAW bertanya, “Dan di manakah kedudukanku di sisimu, wahai Syekh Alwi?” Maka imam Alwi al-Ghuyur pun menjawab, “Di atas kepalaku.”
Kemudian Abubakar, yang makamnya di samping Rasulullah, bertanya, “Bagaimana engkau menempatkan Rasulullah demikian? Dia menempatkanmu di kedua belah matanya, sedangkan engkau menempatkannya di atas kepalamu. Tidak ada sesuatu yang dapat menyamai kedua belah mata. Engkau harus mensyukurinya dengan bersedekah kepada fakir miskin sebanyak 100 dinar.”
Anak Saleh
Alwi al-Ghuyur tak menjawab pertanyaan Abubakar. Namun, setelah beberapa waktu bermukim di Medinah, ia pulang ke Tarim dan membagikan sedekah 100 dinar kepada sejumlah fakir miskin sebagai tanda syukur. Sejak itu banyak orang bertamu, dan dengan senang hati Alwi al-Ghuyur mendidik dan menuntun mereka ke jalan Allah. Pada saat-saat seperti itulah ia sengaja memperlambat untuk menikah, hingga suatu saat calon keturunannya berkata dari arah punggungnya, “Kami telah berada di punggungmu, cepatlah menikah. Kalau tidak, kami akan keluar dari punggungmu!”
Mendapat teguran semacam itu, ia segera menikah dengan Hababah Fatimah binti Ahmad bin Alwi bin Muhammad Shahib Mirbath. Ketika istrinya hamil, berkatalah si jabang bayi dari rahim istrinya, “Aku anak saleh. Aku hamba yang saleh.” Ia dikaruniai oleh Allah SWT dua putra, Sayid Ali dan Abdullah Ba’alwi – yang belakangan juga menjadi muridnya.
Muridnya yang di belakang hari menjadi ulama, antara lain, Sayid Abdullah Ba’alwi, Sayid Ali, Ahmad, Syekh Ali ibnu Salim, Syekh Ahmad Muhammad Bamukhtar, dan sejumlah ulama kenamaan yang lain.
Alwi al-Ghuyur juga dikenal sebagai orang yang suka bersyukur, pandai menghargai kebaikan orang, suka menyantuni orang lain, dan suka mengabulkan permohonan orang lemah. Siapa saja yang datang kepadanya dan membutuhkan pertolongan, pasti cepat mendapat pertolongan.
Dalam kitab Al-Qurar, Sayid Al-Allamah al-Imam Muhammad bin Alwi al-Khirid Ba’alawy menulis, Syekh Abdurrahman bin Ali mengabarkan kepadaku bahwa para ulama besar berkata, “Ada tiga orang keluarga Bani Alawy yang semangatnya senantiasa terpelihara. Mereka cepat memberikan pertolongan kepada orang-orang yang membutuhkan. Mereka adalah Alwi al-Ghuyur, dan anaknya, yaitu Ali, serta Syekh Umar al-Muhdhar.”
Suatu hari Alwi al-Ghuyur dicaci maki oleh seorang lelaki di depan khalayak ramai, hanya gara-gara dia tidak berkunjung ke rumah lelaki itu. Lelaki tersebut mempunyai khadam, pembantu dari kalangan jin, yang setiap saat mendemonstrasikan kebolehannya. Jika ada orang yang menolak menyaksikan kebolehan jin tersebut, dia dizalimi dengan menggunakan tangan orang lain. Ketika lelaki itu sedang mencaci maki Alwi al-Ghuyur, tiba-tiba Isa ibnu Amru, seorang lelaki dari Bani Haram, menempeleng wajahnya. “Kalau kamu mencaci maki Sayid Alwi, apakah kami harus diam?”
Setelah ditempeleng, lelaki pemelihara jin itu mengucapkan kata-kata ancaman kepada Isa ibnu Amru.
Khawatir akan ancaman lelaki tersebut, Isa ibnu Amru kemudian menemui Sayid Alwi al-Ghuyur. ”Kamu jangan takut,” kata Alwi al-Ghuyur. Tapi, Isa ibnu Amru tetap takut dan tak berani beranjak dari sisi Sayid Alwi al-Ghuyur.
Akhirnya Sayid Alwi al-Ghuyur pergi ke masjid dan menggerak-gerakkan sebuah pintunya hingga terdengar suara berderit-derit. Kemudian ia pergi ke pintu lainnya dan menggerak-gerakkanya seperti terhadap pintu pertama. ”Ini suara lelaki itu dan suara jin yang selalu ia gunakan untuk mengganggu orang. Kini jin itu telah terbunuh, dan lelaki itu sudah melarikan diri dari Tarim,” kata Syekh Alwi al-Ghuyur.
Al-Imam Alwi al-Ghuyur wafat pada hari Jumat, 12 Zulkaidah 669 Hijri. Jasadnya disemayamkan di makam Zanbal, Tarim, di sebelah timur makam ayahandanya.
Disarikan dari Syarh Al-Ainiyyah, Nadzm Sayyidina Al-Habib Al-Qutub Abdullah bin Alwi Alhaddad Ba’alawy, karya Al-Allamah Al-Habib Ahmad bin Zain Alhabsyi Ba’alawy. AST

MANAQIB AL HABIB MUHAMMAD BIN MUHSIN BIN AHMAD AL HAMID

http://ceritaparakekasihallah.blogspot.co.id
 Al Habib Muhammad bin Muhsin Al Hamid dilahirkan di kota lnat dan dibesarkan di kota Damun, Hadramaut – Yaman. Beliau belajar dan menggali ilmu agama dari sejak kecil dengan orang tuanya yaitu Al Habib Muhsin Al Hamid serta para habaib dan masyaikh di zamannya.Al Habib Muhammad bin Muhsin Al Hamid 3 Bersaudara laki laki kaka Beliu Al Habib Abubakar bin Muhsin Al Hamid Di Makassar, Adik Beliu Al Habib Ahmad Bin Muhsin Al Hamid di Singapura.Ayahnya AI Habib Muhsin Bin Ahmad Al Hamid merupakan teman dekat Al Habib Salim bin Hafidz kakek Al Habib Umar bin Hafidz.Al Habib Ali Mashur bin Hafidz berkata bahwa Al Habib Muhsin beliau orang yang sangat menonjol tasawufnya. Beliau selalu membawa kitab-kitab aurodnya dan membacanya. Al Habib Muhammad bin Muhsin Al Hamid sangat arif dalam bertaqwa kepada Allah SWT. Dilihat pada umurnya yang masih 7 tahun beliau sudah hafal Al Qur’an dan pada umur belasan tahun sudah hafal lvlinhaj.Saat menginjak umur 25 tahun beliau mendapat kepercayaan menjadi mufti serta memegang Madrasah Ahlaqul Karimah milik Al Habib Muhammad bin Ahmad Al Muhdor di Huroidhoh.Hadramaut.Al Habib Muhammad bin Muhsin Al Hamid pun sempat menikah dengan anak munsib bilfagih dan mendapat keturunan yang semuanya adalah perempuan. Kedatangan beliau ke Indonesia menjelang pemerintahan komunis yang terjadi di Yaman. Beliau diperintahkan ayahnya untuk menjemput kakaknya, yaitu Al Habib Abu Bakar Al Hamid di Makassar, Sulawesi Selatan. Namun, sesampainya di Makasar beliau dinikahkan oleh kakaknya Al Habib Abubakar bin Muhsin Al Hamid dan mendapatkan keturunan seorang anak laki-laki. Kemudian beliau berangkat ke Palembang untuk berdakwah di Palembang, Al Habib Muhammad Al Hamid sangat dekat dengan Al Habib Ali bin Alwi bin Shahab (Habib Jenggot Abang). Bahkan ketika Al Habib Muhammad bin Muhsin ingin menikah Al Habib Ali yang mengatur semuanya. Disamping berdakwah beliau juga berdagang di kota Baturaja selama beberapa tahun serta di pasar 16
ilir Palembang untuk keperluan sehari-hari seperti belanja dapur, dan lain-lain Al Habib Muhammad bin Muhsin sendiri yang belanja ke pasar. pada suatu hari beliau keluar Rumah tampa memiliki uang sedikitpun, namun kebiasan beliau apabila melihat penjual pisang hendak membelinya pada saat memasukan tangan ke saku bajunya beliau heran didalam sakunya terdapat uang ternyata orang yang bersalaman dan berpelukan dengan beliau yang memasukan uang ke saku habib secara diam diam karena mereka tau habib Muhammad tidak akan menerima pemberin dari siapapun.Al Habib Muhammad Bin Muhsin Al Hamid sangat mencintai Al Qur’an dan itu terlihat karena beliau mengajar membaca Al Qur’an setiap hari dari jam 7 sampai jam 9 di rumah beliau sampai beliau wafat.Murid-murid beliau sangat banyak dan diantaranya adalah Al Habib Alwi bin Ahmad Bahsin (Mualim Nang), Beliau adalah sosok orang yang 'alim. Sahabat-sahabat beliau diantaranya Al Habib Abdurrahman bin muhammad Assegaf, Al Habib Idrus bin Alwi Assegaf, Al Habib Abdurrahman bin Abdullah bin Shahab, Al Habib Abdurrahman bin Alwi Assegaf.Mereka 3 hari dalam seminggu sering berkumpul di rumah Al Habib Abdurrahman bin Muhammad Assegaf untuk ber-muzakaroh:Al Habib Muhammad juga merupakan Imam khatib Jumat di Masjid jami’ sungai Lumpur 11 Ulu Palembang dan Mushollah Al Munawwar serta Ketip Arab yang terakhir hingga zaman revolusi (P3NTR sekarang)Jadwal Majelis beliau Hari Selasa ba’da dhuhur dirumah beliau untuk ibu-ibu Hari Jumat ba’da ashar di musholah _AlMunawwar , Hari Minggu pagi di rumah Al Habib Ahmad bin Zein Shahab untuk keluarga Pada hari jumat sehabis khotbah di Masjid Jami* Sungai Lumpur 11 Ulu beliau berpulang ke rahmatullah tepatnya pada tanggal 22 Rabiul Akhir 1382 / 19 Juni 1968 dan dimakamkan di qubah gundul 14 Ulu, Palembang.

Sabtu, 21 Mei 2016

Syaikh Ahmad Al Badawiy RA. – Wali Qutb Al Ghouts


Syaikh Ahmad Al Badawiy RA. – Wali Qutb Al Ghouts

Syaikh Ahmad Al Badawiy RA

Setiap hari, dari pagi hingga sore, ia menatap matahari, sehingga kornea matanya merah membara. Apa yang dilihatnya bisa terbakar, khawatir terjadinya hal itu, saat berjalan ia lebih sering menatap langit, bagaikan orang yang sombong. Sejak masa kanak kanak, ia suka berkhalwat dan riyadhoh, pernah empat puluh hari lebih perutnya tak terisi makanan dan minuman. Ia lebih memilih diam dan berbicara dengan bahasa isyarat, bila ingin berkomunikasi dengan seseorang. Ia tak sedetikpun lepas dari kalimat toyyibah, berdzikir dan bersholawat. Dalam perjalanan riyadhohnya, ia pernah tinggal di loteng negara Thondata selama 12 tahun, dan selama 8 tahun ia berada diatas atap, riadhoh siang dan malam. Ia hidup pada tahun 596-675 H dan wafat di Mesir, makamnya di kota Tonto, setiap waktu tak pernah sepi dari peziarah.
Pada usia dini ia telah hafal Al-Qur’an, untuk memperdalam ilmu agama ia berguru kepada Syeikh Abdul Qadir al-Jailani dan syeikh Ahmad Rifai. Ia adalah Waliullah Qutbol Gaust, Assayyid, Assyarif Ahmad al Badawi. Suatu hari, ketika sang Murid telah sampai ketingkatannya, Sjech Abdul Qodir Jaelani, menawarkan kepadanya ; ”Manakah yang kau inginkan ya Ahmad Badawi, kunci Masriq atau Magrib, akan kuberikan untukmu”, hal yang sama juga diucapkan oleh gurunya Sayyid Ahmad Rifai, dengan lembut, dan menjaga tatakrama murid kepada gurunya, ia menjawab; ”Aku tak mengambil kunci kecuali dari Al Fattah (Allah )”.
Suatu hari datang kepadanya, seorang janda mohon pertolongan, anak lelakinya ditahan di Perancis, dan sang ibu ingin agar anak itu kembali dalam keadaan selamat. Oleh Sayyidi Ahmad Al Badawi, janda itu disuruhnya untuk pulang, dan berkata sayidi : “Insya Allah anak ibu sudah berada dirumah”. Bergegas sang ibu menuju rumahnya, dan betapa bahagia, bercampur haru, dan penuh keheranan, ia dapati anaknya telah berada di rumah dalam keadaan terbelenggu. Sayyidi al badawi banyak menolong orang yang ditahan secara Dholim oleh penguasa Prancis saat itu, dan semua pulang ke rumahnya dalam keadaan tangannya tetap terbelenggu.
Pernah suatu ketika Syaikh Ibnul labban mengumpat Sayyidi Ahmad Badawi, seketika itu juga hafalan Al-Qur’an dan iman Syaikh Ibnul labban menjadi hilang. Ia bingung dan berusaha dengan beristighosah dan meminta bantuan do’a, orang orang terkemuka di zaman itu (agar ilmu dan imannya kembali lagi), tetapi tidak satupun dari yang dimintainya doa, berani mencampuri urusannya, karena terkait dengan Sayyidi Ahmad Badawi. Padahal diriwayatkan, saat itu Sayyidi Al Badawi telah wafat. Orang terkemuka yang dimintainya doa, hanya berani memberi saran kepada Syaikh Ibnul labban, agar dia menghadap Syeikh Yaqut al-‘Arsyiy, waliullah terkemuka pada saat itu, dan kholifah sayyidi abil hasan Assadzili. Ibnu labban segera menemui Sjech Yaqut dan minta pertolongannya, dalam urusannya dengan sayyidi Ahmad Al badawi. Setelah dimintai pertolongan oleh Syaikh Ibnul labban, Syeikh Yaqut Arsyiy berangkat menuju ke makam Sayyidi al-Badawi dan berkata : “ Wahai guru, hendaklah tuan memberi ma’af kepada orang ini!”. Dari dalam makamnya, terdengar jawaban “Apakah kamu berkehendak untuk mengembalikan tandanya orang miskin itu ? ya…sudah, tapi dengan syarat ia mau bertaubat”. Syeikh Ibbnul Labbanpun akhirnya bertaubat, dan tidak lama kemudian kembalilah ilmu dan imannya seperti sedia kala dan ia juga mengakui kewalian Syeikh Yaqut, karena peristiwa tersebut. Ia kemudian dinikahkan dengan putrinya Syeikh Yaqut. (Di ambil dari kitab al-Jaami’).
Syeikh Muhammad asy-Syanawi menceritakan, bahwa pada waktu itu ada orang yang tidak mau menghadiri dan bahkan mengingkari peringatan maulidnya Syeikh Ahmad Badawi, maka seketika hilanglah iman orang itu dan menjadi merasa tidak senang terhadap agama Islam. Orang itu kemudian berziarah ke makamnya Sayyid Badawi untuk minta tolong dan memohon maaf atas kesalahannya. Kemudian terdengarlah suara sayyidi Badawi dari dalam kubur : “iya, saya ma’afkan, tapi jangan berbuat lagi. Na’am (iya) jawab orang itu, spontan imannya kembali lagi. Beliau lalu meneruskan ucapannya : “Apa sebabnya kamu mengingkari kami semua”. Dijawabnya : “Karena di dalam acara itu banyak orang laki-laki dan perempuan bercampur baur menjadi satu” (tanpa ada garis pembatas). Sayyidi Badawi lalu mengatakan : “Di tempat thowaf sana, dimana banyak orang yang menunaikan ibadah haji disekitar Ka’bah, mereka juga bercampur laki-laki dan perempuan, kenapa tidak ada yang melarang”. Demi mulianya Tuhanku, orang-orang yang ada untuk menghadiri acara maulidku ini tidaklah ada yang menjalankan dosa kecuali pasti mau bertaubat dan akan bagus taubatnya. Hewan-hewan di hutan dan ikan-ikan di laut, semua itu dapat aku pelihara dan kulindungi diantara satu dengan lainnya sehingga menjadi aman dengan idzin Allah. Lalu, apakah kiranya Allah Ta’ala, tidak akan memberi aku kekuatan untuk mampu menjaga dan memelihara keamanannya orang-orang yang menghadiri acara maulidku itu ?”
Suatu ketika Syeikh Ibnu Daqiqil berkumpul dengan Sayyidi Badawi, dan ia bertanya kepada beliau : “Mengapa engkau tidak pernah sholat, yang demikian itu bukanlah perjalanannya para shalihin“. Lalu beliau menjawab : “Diam kamu! Kalau tidak mau diam aku hamburkan daqiqmu (tepung)”. Dan di tendanglah Syeikh Daqiqil oleh beliau hingga berada disuatu pulau yang luas dalam kondisi tidak sadarkan diri. Setelah sadar, iapun termangu karena merasa asing dengan pulau tersebut. Dalam kebingungannya, datanglah seorang lelaki menghampirinya dan memberi nasehat agar jangan mengganggu orang type al-Badawi, dan sekarang kamu berjalanlah menuju qubah yang terlihat itu, nanti jika sudah tiba di sana kau berhentilah di depan pintu hingga menunggu waktu ‘ashar dan ikutlah shalat berjamaah dibelakangnya imam tersebut, sebab nanti Ahmad Badawi akan ikut di dalamnya. Setelah bertemu dia ucapkanlah salam, peganglah lengan bajunya dan mohonlah ampun atas ucapanmu tadi. Ia menuruti kata-kata orang itu yang tidak lain adalah Nabiyullah Khidir a.s. Setelah semua nasehatnya dilaksanakan, betapa terkejutnya ia karena yang menjadi imam sholat waktu itu adalah Sayyidi Badawi. Setelah selesai sholat ia langsung menghampiri dan menciumi tangan dan menarik lengan Sayyidi al-Badawi, sambil berkata seperti yang diamanatkan orang tadi. Dan berkatalah Sayyidi Badawi sambil menendang Syeikh Daqiqil,” Pergilah sana murid-muridmu sudah menantimu dan jangan kau ulangi lagi!. Seketika itu juga ia sudah sampai di rumahnya dan murid-muridnya telah menunggu kedatangan Syeikh Daqiqil. Dijelaskan bahwa yang menjadi makmum sholat berjamaah dengan Sayyidi Badawi pada kejadian itu adalah para wali.
Syekh Imam al Munawi berkata : “Ada seorang Syeikh yang setiap akan bepergian selalu berziarah di makamnya Syeikh Ahmad al Badawi untuk minta ijin, lalu terdengar suara dari dalam kubur dengan jelas :”Ya pergilah dengan tawakkal, Insya Allah niatmu berhasil, kejadian tersebut didengar juga oleh Syeikh abdul wahab Assya’roni, padahal saat itu Syeikh Ahmad al Badawi sudah meninggal 200 tahun silam, jadi para aulia’ itu walaupun sudah meninggal ratusan tahun, namun masih bisa emberi petunjuk.
Berkata Syeikh Muhammad al-Adawi : Setengah dari keindahan keramat beliau ialah, pada saat banyaknya orang yang ingin berusaha membatalkan peringatan maulidnya beliau, dimana orang-orang tersebut menghadap dan meminta kepada Syeikh Imam Yahya al-Munawiy agar beliau mau menyetujuinya. Sebagai orang yang berpengaruh dan berpendirian kuat pada masa itu, Syeikh Yahya tidak menyetujuinya, akhirnya orang-orang tersebut melapor kepada sang raja azh-Zhohir Jaqmaq. Sang rajapun berusaha membujuk agar Syeikh Yahya bersedia memberi fatwa untuk membatalkan maulidnya Sayyidi Badawi. Akan tetapi Syeikh Yahya tetap tidak mau dan hanya bersedia memberikan fatwa melarang keharaman-haraman yang terjadi di acara itu. Maka acara maulid tetap dilaksanakan seperti biasa. Dan Syeikh Yahya bekata kepada sang raja: “Aku tetap tak berani sama sekali berfatwa yang demikian, karena Sayyidi Badawi adalah wali yang agung dan seorang fanatik (malati = bahasa jawanya). Hai raja, tunggu saja, kamu akan tahu akibat bahayanya orang-orang yang berusaha menghilangkan peringatan maulid Sayyidi Badawi. Memang benar, tak lama kemudian mereka yang bertujuan menghilangkan peringatan maulid Sayyidi Badawi tertimpa bencana. Orang-orang tersebut ada yang dicopot jabatannya dan diasingkan oleh rajanya. Ada yang melarikan diri ke Dimyath akan tetapi kemudian ditarik kembali dan diberi pengajaran, dirantai dan dipenjara selama setengah bulan. Bahkan diantara mereka yang mempunyai jabatan tinggi dikerajaan itu lalu banyak yang ditangkap, disidang dengan kelihatan terhina, disiksa dan diborgol besi di depan majlis hakim syara’ lalu dihadapkan raja yang kemudian dibuang di negara Maghrib.
Sayyidi Ahmad Badawi pernah berkata kepada seseorang : “Bahwa pada tahun ini hendaknya kamu menyimpan gandum yang banyak yang tujuanmu nanti akan kau berikan kepada para fakir miskin, sebab nanti akan terjadi musim paceklik pangan. Kemudian orang tadi menjalankan apa yang diperintahkan beliau, dan akhirnya memang terbukti kebenaran ucapan Sayyidi Badawi.
Berkata al-Imam Sya’roni : “Pada tahun 948 H aku ketinggalan tidak dapat menghadiri acara maulidnya Sayyidi Badawi. Lalu ada salah satu aulia’ memberi tahu kepadaku bahwa Sayyidi Badawi pada waktu peringatan itu memperlihatkan diri di makamnya dan bertanya : “Mana Abdul Wahhab Sya’roni, kenapa tidak datang ?” Pada suatu tahun, al-Imam Sya’roni juga pernah berkeinginan tidak akan mendatangi maulid beliau. Lalu aku melihat beliau memegang pelepah kurma hijau sambil mengajak orang-orang dari berbagai negara. Jadi orang-orang yang berada dibelakangnya, dikanan dan kirinya banyak sekali tak terhingga jumlahnya. Terus beliau melewati aku di Mesir, sayyidi Badawi berkata : “Kenapa kamu tidak berangkat ?”. Aku sedang sakit tuan, jawabku. Sakit tidak menghalang-halangi orang cinta. Terus aku diperlihatkan orang banyak dari para aulia’dan para masayikh, baik yang masih hidup maupun yang sudah wafat, dan orang-orang yang lumpuh semua berjalan dengan merangkak dan memakai kain kafannya, mereka mengikuti dibelakang sayyidi Badawi menghadiri maulid beliau. Terus aku juga diperlihatkan jama’ah dan sekelompok tawanan yang masih dalam keadaan terbalut dan terbelenggu juga ikut datang menghadiri maulidnya. Lalu beliau berkata: lihatlah ! itu semua tidak ada yang mau ketinggalan, akhirnya aku berkehendak untuk mau menghadiri, dan aku berkata : Insya Allah aku hadir tuan guru ?. Kalau begitu kamu harus dengan pendamping, jawab sayyidi Badawi. Kemudian beliau memberi aku dua harimau hitam besar dan gajah, yang dijanji tidak akan berpisah denganku sebelum sampai di tempat. Peristiwa ini kemudian aku ceritakan kepada guruku Syeikh Muhammad asy-Syanawi, beliau lalu menjelaskan: memang pada umumnya para aulia’ mengajak orang-orang itu dengan perantaraan, akan tetapi sayyidi Ahmad Badawi langsung dengan sendirinya menyuruh orang-orang mengajak datang. Sungguh banyak keramat beliau, hingga al-Imam Sya’roni mengatakan,”Seandainya keajaiban atau keramat-keramat beliau kalau ditulis di dalam buku tidaklah akan muat karena terlalu banyaknya. Tetapi ada peninggalan Syeikh ahmad Badawi yang sangat utama, yaitu bacaan sholawat badawiyah sughro dan sholawat badawiyah kubro. Demikianlah sekelumit manakib Sayyidi Ahmad Al Badawi disajikan kehadapan pembaca, untuk dapat diambil hikmahnya, DUSTUR YA SAYYIDI AHMAD AL BADAWI (Dian Sag)

sebuah cerita dari Syeikh As-Sariy As-Saqqathy r.a

Syeikh As-Sariy As-Saqqathy r.a. bercerita:
Sekali peristiwa sedang aku berada di Baitul-Maqdis, ketika itu aku duduk di Sakhrah berdekatan dengan Masjid Al-Aqsha. Aku dalam keadaan sedih dan pilu sekali, kerana hari-hari untuk perlaksanaan haji ke Batullah hanya tinggal sepuluh hari saja lagi, jadi aku merasa kesal sekali kerana tidak dapat menunaikan ibadat Haji pada tahun itu
Aku berkata dalam hatiku:
“Alangkah buruknya nasib! Semua orang telah berangkat menuju ke Makkah untuk menunaikan haji, dan kini yang tinggal hanya beberapa hari saja, padahal aku masih berada di sini!”
Akupun menangis kerana ketinggalan amalan Haji tahun ini. Tidak beberapa lama sesudah itu, aku terdengar suatu suara ghaib menyambut tangisanku tadi. Katanya:
“Wahai Sariy Saqathy! Janganlah anda menangis, nanti Tuhan akan mengirimkan utusanNya untuk menghantarmu ke Baitullahil-Haram, Makkah di saat ini juga.!”
Aku bertanya dalam hatiku: Bagaimana ini boleh terjadi, sedang saat ini aku masih di sini, padahal perlaksanaan haji tinggal beberapa hari lagi? Apakah aku akan diterbangkan? atau bagaimana?
Suara itu kedengaran lagi:
“Jangan engkau ragu! Allah Maha Kuasa mampu mempermudah segala yang sukar bagaimanapun caranya.”
Mendengar jawapan itu, aku langsung bersujud kepada Allah untuk bersyukur dengan airmata kegembiraan. Kemudian aku duduk dengan hati yang berdebar-debaran dan hatiku terus bertanya:
“Benarkah apa yang dikatakan oleh suara itu?!”
Tiba-tiba dari jauh tampak dengan jelas empat orang pemuda berjalan cepat-cepat menuju ke masjid, dan kelihatan wajah keempat-empat pemuda itu sangat bersinar. Seorang di antaranya lebih tampan dan berwibawa, mungkin dia itulah pemimpin rombongan ini. Mereka sholat masing-masing dua rakaat. Saya turun dari Sakhrah, lalu mendekati mereka, dalam hatiku berkata:
“Moga-moga mereka inilah orang-orang yang dijanjikan oleh Tuhan dalam suara ghaib tadi!”
Aku mendekati pula pemuda yang aku menganggapnya sebagai pemimpin rombongan ini agar aku dapat mendengar doa dan munajatnya. Aku dapatinya sedang menangis, kemudian dia berdiri, menyentuh hati sanubariku. Selesai bersholat dia lalu duduk dan datang pula ketiga-tiga pemuda yang lain pula yang duduk di sisinya.
Berkata Sariy Saqathy:
Akupun mendekati mereka serta memberi salam kepada mereka.
“Waalaikumussalam,” Jawab pemuda pemimpin itu,
“Wahai Sariy Saqathy, wahai orang yang mendengar suara ghaib pada hari ini. Bergembiralah, bahawa engkau tidak akan ketinggalan haji pada tahun ini.”
Aku hampir-hampir jatuh pengsan, apabila mendengar berita itu. Aku terlalu gembira, dan tidak dapat kusifatkan betapa hatiku merasa senang sekali, sesudah tadinya aku bersedih dan menangis.
“Ya, memang saya dengar suara ghaib itu tadi,” Jelas Sariy Saqathy.
“Kami,” Kata pemuda itu, “Sebelum suara ghaib itu membsikkan suaranya kepada mu itu, kami sedang berada di negeri Khurasan dalam penujuan kami ke Negeri Baghdad. Kami cepat-cepat menyelesaikan keperluan kami di sana, dan terus berangkat ke arah Baitullahi-Haram. Tiba-tiba terfikir oleh kami ingin menziarahi makam-makam para Nabi di Shyam, kemudian barulah kami akan pergi ke Makkah yang dimuliakan oleh Allah tanahnya. Kini kami telah pun memenuhi hak-hak para Nabi itu dengan menziarahi makam-makam mereka, dan kami datang ke mari pula untuk menziarahi Baitul-Maqdis,” Pemuda itu menjelaskan lagi.
“Tetapi, apa pula yang tuan-tuan melakukan ketika di Khurasan awal-awal itu,?” Tanya Sariy Saqathy.
“Kami mengadakan pertemuan dengan rakan kami, iaitu Ibrahim Bin Adham Ma’ ruf Al-Karkhi. Dan saat ini mereka sedang menuju ke Makkah, melalui jalan padang pasir, dan kami pula singgah di Baitul Maqdis.”
Hairanku memuncak kini, apakah benar apa yang mereka katakan itu? Mana Khurasan dan mana pula Sham? Jarak di antara kedua-duanya amat jauh sekali dan jika ditempuh berjalan kaki memakan masa setahun lamanya. Bagaimana mereka dapat menempuhnya dengan sekelip mata sahaja?!
“Moga-moga Allah merahmatimu,” ujarku. “Perjalanan dari Khurasan dan Baitul Maqdis kerap kali ditempuh selama setahun? Bagaimana kamu dapat menempuhnya dalam masa yang singkat sekali?!” tambahku lagi.
“Wahai Sariy, jangan kau hairan!” Kata pemuda pemimpin itu. “Kalau perjalanannya itu sampai seribu tahun sekalipun, bukankah kita ini semua hamba-hamba Allah, dan bumi pun bumi Allah?! Kita pun pergi untuk menziarahi rumahNya, jadi Dialah yang menyampaikan kita ke sana dan kuasa dan kehendak ialah kuasa dan kehendakNya. Tidakkah engkau lihat betapa matahari beredar dari timur dan barat pada suatu hari sahaja, yakni siangnya. Cuba engkau fikirkan bagaimana matahari itu beredar? Apakah ia beredar dengan kuasanya sendiri, ataukah dengan kuasa Tuhan? Kalaulah matahari itu yang hanya jamad (benda yang tidak bernyawa), dan ia tidak ada hisab, (perhitungan) dan tidak ada iqab (siksa) ia boleh beredar dari timur ke barat dalam satu hari, jadi tidaklah mustahil bagi seorang hamba dari hamba-hamba Allah boleh memotong perjalanan dari Khurasan ke Baitul Maqdis dalam satu saat sahaja. Sesungguhnya Allah Ta’ala mempunyai kuasa mutlak dan kehendak untuk membuat sesuatu yang luar biasa kepasa siapa yang dicintaiNya atau yang dipilihNya, tiada suatu kuasa yang dapat menghalangi kuasa dan kehendakNya.”
Dia berhenti semula kemudian menyambung lagi:
“Engkau wahai Sariy Saqathy!” Seru pemuda itu tadi, “Hendaklah engkau memuliakan dunia dan akhirat sekaligus?”
Dia menjawab:
“Siapa yang mahukan kekayaan tanpa harta, dan ilmu pengetahuan tanpa belajar serta kemuliaan tanpa kaum keluarga, maka hendaklah ia membersihkan jiwanya dari mencintai dunia sama sekali, jangan sekali-kali ia bergantung kepada dunia, dan jangan sampai hatinya mengingatinya sama sekali!”
“Tuan! demi Allah yang telah menggutamakanmu dengan Nur cahayaNya, dan Yang telah Membukakan bagimu darihal rahsia-rahsiaNya, sekarang engkau akan berangkat ke mana?!” tanya Sariy Saqathy.
“Kami akan berangkat untuk menunaikan haji, kemudian menziarahi maqam nabi alaihis-shalatu was-salam.”
“Demi Allah, aku tidak akan berpisah denganmu lagi, kerana berpisah denganmu bererti berpisahnya roh dengan jasad,” Aku merayu kepadanya.
“Kalau begitu, marilah kita berangkat bersama dengan menyebut Bismillah.”
Dia mula bersia-siap dan berangkat jalan. Aku pun menurut di belakangnya. Sebentar saja kami berjalan, tiba-tiba sudah masuk waktu solat zohor.
“Wahai Sariy, sekarang sudah masuk waktu Zohor, engkau tidak bersolat Zohor?!” tanyanya.
“Ya, aku akan bersolat Zohor”, kataku.
Aku pun segera mencari debu bersih untuk bertayammum. Tiba-tiba kata pemuda itu:
“Tak perlu tayammum. Di sini ada mata air tawar, mari ikut aku ke sana!”
Aku sebagai orang yang bodoh ikut ke jalan yang diarahkan. Di situ memang benar ada sebuah mata air tawar, rasanya lebih enak dan lebih manis dari rasa madu.
Aku pun berwudhuk dengan air itu serta meminumnya dengan sepuas-puasnya. Kemudian aku berkata kepadanya:
“Tuan! demi Allah, aku telah melalui jalan ini berkali-kali, tetapi tak pernah aku menemui mata air ini, ataupun air apa pun di tempat ini?!”
“Kalau begitu kita harus bersyukur kepada Allah atas kemurahanNya terhadap hamba-hambaNya.”
Kamipun bersholat bersama-sama, kemudian berjalan lagi hingga dekat ke waktu Asar. Aku tidak percayakan diriku ketika aku lihat menara-menara tinggi Negeri Hijaz itu. Tidak beberapa lama sesudah itu, aku terlihat tembok-tembok Kota Makkah. “Oh, ini Makkah! bisik hatiku. Betulkah aku dalam keadaan sedar, ataupun mungkun ini hanya sebuah impian malam saja!!!
Tiba-tiba tercetus dari mulutku, “Eh kita sudah sampai ke Makkah?!” Aku terus menangis dan airmataku menjirusi seluruh pipiku.
“Wahai Sariy,” Kata pemuda itu. “Engkau sudah sampai di Makkah. Sekarang engkau hendak berpisah denganku ataupun kau hendak masuk bersama-sama denganku?!” Tanya pemuda itu.
“Ya, saya akan masuk bersamamu,” Jawabku.
Kami pun masuk Makkah itu menerusi pintu Nadwah. Di situ aku temui dua orang laki-laki sedang menunggu kami. Seorang agak sudah tua parasnya dan yang lain pula masih muda dan tegak lagi.
Apabila kedua orang laki-laki itu melihat pemuda tadi, mereka tersenyum dan serta merta mereka datang dan mendakapnya. Kemudian sebut mereka: Alhamdulillah alas-salaamah! (segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan kamu.)
“Tuan, siapa mereka ini” tanyaku.
“Ah,” bunyi suaranya. “Yang tua ini ialah Ibrahin Bin AdHam dan pemuda ini ialah Ma’ruf Al-Karkhi.”
Akupun bersalaman dengan mereka.
Kami sekelian duduk di dalam masjid itu hinggalah tiba waktu sholat Asar. Kemudian kita bersholat pula sholat Maghrib dan Isyak di Masjidil Haram itu.
Sesudah itu, maka masing-masing mereka mengambil tempat-tempat sendiri di dalam masjid itu bersholat bermacam-macam sholat. Aku juga turut bersholat sekadar kemampuanku sehinggalah tertidur dengan nyenyaknya. Apabila aku tersedar dari tidurku itu aku dapati mereka sudah tidak ada lagi di situ. Aku cuba mencarinya di merata Masjidil-Haram itu, tiada suatu ceruk pun melainkan sudah aku amat-amatinya, namun bayangnya pun tidak kudapati. Ke mana mereka telah pergi? aku merayau-rayau di situ selaku orang gila yang tidak tentu arahnya.
Kemudian aku pergi mencari mereka di merata tempat lain, di sekitar Masjidil-Haram, dan merata-rata kota Makkah, di Mina, dan di tempat-tempat lain lagi, namun aku tidak menemui walau seorang pun dari mereka.
Aku merasa sedih sekali, dan kadang-kadang aku menangis seorang diri, kerana telah terpisah dari mereka itu sekelian.
Moga-moga Allah merahmati mereka sekelian!.

sebuah cerita dari Syeikh As-Sariy As-Saqqathy r.a

Syeikh As-Sariy As-Saqqathy r.a. bercerita:
Sekali peristiwa sedang aku berada di Baitul-Maqdis, ketika itu aku duduk di Sakhrah berdekatan dengan Masjid Al-Aqsha. Aku dalam keadaan sedih dan pilu sekali, kerana hari-hari untuk perlaksanaan haji ke Batullah hanya tinggal sepuluh hari saja lagi, jadi aku merasa kesal sekali kerana tidak dapat menunaikan ibadat Haji pada tahun itu
Aku berkata dalam hatiku:
“Alangkah buruknya nasib! Semua orang telah berangkat menuju ke Makkah untuk menunaikan haji, dan kini yang tinggal hanya beberapa hari saja, padahal aku masih berada di sini!”
Akupun menangis kerana ketinggalan amalan Haji tahun ini. Tidak beberapa lama sesudah itu, aku terdengar suatu suara ghaib menyambut tangisanku tadi. Katanya:
“Wahai Sariy Saqathy! Janganlah anda menangis, nanti Tuhan akan mengirimkan utusanNya untuk menghantarmu ke Baitullahil-Haram, Makkah di saat ini juga.!”
Aku bertanya dalam hatiku: Bagaimana ini boleh terjadi, sedang saat ini aku masih di sini, padahal perlaksanaan haji tinggal beberapa hari lagi? Apakah aku akan diterbangkan? atau bagaimana?
Suara itu kedengaran lagi:
“Jangan engkau ragu! Allah Maha Kuasa mampu mempermudah segala yang sukar bagaimanapun caranya.”
Mendengar jawapan itu, aku langsung bersujud kepada Allah untuk bersyukur dengan airmata kegembiraan. Kemudian aku duduk dengan hati yang berdebar-debaran dan hatiku terus bertanya:
“Benarkah apa yang dikatakan oleh suara itu?!”
Tiba-tiba dari jauh tampak dengan jelas empat orang pemuda berjalan cepat-cepat menuju ke masjid, dan kelihatan wajah keempat-empat pemuda itu sangat bersinar. Seorang di antaranya lebih tampan dan berwibawa, mungkin dia itulah pemimpin rombongan ini. Mereka sholat masing-masing dua rakaat. Saya turun dari Sakhrah, lalu mendekati mereka, dalam hatiku berkata:
“Moga-moga mereka inilah orang-orang yang dijanjikan oleh Tuhan dalam suara ghaib tadi!”
Aku mendekati pula pemuda yang aku menganggapnya sebagai pemimpin rombongan ini agar aku dapat mendengar doa dan munajatnya. Aku dapatinya sedang menangis, kemudian dia berdiri, menyentuh hati sanubariku. Selesai bersholat dia lalu duduk dan datang pula ketiga-tiga pemuda yang lain pula yang duduk di sisinya.
Berkata Sariy Saqathy:
Akupun mendekati mereka serta memberi salam kepada mereka.
“Waalaikumussalam,” Jawab pemuda pemimpin itu,
“Wahai Sariy Saqathy, wahai orang yang mendengar suara ghaib pada hari ini. Bergembiralah, bahawa engkau tidak akan ketinggalan haji pada tahun ini.”
Aku hampir-hampir jatuh pengsan, apabila mendengar berita itu. Aku terlalu gembira, dan tidak dapat kusifatkan betapa hatiku merasa senang sekali, sesudah tadinya aku bersedih dan menangis.
“Ya, memang saya dengar suara ghaib itu tadi,” Jelas Sariy Saqathy.
“Kami,” Kata pemuda itu, “Sebelum suara ghaib itu membsikkan suaranya kepada mu itu, kami sedang berada di negeri Khurasan dalam penujuan kami ke Negeri Baghdad. Kami cepat-cepat menyelesaikan keperluan kami di sana, dan terus berangkat ke arah Baitullahi-Haram. Tiba-tiba terfikir oleh kami ingin menziarahi makam-makam para Nabi di Shyam, kemudian barulah kami akan pergi ke Makkah yang dimuliakan oleh Allah tanahnya. Kini kami telah pun memenuhi hak-hak para Nabi itu dengan menziarahi makam-makam mereka, dan kami datang ke mari pula untuk menziarahi Baitul-Maqdis,” Pemuda itu menjelaskan lagi.
“Tetapi, apa pula yang tuan-tuan melakukan ketika di Khurasan awal-awal itu,?” Tanya Sariy Saqathy.
“Kami mengadakan pertemuan dengan rakan kami, iaitu Ibrahim Bin Adham Ma’ ruf Al-Karkhi. Dan saat ini mereka sedang menuju ke Makkah, melalui jalan padang pasir, dan kami pula singgah di Baitul Maqdis.”
Hairanku memuncak kini, apakah benar apa yang mereka katakan itu? Mana Khurasan dan mana pula Sham? Jarak di antara kedua-duanya amat jauh sekali dan jika ditempuh berjalan kaki memakan masa setahun lamanya. Bagaimana mereka dapat menempuhnya dengan sekelip mata sahaja?!
“Moga-moga Allah merahmatimu,” ujarku. “Perjalanan dari Khurasan dan Baitul Maqdis kerap kali ditempuh selama setahun? Bagaimana kamu dapat menempuhnya dalam masa yang singkat sekali?!” tambahku lagi.
“Wahai Sariy, jangan kau hairan!” Kata pemuda pemimpin itu. “Kalau perjalanannya itu sampai seribu tahun sekalipun, bukankah kita ini semua hamba-hamba Allah, dan bumi pun bumi Allah?! Kita pun pergi untuk menziarahi rumahNya, jadi Dialah yang menyampaikan kita ke sana dan kuasa dan kehendak ialah kuasa dan kehendakNya. Tidakkah engkau lihat betapa matahari beredar dari timur dan barat pada suatu hari sahaja, yakni siangnya. Cuba engkau fikirkan bagaimana matahari itu beredar? Apakah ia beredar dengan kuasanya sendiri, ataukah dengan kuasa Tuhan? Kalaulah matahari itu yang hanya jamad (benda yang tidak bernyawa), dan ia tidak ada hisab, (perhitungan) dan tidak ada iqab (siksa) ia boleh beredar dari timur ke barat dalam satu hari, jadi tidaklah mustahil bagi seorang hamba dari hamba-hamba Allah boleh memotong perjalanan dari Khurasan ke Baitul Maqdis dalam satu saat sahaja. Sesungguhnya Allah Ta’ala mempunyai kuasa mutlak dan kehendak untuk membuat sesuatu yang luar biasa kepasa siapa yang dicintaiNya atau yang dipilihNya, tiada suatu kuasa yang dapat menghalangi kuasa dan kehendakNya.”
Dia berhenti semula kemudian menyambung lagi:
“Engkau wahai Sariy Saqathy!” Seru pemuda itu tadi, “Hendaklah engkau memuliakan dunia dan akhirat sekaligus?”
Dia menjawab:
“Siapa yang mahukan kekayaan tanpa harta, dan ilmu pengetahuan tanpa belajar serta kemuliaan tanpa kaum keluarga, maka hendaklah ia membersihkan jiwanya dari mencintai dunia sama sekali, jangan sekali-kali ia bergantung kepada dunia, dan jangan sampai hatinya mengingatinya sama sekali!”
“Tuan! demi Allah yang telah menggutamakanmu dengan Nur cahayaNya, dan Yang telah Membukakan bagimu darihal rahsia-rahsiaNya, sekarang engkau akan berangkat ke mana?!” tanya Sariy Saqathy.
“Kami akan berangkat untuk menunaikan haji, kemudian menziarahi maqam nabi alaihis-shalatu was-salam.”
“Demi Allah, aku tidak akan berpisah denganmu lagi, kerana berpisah denganmu bererti berpisahnya roh dengan jasad,” Aku merayu kepadanya.
“Kalau begitu, marilah kita berangkat bersama dengan menyebut Bismillah.”
Dia mula bersia-siap dan berangkat jalan. Aku pun menurut di belakangnya. Sebentar saja kami berjalan, tiba-tiba sudah masuk waktu solat zohor.
“Wahai Sariy, sekarang sudah masuk waktu Zohor, engkau tidak bersolat Zohor?!” tanyanya.
“Ya, aku akan bersolat Zohor”, kataku.
Aku pun segera mencari debu bersih untuk bertayammum. Tiba-tiba kata pemuda itu:
“Tak perlu tayammum. Di sini ada mata air tawar, mari ikut aku ke sana!”
Aku sebagai orang yang bodoh ikut ke jalan yang diarahkan. Di situ memang benar ada sebuah mata air tawar, rasanya lebih enak dan lebih manis dari rasa madu.
Aku pun berwudhuk dengan air itu serta meminumnya dengan sepuas-puasnya. Kemudian aku berkata kepadanya:
“Tuan! demi Allah, aku telah melalui jalan ini berkali-kali, tetapi tak pernah aku menemui mata air ini, ataupun air apa pun di tempat ini?!”
“Kalau begitu kita harus bersyukur kepada Allah atas kemurahanNya terhadap hamba-hambaNya.”
Kamipun bersholat bersama-sama, kemudian berjalan lagi hingga dekat ke waktu Asar. Aku tidak percayakan diriku ketika aku lihat menara-menara tinggi Negeri Hijaz itu. Tidak beberapa lama sesudah itu, aku terlihat tembok-tembok Kota Makkah. “Oh, ini Makkah! bisik hatiku. Betulkah aku dalam keadaan sedar, ataupun mungkun ini hanya sebuah impian malam saja!!!
Tiba-tiba tercetus dari mulutku, “Eh kita sudah sampai ke Makkah?!” Aku terus menangis dan airmataku menjirusi seluruh pipiku.
“Wahai Sariy,” Kata pemuda itu. “Engkau sudah sampai di Makkah. Sekarang engkau hendak berpisah denganku ataupun kau hendak masuk bersama-sama denganku?!” Tanya pemuda itu.
“Ya, saya akan masuk bersamamu,” Jawabku.
Kami pun masuk Makkah itu menerusi pintu Nadwah. Di situ aku temui dua orang laki-laki sedang menunggu kami. Seorang agak sudah tua parasnya dan yang lain pula masih muda dan tegak lagi.
Apabila kedua orang laki-laki itu melihat pemuda tadi, mereka tersenyum dan serta merta mereka datang dan mendakapnya. Kemudian sebut mereka: Alhamdulillah alas-salaamah! (segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan kamu.)
“Tuan, siapa mereka ini” tanyaku.
“Ah,” bunyi suaranya. “Yang tua ini ialah Ibrahin Bin AdHam dan pemuda ini ialah Ma’ruf Al-Karkhi.”
Akupun bersalaman dengan mereka.
Kami sekelian duduk di dalam masjid itu hinggalah tiba waktu sholat Asar. Kemudian kita bersholat pula sholat Maghrib dan Isyak di Masjidil Haram itu.
Sesudah itu, maka masing-masing mereka mengambil tempat-tempat sendiri di dalam masjid itu bersholat bermacam-macam sholat. Aku juga turut bersholat sekadar kemampuanku sehinggalah tertidur dengan nyenyaknya. Apabila aku tersedar dari tidurku itu aku dapati mereka sudah tidak ada lagi di situ. Aku cuba mencarinya di merata Masjidil-Haram itu, tiada suatu ceruk pun melainkan sudah aku amat-amatinya, namun bayangnya pun tidak kudapati. Ke mana mereka telah pergi? aku merayau-rayau di situ selaku orang gila yang tidak tentu arahnya.
Kemudian aku pergi mencari mereka di merata tempat lain, di sekitar Masjidil-Haram, dan merata-rata kota Makkah, di Mina, dan di tempat-tempat lain lagi, namun aku tidak menemui walau seorang pun dari mereka.
Aku merasa sedih sekali, dan kadang-kadang aku menangis seorang diri, kerana telah terpisah dari mereka itu sekelian.
Moga-moga Allah merahmati mereka sekelian!.

Sekilas Riwayat Syaikh Ahmad Jauhari Umar Pasuruan



===========================

Sekilas Riwayat Syaikh Ahmad Jauhari Umar Pasuruan
Syaikh Ahmad Jauhari Umar dilahirkan pada hari Jum’at legi tanggal 17 Agustus 1945 jam 02.00 malam, yang keesokan harinya bertepatan dengan hari kemerdekaan Negara Republik Indonesia yang diproklamirkan oleh Presiden Soekarno dan Dr. Muhammad Hatta.
Tempat kelahiran beliau adalah di Dukuh Nepen Desa Krecek kecamatan Pare Kediri Jawa Timur. Sebelum berangkat ibadah haji, nama beliau adalah Muhammad Bahri, putra bungsu dari bapak Muhammad Ishaq.
Meskipun dilahirkan dalam keadaan miskin harta benda, namun mulia dalam hal keturunan. Dari sang ayah, beliau mengaku masih keturunan Sultan Hasanudin bin Sunan Gunung Jati, dan dari sang ibu beliau mengaku masih keturunan KH Hasan Besari Tegal Sari Ponorogo Jawa Timur yang juga masih keturunan Sunan Kalijogo.
Pada masa kecil Syaikh Ahmad Jauhari Umar dididik oleh ayahanda sendiri dengan disiplin pendidikan yang ketat dan sangat keras. Diantaranya adalah menghafal kitab taqrib dan maknanya dan mempelajari tafsir Al-Qur’an baik ma’na maupun nasakh mansukhnya.
Masih diantara kedisiplinan ayah beliau dalam mendidik adalah Syaikh Ahmad Jauhari Umar tidak diperkenankan berteman dengan anak-anak tetangga dengan tujuan supaya Syaikh Ahmad Jauhari Umar tidak mengikuit kebiasaan yang tidak baik yang dilakukan oleh anak-anak tetangga. Syaikh Ahmad Jauhari Umar dilarang merokok dan menonton hiburan seperti orkes, Wayang, ludruk dll, dan tidak pula boleh meminum kopi dan makan di warung.
Pada usia 11 tahun Syaikh Ahmad Jauhari Umar sudah mengkhatamkan Al-Qur’an semua itu berkat kegigihan dan disiplin ayah beliau dalam mendidik dan membimbing.
Orang tua Syaikh Ahmad Jauhari Umar memang terkenal cinta kepada para alim ulama terutama mereka yang memiliki barakah dan karamah. Ayah beliau berpesan kepada Syaikh Ahmad Jauhari Umar agar selalu menghormati para ulama. Jika sowan (berkunjung) kepada para ulama supaya selalu memberi uang atau jajan (oleh-oleh). Pesan ayahanda tersebut dilaksanakan oleh beliau, dan semua ulama yang pernah diambil manfaat ilmunya mulai dari Kyai Syufa’at Blok Agung Banyuwangi hingga KH. Dimyathi Pandegelang Banten, semuanya pernah diberi uang atau jajan oleh Syaikh Ahmad Jauhari Umar.
Sebenarnya, Syaikh Ahmad Jauhari Umar pernah menganut faham wahabi bahkan sampai menduduki posisi wakil ketua Majlis Tarjih Wahabi Kaliwungu. Adapun beberapa hal yang menyebabkan Syaikh Ahmad Jauhari Umar pindah dari faham wahabi dan menganut faham ahlussunah diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Beliau pernah bermimpi bertemu dengan kakek beliau yaitu KH. AbduLlah Sakin yang wafat pada tahun 1918 M, beliau berwasiyat kepada Syaikh Ahmad Jauhari Umar bahwa yang benar adalah faham ahlussunah.
2. Syaikh Ahmad Jauhari Umar pernah bertemu dengan KH Yasin bin ma’ruf Kedunglo Kediri, pertemuan itu terjadi di warung/rumah makan Pondok Pesantren Lirboyo Kediri yang berkata kepada Syaikh Ahmad Jauhari Umar bahwa Syaikh Ahmad Jauhari Umar kelak akan menjadi seorang ulama yang banyak tamunya. Dan ucapan KH Yasin tersebut terbukti, beliau setiap hari menerima banyak tamu.
3. Syaikh Ahmad Jauhari Umar pernah berjumpa dengan Sayyid Ma’sum badung Madura yang memberi wasiyat bahwa kelak Syaikh Ahmad Jauhari Umar banyak santrinya yang berasal dari jauh. Dan hal itu juga terbukti.
4. Syaikh Ahmad Jauhari Umar bertemu dengan KH Hamid AbdiLlah Pasuruan, beliau berkata bahwa kelak Syaikh Ahmad Jauhari Umar akan dapat melaksanakan ibadah haji dan menjadi ulama yang kaya. Dan terbukti beliau sampai ibadah haji sebanyak lima kali dan begitu juga para putera beliau.
Hal tersebutlah yang menyebabkan Syaikh Ahmad Jauhari Umar menganut faham ahlussunah karena beliau merasa heran dan ta’jub kepada para ulama ahlussunah seperti tersebut di atas yang dapat mengetahui hal-hal rahasia ghaib dan ulama yang demikian ini tidak dijumpainya pada ulama-ulama golongan wahabi.
Dalam menghadapi setiap cobaan yang menimpa, Syaikh Ahmad Jauhari Umar memilih satu jalan yaitu mendatangi ulama. Adapun beberapa ulama yang dimintai do’a dan barokah oleh beliau diantaranya adalah:
1. KH. Syafa’at Blok Agung Banyuwangi.
2. KH. Hayatul Maki Bendo Pare Kediri.
3. KH. Marzuki Lirboyo Kediri.
4. KH. Dalhar Watu Congol Magelang.
5. KH. Khudlori Tegal Rejo Magelang.
6. KH. Dimyathi Pandegelang Banten.
7. KH. Ru’yat Kaliwungu.
8. KH. Ma’sum Lasem.
9. KH. Baidhawi Lasem.
10. KH. Masduqi Lasem.
11. KH. Imam Sarang.
12. KH. Kholil Sidogiri.
13. KH Abdul Hamid AbdiLlah Pasuruan.
Selesai beliau mendatangi para ulama, maka ilmu yang didapat dari mereka beliau kumpulkan dalam sebuah kitab “Jawahirul Hikmah”.
Kemudian beliau mengembara ke makam–makam para wali mulai dari Banyuwangi sampai Banten hingga Madura. Sewaktu beliau berziarah ke makam Syaikh Kholil Bangkalan Madura, Syaikh Ahmad Jauhari Umar bertemu dengan Sayyid Syarifuddin yang mengaku masih keturunan Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani RA. Kemudian Sayyid Syarifuddin memberikan ijazah kepada Syaikh Ahmad Jauhari Umar berupa amalan ‘MANAKIB JAWAHIRUL MA’ANY’ dimana amalan manakib Jawahirul Ma’any tersebut saat ini tersebar luas di seluruh Indonesia karena banyak Fadhilahnya bahkan sampai ke negara asing seperti Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Pakistan, tanzania, Afrika, Nederland, dll.
Syaikh Ahmad Jauhari Umar pernah mengalami masa-masa yang sulit dalam segala hal. Bahkan ketika putera beliau masih berada di dalam kandungan, beliau diusir oleh keluarga isteri beliau sehingga harus pindah ke desa lain yang tidak jauh dari desa mertua beliau kira-kira satu kilometer. Ketika putera beliau berumur satu bulan, beliau kehabisan bekal untuk kebutuhan sehari-hari kemudian Syaikh Ahmad Jauhari Umar memerintahkan kepada isteri beliau untuk pulang meminta makanan kepada orang tuanya.
Dan Syaikh Ahmad Jauhari Umar berkata, “Saya akan memohon kepada Allah SWT”. Akhirnya isteri beliau dan puteranya pulang ke rumah orang tuanya.
Kemudian Syaikh Ahmad Jauhari Umar mengambil air wudhu untuk melaksanakan shalat dhuha dan dilanjutkan membaca manakib Jawahirul Ma’any. Ketika tengah membaca Manakib, beliau mendengar ada orang di luar rumah memberikan ucapan salam kepada beliau, dan beliau jawab di dalam hati kemudian beliau tetap melanjutkan membaca Manakib Jawahirul Ma’any hingga khatam. Setelah selesai membaca Manakib, maka keluarlah beliau seraya membukakan pintu bagi tamu yang memberikan salam tadi.
Setelah pintu terbuka, tenyata ada enam orang yang bertamu ke rumah beliau. Dua orang tamu memberi beliau uang Rp 10.000, dan berpesan supaya selalu mengamalkan Manakib tersebut. Dan sekarang kitab manakib tersebut sudah beliau ijazahkan kepada kaum Muslimin dan Muslimat agar kita semua dapat memperoleh berkahnya. Kemudian dua tamu lagi memberi dua buah nangka kepada beliau, dan dua tamu lainnya memberi roti dan gula.
Kemudian Syaikh Ahmad Jauhari Umar selalu melaksanakan pesan tamu-tamu tersebut yang menjadi amalan beliau sehari-hari. Tidak lama setelah itu, setiap harinya Syaikh Ahmad Jauhari Umar diberi rizki oleh Allah senanyak Rp. 1.500 hingga beliau berangkat haji untuk pertamakali pada tahun 1982.
Kemudian pada tahun 1983 Syaikh Ahmad Jauhari Umar menikah dengan Sa’idah putri KH As’ad Pasuruan. Setelah pernikahan ini beliau setiap hari diberi rizki oleh Allah sebanyak Rp 3.000 mulai tahun 1983 hingga beliau menikah dengan puteri KH. Yasin Blitar.
Setelah pernikahan ini Syaikh Ahmad Jauhari Umar setiap hari diberi rizki oleh Allah SWT sebanyak Rp.11.000 sampai beliau dapat membangun masjid. Selesai membangun masjid, Syaikh Ahmad Jauhari Umar setiap hari diberi rizki oleh Allah sebanyak Rp. 25.000 hingga beliau membangun rumah dan Pondok Pesantren.
Setelah membangun rumah dan Pondok Pesantren, Syaikh Ahmad Jauhari Umar tiap hari diberi rizki oleh Allah SWT sebanyak Rp.35.000 hingga beliau ibadah haji yang kedua kalinya bersama putera beliau Abdul Halim dan isteri beliau Musalihatun pada tahun 1993.
Setelah beliau melaksanakan ibadah haji yang kedua kalinya pada tahun 1993, Syaikh Ahmad Jauhari Umar setiap hari diberi rizki oleh Allah sebanyak Rp 50.000 hingga tahun 1995 M.
Setelah Syaikh Ahmad Jauhari Umar melaksanakan ibadah haji yang ketiga kalinya bersama putera beliau Abdul Hamid dan Ali Khazim, Syaikh Ahmad Jauhari Umar setiap hari diberi rizki oleh Allah sebanyak Rp. 75.000 hingga tahun 1997.
Setelah Syaikh Ahmad Jauhari Umar menunaikan ibadah haji yang keempat kalinya pada tahun 1997 bersama putera beliau HM Sholahuddin, Syaikh Ahmad Jauhari Umar diberi rizki oleh Allah setiap hari Rp. 200.000 hingga tahun 2002.
Kemudian Syaikh Ahmad Jauhari Umar berangkat haji yang ke limakalinya bersama dua isteri dan satu menantu beliau, Syaikh Ahmad Jauhari Umar setiap hari diberi rizki oleh Allah SWT sebanyak Rp. 300.000 sampai tahun 2003.
Di Pasuruan, Syaikh Ahmad Jauhari Umar mendirikan Pondok Pesantren tepatnya di Desa Tanggulangin Kec. Kejayan Kab. Pasuruan yang diberi nama Pondok Pesantren Darussalam Tegalrejo.
Di desa tersebut Syaikh Ahmad Jauhari Umar diberi tanah oleh H Muhammad seluas 2.400 m2 kemudian H Muhammad dan putera beliau diberi tanah oleh Syaikh Ahmad Jauhari Umar seluas 4000m2 sebagai ganti tanah yang diberikan dahulu.
Sejak saat itu Syaikh Ahmad Jauhari Umar mulai membangun masjid dan madrasah bersama masyarakat pada tahun 1998. namun sayangnya sampai empat tahun pembangunan masjid tidak juga selesai. Akhirnya Syaikh Ahmad Jauhari Umar memutuskan masjid yang dibangun bersama masyarakat harus dirobohkan, demikian ini atas saran dan fatwa dari KH. Hasan Asy’ari Mangli Magelang Jawa Tengah (Mbah Mangli – almarhum), dan akhirnya Syaikh Ahmad Jauhari Umar membangun masjid lagi bersama santri pondok. AlhamduliLlah dalam waktu 111 hari selesailah pembangunan masjid tingkat tanpa bantuan masyarakat.
Kemudian madrasah-madrasah yang dibangun bersama masyarakat juga dirobohkan dan diganti dengan pembangunan pondok oleh santri-santri pondok
Maka mulailah Syaikh Ahmad Jauhari Umar mengajar mengaji dan mendidik anak-anak santri yang datang dari luar daerah pasuruan, hingga lama kelamaan santri beliau menjadi banyak.
Pernah suatu hari Syaikh Ahmad Jauhari Umar mengalami peristiwa yang ajaib yaitu didatangi oleh Syaikh Abi Syuja’ pengarang kitab Taqrib yang mendatangi beliau dan memberikan kitab taqrib dengan sampul berwarna kuning, dan kitab tersebut masih tersimpan hingga sekarang. Mulai saat itu banyak murid yang datang terlebih dari Jawa Tengah yang kemudian banyak menjadi kiyahi dan ulama.

Syekh Abdul Halim Khatib Al Mandaili (Sumatra Utara)



Syekh Abdul Halim Khatib Al Mandaili (Sumatra Utara)

========================
NAMA LENGKAP DAN TAHUN LAHIR
Nama beliau adalah al-Alim al-Faqih Syeikh Abdul Halim bin Ahmad Khatib al-Purbawi al-Mandili as-Sumatri as-Syafi`i al-Asy`ari. Beliau di lahirkan pada tahun 1899 Masehi. Dari kecilnya beliau memiliki sifat yang rajin dan ta`at beragama, ditambah lagi pengaruh lingkungan yang menjamin pertumbuhan anak-anak menuju kepada kesadaran akan arti pentingnya beragama, daerah Mandailing memang memiliki ulama-ulama besar yang sampai terdengar nama mereka di belahan dunia, didaerah inilah lahirnya Syeikh Abdul Qadir bin Sobir al-Mandaili, Syeikh Abdul Qadir bin Abdul Muthalib al-Mandaili, Syeikh Musthafa Husein al-Mandaili, sebab itulah tak heran jika Mandailing di juluki serambi Mekkahnya Sumatra Utara.
BELAJAR DI PURBA BARU
Setelah beranjak besar, Syeikh Abdul Halim dimasukkan oleh orang tuanya ke pondok pesantren Musthafawiyah di Purba Baru, di pondok ini beliau diasuh langsung oleh Syeikh Musthafa Husein Nasution yang merupakan ulama besar dan tersebut namanya didalam kitab "Jawahiru al-Hisan" karangan Syeikh Zakaria Bila al-Makki, asuhan dan keberkatan beliau merupakan salah satu sebab berhasilnya Syeikh Abdul Halim memahami ilmu agama, disamping itu beliau memiliki kerajinan yang besar untuk menuntut ilmu agama, kemana beliau pergi selalu membawa kitab untuk di baca, kewarakan dan kepintaran beliau membuat Syeikh Musthafa Husein bertambah senang dan cinta kepadanya, sehingga masyarakat Mandailing menyebutkan bahwa beliau adalah "Tuan Naposo" (tuan guru muda) sementara Syeikh Musthafa Husein di gelar dengan "Tuan Natobang" (tuan guru tua).
BERANGKAT KE MAKKAH
Seteleh berhasil menamatkan pelajarannya di pondok pesantren Musthafawiyah, datanglah keinginan beliau untuk menyambung pendidikannya ke Makkah al-Mukarramah, karena ketika itu banyak sekali orang-orang Indonesia khususnya dari daerah Mandailing yang melanjutkan pendidikannya ke Makkah Mukarromah, Allah pun memudahkan beliau untuk menuntut ilmu di tanah Haram, sehingga akhirnya beliau sampai ke tanah suci, melaksanakan haji dan ziarah ke makam Rasulullah s.a.w. di Madinah kemudian kembali ke Makkah untuk menuntut ilmu disana. Di Makkah banyak terdapat majlis-majlis pengajian terutama halaqah-halaqah pengajian di Masjid Haram, para syeikh-syeikh besar telah memiliki tempat khusus untuk mengajar murid-muridnya, di Masjid Haram juga banyak terdapat ulama-ulama Nusantara yang mengajar ilmu agama, terlebih lagi ketika itu Madrasah Solatiyah yang merupakan lembaga pendidikkan yang pertama sekali di Saudi Arabiya sedang mendapat perhatian yang besar sekali dari para pelajar, Raja Fahad bin Abdul Aziz mengatakan bahwa dia bangga karena di negaranya terdapat al-Azhar yang kedua yang memiliki sistem yang teratur, ini tidak terlepas dari usaha Syeikh Rahmatullah al-Hindi untuk membangun as-Solatiyah agar memiliki sistem seperti al-Azhar.
GURU-GURU BELIAU
Kesempatan emas ini tidak dibuang begitu saja oleh Syeikh Abdul Halim Khatib, waktunya terus di pergunakan untuk menuntut ilmu dan bermuzakarah, kesibukkan-kesibukkan duniawi beliau tinggalkan agar perhatiannya tertumpu kepada pengajian dan ilmu, teman-teman beliau pun ketika itu memiliki semangat yang sama, sehingga tidak mengherankan jika dahulunya banyak ulama-ulama Indonesia yang mengaji di Makkah mampu mengarang kitab-kitab besar dalam berbagai disiplin ilmu dengan menggunakan bahasa Arab, lihat saja seperti Syeikh Muhammad Nawawi al-Banteni, beliau digelar dengan "al-Allamah al-Hijaz" (orang yang teramat alim di negeri Hijaz - red), beliau memiliki karangan yang banyak dengan mengunakan bahasa Arab, Syeikh Muhammad Mahfuz bin Abdullah Tarmasi digelar dengan "Muhaddis" memiliki banyak karangan dengan bahasa Arab, Syeikh Ahmad Khatib al-Mankabawi juga memiliki buah karya dengan berbahasa Arab, dan banyak lagi ulama-ulama dahulu yang benar-benar menumpukan perhatiannya kepada pengajian di Makkah sehingga mampu duduk sama rata berdiri sama tinggi dengan para ulama-ulama yang berasal dari negeri Arab sendiri. Diantara guru-guru beliau adalah:
Syeikh Sayyid Abbas bin Abdul Aziz al-Maliki kakek Sayyid Muhammad bin Alawi bin Abbas al-Maliki - red), beliau merupakan ulama besar dan terkenal, kakek beliau berasal dari Maroko, kemudian keluarganya pindah ke Hijaz (Makkah - red).
Syeikh Qadhi Hasan Masaath al-Maliki al-Makki, beliau merupakan ulama besar yang alim, memiliki banyak hasil karya, disegani oleh pemerintah ketika itu.
Syeikh Muhammad Abdul Muhsin bin Muhammad Amin Ridhwan al-Madani, beliau di juluki Syeikh "Dala`ilul Khairat" di Madinah menggantikan kedudukan ayahandanya Syeikh Dala`ilul Khairat Sayyid Muhammad Amin Ridhwan.
Syeikh Abdul Qadir bin Sobir al-Mandaili al-Makki, merupakan ulama besar yang mengajar di Masjid Haram Makkah, dari beliau ini Syeikh Abdul Halim banyak mempelajari ilmu fiqih.
Syeikh Zakaria bin Abdullah Bila, merupakan ulama besar yang aktif didalam mengajar dan menulis, beliau lebih muda dari Syeikh Abdul Halim sepuluh tahun, menceritakan kepada kami maha guru kami Syeikh Ibrahim Zannun Lubis al-Mandaili bahwa Syeikh Abdul Halim pernah menuntut ilmu dari Syekh Zakaria, dan Syeikh Zakaria memuji Syeikh Abdul Halim dengan sebutan beliau adalah orang yang wara`, Syeikh Zakaria ini merupakan orang Jawi (Nusantara -red) yang paling fasih dalam berbahasa Arab sebagaimana yang ditutur oleh Syeikh kami Muhaddis masa kini Syeikh Mahmud Said Mamduh al-Qahiri.
PULANG KE TANAH AIR DAN MENEBARKAN ILMU
Akhirnya ibu pertiwipun memanggil beliau untuk kembali menebarkan ilmunya di kampung halaman, dengan rasa suka cita beliau meniggalkan tanah Haram yang penuh dengan keberkatan, akhirnya Musthafawiyah tempat beliau mengembangkan ilmunya, kegigihan dan keikhlasannya membuat para guru dan murid sangat mencintai beliau, sehingga pada akhirnya beliau diangkat menjadi Ro`isul Mu`allimin (kepala sekolah -red), kehidupan beliau hanya dihabiskan untuk mendidik bangsa dan ummat sehingga sampai lanjut usia, ilmu beliau memang sangat luas, sehingga menjadi rujukkan masyarakat Mandailing dan sekitarnya, beliau memiliki banyak kefakaran, tetapi lebih cendrung kepada ilmu fiqih dan tasawuf, tasawufnya mengalir didalam amalannya sehari-hari, kewara`annya sebagai bukti kuatnya beliau memegang tali-tali syari`at.
WAFATNYA BELIAU
Setelah menghabiskan masa dan umurnya untuk menyampaikan ilmu kepada umat, sehingga beliau lanjut usia dan tak berdaya dipapah dan di dorong dengan kursi roda, sampai akhirnya beliau menutup mata memenuhi panggilan Allah yang maha kuasa pada 21 Januari 1992 Masehi, menutup usia 93 tahun, ummat menangis, para pelajar menjadi sedih, para ulama merasa kehilangan seorang figur yang mereka jadikan panutan, tanah Mandailing kehilangan putranya yang terbaik, seorang ulama kharismatik tumpuan ummat dan bangsa, memiliki karomah yang nyata, memiliki kehidupan yang sederhana, ribuan orang ikut menyembahyangkan dan mengiringi jenazah beliau, untuk di kuburkan di tempat peristirahatan terakhir, disebelah gurunya yang telah lama meninggalkannya berhampiran dengan makan pendiri Musthafawiyah Syeikh Musthafa Husein di Purba Baru.
____________________________

Kamis, 17 Maret 2016

MANAQIB Syekh Abdurrahman Shiddiq Al-Banjari Sapat Indra Giri




Syekh Abdurrahman Shiddiq Al-Banjari Sapat Indra Giri

Syekh Abdurrahman Shiddq Al-Banjari Sapat Indra Giri dilahirkan ditahun 1857 M,di desa Dalam Pagar martapura kalimantan Selatan,beliau lahir di akhir masa pemerintahan Sultan Adam Al-Watsiq billah bin sultan Sulaiman Al-Mu'tamidillah,ayah beliau adalah Syekh Muhammad Afif (Datu Landak)bin Anang Mahmud bin H.Jamaluddin bin Kyai Dipasunda bin Pardi (Pangeran Diponogoro),sedang ibunya adalah Syafura binti Mufti H.Muhammad Arsyad Lamak Pagatan bin Mufti H.Muhammad As'ad putra Syarifah binti Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari,ketika beliau berusia 3 bulan ibunya meninggal dunia dan kemudian diasuh oleh saudari ibunya yang bernama Sa'idah,didalam asuhan bibinya dan juga nenek kakeknya (Syekh Muhammad Arsyad Lamak),kakeknya ini meinggal ketika usianya baru sekitar satu tahun dan mulai saat itu hingga dewasa beliau diasuh oleh neneknya yang bernama Ummu Salamah,neneknya ini adalah seorang perempuan sholeh yang berilmu pengetahuan dan suka beribadah, maka dalam pemeliharaannya itu Abdurrahman kecil di didik serta diajari membaca Al-Qur'an,kemudian setelah dewasa barulah beliau disuruh belajar ilmu agama ke Dalam Pagar Martapura,guru guru beliau di Dalam Pagar antara lain

- KH. Muhammad Said Wali

- KH. Muhammad Khatib

- KH. Abdurrahman Muda

setelah sekian lama belajar dikampung halaman maka beliau berkeinginan menuntut ilmu ketanah suci,menurut riwayat sebelum beliau pergi ke Tanah Suci Mekkah beliau berdagang emas perak dan permata hingga keluar daerah hingga ke Pulau Bangka,Sumatera Selatan,padang Sumatera Barat,setelah dirasa cukup oleh beliau untuk melaksanakan cita cita beliau menuntut ilmu ke Tanah Suci dengan ijin dari orang tua dan keluarganya akhirnya pada tahun 1887 M beliau berangkat ke Tanah Suci Mekkah, diantara guru guru beliau di Mekkah adalah

- Sayyid Bakri Syatha

- Sayyid Ahmad Zaini Dahlan

- Syekh Muhammad Sa'id Ba Bashil

- Syekh Nawawi Al-Bantani

beliau bermukim di Mekkah sekitar 7 tahun,5 tahun belajar ilmu agama 2 tahunnya beliau mengajar (tawliah)di Masjidil Haram,dan pada waktu disana lah salah satu gurunya menambahkan nama dibelakang dengan Ash-Shiddiq,dalam salah satu riwayat beliau pulang ke kampung pada tahun 1894 M setelah mendapatkan ijin dari guru guru beliau,beliau pulang ke Indonesia dengan salah satu sahabatnya di Mekkah yaitu Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi,setelah sampai di Batavia mereka berpisah menuju daerah masing masing,kedatangan Syekh Abdurrahman Shiddiq disambut dengan sangat meriah oleh masyarakat dan sanak kerabat beliau,walaupun ada sedikit kesedihan karena orang yang selama ini mengasuh beliau yaitu neneknya telah berpulang ke Rahmatullah waktu beliau masih menuntut ilmu di Mekkah,dan setelah setahun beliau berada di Martapura Kalimantan Selatan beliau pindah ke Sumatera bersama keluarganya.

Indra Giri adalah sebuah kerajaan yang terletak di kepulauan Riau (sumatera) dulu ke Sultanan nya dibawah Sultan Kerajaan Johor Malaysia,disini lah beliau memilih tinggal di sebuah kampung yang bernama Sapat,dikampung ini beliau membuka lahan pertanian dan perkebunan serta membuat irigasi untuk pengairan sawah sawah,dengan demikian banyaklah orang orang berpindah kekampung ini dan akhirnya ramailah kampung tersebut dan ramailah penduduknya,namun hal ini tidaklah melupakan beliau untuk mengajarkan ilmu ilmunya kepada masyarakat setempat hingga masyhur lah nama beliau kesegenap pelusuk negri,hingga pada suatu hari datanglah utusan dari Istana Kerajaan Negri Indra Giri menemuinya untuk menyampaikan undangan dari Sultan Mahmud Syah supaya beliau berkunjung ke Istana Kerajaan,pada saat pertemuan mereka Sultan meminta beliau supaya mau menjadi Mufti Kerajaan Indera Giri karena keluasan ilmu beliau,pada mulanya beliau menolak,memang sebelum nya iya juga pernah ditawarkan jabatan Mufti oleh gurunya yaitu oleh Habib Utsman bin Yahya Betawi Jakarta yang pada saat itu menjabat sebagai Mufti,tapi tawaran itu beliau tolak dengan halus,adapun di Indera Giri Sultan Mahmud Syah berulang kali mengharap beliau agar menerima tawaran itu,semula ia menolak tapi setelah Sultan memohon dengan berdasarkan kepentingan umat akhirnya beliau menyetujuinya.disamping mengajar dan berdakwah beliau sempat pula mengarang berbagai macam kitab seperti kitab Tauhid,Fiqih,Tasawuf serta kitab kitab lainnya yang berkaitan dengan agama,diantara karangan beliau adalah:

1.Aqa'idul Iman

2.Fathul Alim

3.Amal Ma'rifat

4.Maw'izha lin Nafsi

5.Majmu'ul Ayat wal Hadits

6.Takmilah Qawlul Mukhtashar

7.Asrarus Shalah

8.Kumpulan Khutbah Jum'ad dan Dua Hari Raya

9.Bay'ul Hayawan lil Kafirin

10.Kitabul Fara'idh

11.syair Ibarat Khabar Kiamat

12.Syajarah al-Arsyadiyyah

13.Pelajaran Agama Islam Untuk Anak-Anak

menurut salah seorang keturunannya,selama Syekh Abdurrahman Shiddiq menjabat sebagai Mufti beliau tidak pernah menggunakan gaji jabatannya untuk dirinya,gaji tersebut beliau bagi bagikan kepada orang orang yang memerlukannya,adapun untuk biaya hidup sekeluarga beliau dapat dari hasil kebun dan pertanian beliau sendiri,bahkan dari hasil itu banyak murid murid yang beliau tanggung biaya hidupnya,setelah sekian lama beliau bermukim di Sapat Indera giri,maka terakhir kali ia datang ke Martapura Kalimantan Selatan untuk ziarah ke makam datuknya Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari,tak berapa lama setelah kembali ke Sapat Indera Giri beliau pun jatuh sakit,maka pada hari senin tanggal 4 Sya'ban 1356 H ,bertepatan dengan tanggal 10 Maret 1939 M roh nya yang mulia kembali ke Rahmatullah dalam usia 82 tahun,jasadnya dimakamkan di kampung Hidayat Sapat Indera Giri.

Kepergian beliau ke Hadirat Sang Khaliq membawa amal bakti yang tak ternilai harganya,karena dimasa hidupnya yang hanya menuntut ilmu dan beribadah serta mengajak orang orang ke jalan Allah SWT. Subhanallah ...mudah mudahan kita semua dikumpulkan dengan orang orang sholeh di akhirat nanti...amiin Ya Robbal Alamin...cukup sekian yang saya sampai kan,kalau ada kekurangan atau atau kesalahan dalam penulisan riwayat ini alfaqir mohon maaf ampun sebesar besarnya wabillahi taufik wal hidayah assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Sumber : - Riwayat Singkat syekh H.Abdurrahman Shiddiq mufti Indera Giri (Anis Syihab AM)

- Ulama Berpengaruh Kalimantan Selatan

Tulisan diambil di Halaman Kisah Para Datu dan Ulama Kalimantan
http://www.resepkuekeringku.com/2014/11/resep-donat-empuk-ala-dunkin-donut.html http://www.resepkuekeringku.com/2015/03/resep-kue-cubit-coklat-enak-dan-sederhana.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/10/resep-donat-kentang-empuk-lembut-dan-enak.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/07/resep-es-krim-goreng-coklat-kriuk-mudah-dan-sederhana-dengan-saus-strawberry.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/06/resep-kue-es-krim-goreng-enak-dan-mudah.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/09/resep-bolu-karamel-panggang-sarang-semut-lembut.html